Pertanyaan itu muncul lagi. Pertanyaan
sederhana dari seorang sahabat.
“Apa kamu pernah merasa Bapak (seperti)
masih ada?”
Kemudian ia melanjutkan begini, “aku
cuma berpikir betapa kehilangan itu adalah penyadar kehidupan. Cara
mengingatkan bahwa kehidupan ini fana adalah melalui kematian. Cuma apakah
mudah memahaminya jika kita telah merasa memiliki? Disini mungkin ujian cinta
itu ya… Aku masih belum paham, maksudnya bagaimana dalam satu waktu mencintai
dan merelakan, memiliki dan kehilangan, begitu…
__________________________
Hmm, adakalanya aku (seperti) masih
merasakan keberadaannya. Bukan secara fisik. Bukan juga pengandaian yang
kulakukan agar raganya masih membersamai. Tapi aku merasakan semangat, senyum,
nasihat, tekad, dan perjuangannya. Seperti yang pernah ku tulis sebelumnya, aku
bisa merasakannya hanya dengan memejamkan mata.
Atau… Aku bisa merasakannya hanya dengan
sekelebat aroma nasi goreng yang kuhirup. Rasanya seperti waktu ia menyajikan
sepiring nasi goreng hangat khusus untukku. Hmm… juga saat melihat seorang anak
yang berjalan beriringan dengan ayahnya dan tangan sang Ayah merangkul
pundaknya. Hanya butuh memejamkan mata sejenak, merasakan sepoi angin, dan aku
bisa menyunggingkan senyum itu, senyum simpul setiap mengingat tangan kokoh itu
merangkul pundakku, membelai kepalaku, bahkan meledekku dengan seringai bahwa
ia akan menciumku dan aku menghindarinya.
Kematian itu memberikan kamus kehidupan
baru bagiku. Meski aku masih harus menghimpun banyak makna lainnya yang berserakan.
Mencintai dan merelakan, memiliki dan
kehilangan, terik dan hujan, kesulitan dan kemudahan, bahagia dan sedih,
semuanya itu paket. Saling berkelindan. Dan bukankah demikian hakikat keimanan?
melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Satu paket komplit, tak bisa
melaksanakan salah satunya saja, tapi bersamaan menaati kedua-duanya.
Maka, apakah akan lebih mudah
memahaminya jika kita telah merasa memiliki atau justru sebaliknya?
Lindungi hati kami, Rabb… Lindungi hati
kami dengan perlindungan terbaik sampai kami benar-benar memahami setiap maknanya,
seutuhnya…
Komentar
Posting Komentar