Langsung ke konten utama

Spirit, Menemukan Semangat yang Hilang



Spirit. Film ini dikenalkan empat tahun lalu oleh salah seorang sahabat terbaik gue yang sekarang tinggal di Ciamis. Gue tonton bareng sahabat gue itu. Hasilnya menangin hati banget :’). Kedua kali gue tonton sendiri di kosan dan masih menangin hati gue (lagi). Terus sampai sekarang entah berapa kali gue udah tonton film tersebut. Kadang, kalau sabtu-minggu libur, gue akan memprioritaskan menonton film ini walaupun gue punya cukup banyak film untuk ditonton. Film ini candu banget soalnya buat charge semangat. Seperti judulnya SPIRIT Stallion of Cameron.
Film ini pertama kali release tahun 2002 (gue kelas 4 atau 5 SD). Dulu mana peduli gue sama esensi sebuah film. Begitu ada film kartun tayang ya di tonton aja. Tapi syukurnya ingatan gue masih berfungsi baik untuk mengenang kalau gue pernah nonton film ini waktu gue SD. Oh ya, film ini produksi Dreamworks.Secara garis besar, film ini menceritakan perjalanan seekor Mustang pada abad 19. Jalan cerita secara keseluruhan dengan lagu yang dibawakan paman Bryan Adams adalah kombinasi yang gak ngebosenin.
Cerita di awali dengan penggambaran setting alam bebas yang menjadi tempat kelahirannya Mustang kecil. Ada sungai mengalir, gunung, elang dan segala macamnya. Terus ada backsoundnya~
(Paman Bryan nyanyi – This is where I belong)

I hear the wind across the plain | A sound so strong – that calls my name | It’s wild like the river – it’s   warm like the sun | Ya it’s here – this is where I belong (Bait 1) 
Under the starry skies – where eagles have flown | This place is paradise – it’s the place I call home  | The moon on the mountains | The whisper through the trees  | The waves on the water  | Let nothing come between this and me (Bait 2) 
Cause everything I want – is everything that’s here | And when we’re all togetherthere’s nothing to fear | And wherever I wanderthe one thing I’ve learned  | It’s to hereI will always….always return (Bait 3)
 
Well, dari lagu ini ada beberapa hal yang gue maknai :’) 
1. Bait 1  dan 2 lagu, mengingatkan gue akan kekayaan alam Indonesia, mengingatkan gue sama beberapa perjalanan yang sudah gue lakukan sendiri atau dengan orang lain. Yeaa, Indonesia selalu keren. Banten, Bogor, Banyuwangi, Sragen, Solo, Yogjakarta, Lampung, Semarang, Jakarta, Klaten, Bali, Malang. Salah satu mimpi gue adalah gak pernah berhenti keliling Indonesia. 
2. Bait 3 menjadikan gue berani mimpi untuk menuntut ilmu di belahan negara lain. Kalau kesampaian pasti gue bakal kangen banget kali ya sama Indonesia. Semua ada di sini. Di Indonesia. Selain itu, bait lagu ini menyindir gue akan pentingnya Ukhuwah. Kalau kita sama-sama, kita gak perlu takut apapun. Refleksi ukhuwah kita selama ini dengan sesama Muslim lainnya. Mengingatkan gue juga sama persaudaraan di Pramuka dan Pecinta Alam URaL 28. Terakhir, kemanapun kaki ini menjejak, rumah adalah sebaik-baiknya tempat kembali. Semua kembali ke titik nol, darimana kita berasal. Kalau dimaknai lebih jauh lagi, maka penggalan kalimat terakhir di bait ketiga ini mengingatkan kita akan tempat setiap manusia akan kembali. Allah (lagi) Allah terus Allah selamanya.   
3. Lagu ini mengingatkan gue akan kota yang mendapat julukan the sunrise of Java yang gue kunjungi Januari lalu. Lagu ini gue nyanyiin dan gue puter terus di MP4 dalam perjalanan pulang dari rumah temen gue sampe gue udah di atas kereta Sri Tanjung. Asli itu kota masih hijau banget seems like Malang, tapi lebih keren dan belum banyak orang yang tau (termasuk gue waktu itu). Cerita selengkapnya soal kota ini tunggu aja di posting berikutnya.


Selanjutnya, lahirlah si Mustang kecil. Terlihat perjuangan dan kasih sayang si Ibu Mustang saat melahirkan si Mustang. Kemudian, Paman Bryan menyanyikan lagu berikutnya. Kali ini judulnya “Here I am”
Here I am - this is me | There's no where else on earth I'd rather be | Here I am - it's just me and you | And tonight we make our dreams come true
It's a new world - it's a new start | It's alive with the beating of young hearts | It's a new day - it's a new plan | I've been waiting for you
| Here I am
Here we are - we've just begun | And after all this time - our time has come | Ya here we are - still goin' strong | Right here in the place where we belong

Sumber Gambar

Menurut gue, Youth! Ialah kata yang menggambarkan lagu ini. It’s alive with the beating of young hearts. Kata bang Rhoma “masa muda masa yang berapi-api”. Secara psikologis pemuda sering dimaknai sebagai sosok yang keakuannya tinggi, idealis, menggebu-gebu, ingin bebas. Ya, bebaslah! Dalam batasan Tuhan pastinya *senyum*. Masa penemuan jati diri. Di film, waktu adegan lagu ini, Mustang sedang berlari dengan kawanan Mustang lainnya, ia bertingkah nakal menggemaskan. Khas pemuda kan? Dengar lagu ini gue jadi ingat betul masa-masa SMA. Belajar jadi pemimpin, belajar bersosialisasi, mengenal banyak kebudayaan dan segala macamnya. Ini gue! Ini kita! Begitulah pemuda. Generasi penerus peradaban. Akan tiba masa saat kita berani mengambil peran lebih untuk bangsa ini. Merawatnya dengan lebih baik. Merawat Indonesia. Tempat dimana kami tumbuh, berkembang, bermimpi, dan mewujudkannya. Bersama-sama. Yeah
Sumber Gambar
Kisah pun berlanjut, Mustang remaja melindungi anak-anak Mustang dari terkaman Macan. Ia berkelana sampai pada akhirnya ia ditangkap oleh sekelompok tentara. Namun, sang Mustang bukan Mustang biasa alias (BMB). Dengan gigihnya ia berusaha melepaskan diri dari jeratan tentara sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan anak Indian yang sama gigihnya dengan si Mustang. Mereka berhasil melepaskan diri dari kelompok tentara.
Mustang tangguh dibawa oleh orang Indian ke kampungnya. Disana ia menemukan Mustang wanita. Dalam film ini bahkan gue jadi sadar bahwa wanita itu bisa meluluhkan hati pria setangguh apapun dirinya. (Duile bahasa gue haha). Mustang pria dan wanita sering menghabiskan waktu bersama. Ceritanya mereka jatuh cinta satu sama lain gitu. Suatu hari Mustang pria berhasil mengambil satu buah apel kemudian diberikan ke Mustang wanita. Kemudian apel tersebut dibagi dua oleh Mustang wanita (romantisme dunia per-Mustangan begini kali ye). Nah, sepulangnya dari adegan tersebut, tiba-tiba negara api datang! Bukan-bukan negara api, tapi sekelompok tentara yang membakar perkampungan Indian. Berlarilah si Mustang wanita, tapi sayang ia hanyut di sungai. Sebagai pejantan tangguh tentu saja Mustang pria berusaha menyelamatkan Mustang wanitanya (aih), namun apa daya mereka malah hanyut dua-duanya terbawa arus sampai ke hilir.
Scene selanjutnya Mustang betina tidak sadarkan diri dan Mustang jantan sedih bukan kepalang. Belum sempat ia melihat kekasihnya bangun dari pingsannya (tsaah) tetiba kelompok tentara sudah menemukan (lagi) Mustang jantan. Dengan berat hati Mustang jantan meninggalkan Mustang betinanya. Kalau gue jadi temennya Mustang, gue bakal bilang gini ke Mustang jantan “Tenang, bro. Kalau jodoh gak lari kemana” (uhuk) (puk-puk).
Kalau orang sedang dilanda cinta, berpisah dengan orang yang dicintainya menjadi sebuah kesengsaraan. Bukan begitu? Begitulah sekiranya yang dialami oleh Mustang jantan. Ia jauh dari keluarganya alias kawanan Mustang lainnya terutama sang Ibunda. Belum lagi, baru sejenak bersama kekasih namun harus berpisah. Mari kita bersimpati sejenak untuk sang Mustang. Dalam adegan Mustang yang sedang lemah, lesu, tidak bersemangat ini paman Bryan bersenandung lagi, kali ini judulnya Sound the bugle 


Sound the bugle now - play it just for me | As the seasons change - remember how I used to be |  Now I can't go on - I can't even start | I've got nothing left - just an empty heart
I'm a soldier - wounded so I must give up the fight | There's nothing more for me - lead me away... | Or leave me lying here
Sound the bugle now - tell them I don't care | There's not a road I know - that leads to anywhere |
Without a light I fear that I will - stumble in the dark |  Lay right down - decide not to go on
Then from on high - somewhere in the distance | There's a voice that calls - remember who you are | If you lose yourself - your courage soon will follow  | So be strong tonight - remember who you are
Yeah you're a soldier now - fighting in a battle
Sumber Gambar


Baiklah, lirik lagu ini membuat gue menitikkan air mata. Pernahkah kalian merasa lelah selelah-lelahnya dengan kehidupan? Melihat segala sesuatu tapi mati rasa. Tidak peduli. Kosong. Tahukah? Bahwa setiap ruang kosong selalu ke Atas. Di akhir lirik dikatakan bahwa kita harus mengingat siapa diri kita. Gue jadi ingat kata-kata Sayyidina Ali “Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Rabbnya (Tuhannya)”. Begitulah. Maka, sebagai seorang Muslim. Sudah sepantasnya kita menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Lelah ini sebentar saja begitu kata bang Ipang. Sebagai seorang prajurit, hidup hanya sekedar mampir, sebatas arena pertandingan. Ya, bertanding melawan diri sendiri dari rasa takut, rasa malas dan segala macamnya. So, be strong Captain. Bersungguh-sungguh untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya.

Diakhir cerita, Mustang bangkit dari rasa sedihnya dan kampung halamanlah yang menjadikan ia kuat dan “kembali hidup”. Kecintaan akan kampung halamannya yang menjadikan ia berjuang agar kelompok tentara tidak berhasil membawa kereta api yang diangkut dengan tenaga kuda-kuda  dan si Mustang menuju kampung halamannya. Seekor Mustang saja memiliki semangat kenegarawanan, bagaimana dengan kita? dan pada akhirnya, setelah berlelah-lelah menahan rindu akan kampung halaman dan kekasih yang dicintainya. Mustang jantan kembali pulang bahkan bersama-sama dengan Mustang betina. Ini baru sebuah kisah seorang sutradara film, skenario buatan manusia. Bagaimana dengan sutradara kehidupan kita? Pemilik kesejatian skenario semesta. Dahsyat. Gue gak habis pikir kalau masih ada orang yang tidak mengakui adanya Tuhan. Ya, gue pikir memang benar. Hidayah itu dijemput, sebab Allah turunkan hidayah berbanyak jumlah setiap harinya, tinggal mau membuka hati atau tidak.
Kemudian film ditutup syahdu dengan suara pama Bryan (lagi). I Will Always Return
  

I hear the wind call my name | The sound that leads me home again | It sparks up the fire - a flame that still burns | To you I will always return
I know the road is long but where you are is home | Wherever you stay - I'll find the way | I'll run like the river, I'll follow the sun | I'll fly like an eagle to where I belong

I can't stand the distance - I can't dream alone | I can't wait to see you - Yes I'm on my way home

Now I know it's true | My every road leads to you | And in the hour of darkness | Your light gets me through
You run like the river - you shine like the sun | You fly like an eagle | You are the one | I've seen every sunset | And with all that I've learned | Oh, it's to you I will always, always return
 
To you i’ll always return, to You i’ll always return. Ya, hanya kepada keluarga sebaik-baiknya tempat kita kembali. Kepada Ibu Pertiwi. Indonesia. Selanjutnya hanya kepada Allah semua manusia juga akan kembali kan. Yess i know You it’s true, my every road leads to You, Your lights gets me through. Coba tanya dengan pengembara sejati, kemana mereka akan kembali. Tontonlah Into the Wild, 2012, atau baca saja Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Semua dari nol, kembali kepada penggenggam “yang kosong”. Ternyata hanya beginilah hidup. Oke, sekali lagi gue bilang film ini benar-benar candu semangat. Seperti judulnya. Bahkan menurut gue, sebenarnya kita bisa mencari semangat dari apapun, dari yang Maha Bersemangat, dari semesta (awan, langit, hujan dan semacamnya), dari Ayah, Ibu, Kakak, Sahabat. Maka nikmat Tuhan manalagi yang terdustakan.  
  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...