Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...

Alarm (Sebuah Renungan)

Setiap satu bulan sekali ada agenda Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN) di kampus. Biasanya peserta akan diminta datang selepas sholat Isya. Sekitar pukul 20.00 akan dimulai sesi talkshow dengan pemateri dan tema yang keren. Acara dilanjutkan dengan naumul lail atau tidur malam. Biasanya jam 03.00 dini hari setiap peserta akan dibangunkan oleh panitia untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat tahajud berjamaah. Nah, ada yang menarik di antara pukul 02.00 – 04.00 dini hari itu. Dalam dua jam, ada banyak sekali alarm handphone yang berbunyi. Silih berganti. Pokoknya berisik sekali. Kecenderungan manusia saat menyalakan alarm adalah mengatur alarm agar bisa berdering beberapa kali. Dering pertama dimatikan, lima menit kemudian akan terdengar dering kedua dan seterusnya. Jika akhirnya bangun, maka itu anugerah, jika pulas tertidur maka itu adalah bonus (lah?). Yang bikin kesalnya lagi jika alarm itu masih berbunyi saat shalat tahajud berjamaah sudah dimulai. Rasanya pengen n...

Sebuah Tanya (?)

Pertanyaan itu muncul lagi. Pertanyaan sederhana dari seorang sahabat. “Apa kamu pernah merasa Bapak (seperti) masih ada?” Kemudian ia melanjutkan begini, “aku cuma berpikir betapa kehilangan itu adalah penyadar kehidupan. Cara mengingatkan bahwa kehidupan ini fana adalah melalui kematian. Cuma apakah mudah memahaminya jika kita telah merasa memiliki? Disini mungkin ujian cinta itu ya… Aku masih belum paham, maksudnya bagaimana dalam satu waktu mencintai dan merelakan, memiliki dan kehilangan, begitu… __________________________ Hmm, adakalanya aku (seperti) masih merasakan keberadaannya. Bukan secara fisik. Bukan juga pengandaian yang kulakukan agar raganya masih membersamai. Tapi aku merasakan semangat, senyum, nasihat, tekad, dan perjuangannya. Seperti yang pernah ku tulis sebelumnya, aku bisa merasakannya hanya dengan memejamkan mata. Atau… Aku bisa merasakannya hanya dengan sekelebat aroma nasi goreng yang kuhirup. Rasanya seperti waktu ia menyajikan sepiring n...