Jalanan cukup lengang. Bus melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan sebuah kota. Seorang perempuan duduk di salah satu bangku bus, menatap langit berwarna jingga dari jendela yang berada di dekatnya. Ia menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan desahan yang berat. Pikirnya jauh mengembara pada rumah yang baru saja ditinggalkannya. Pertanyaan itu muncul lagi, “Berapa lama aku sanggup meninggalkan mereka?” batinnya. Satu bulan? Dua bulan? Hahaha. Tiga bulan adalah waktu maksimal untuknya bertahan tanpa mereka yang dikasihi. “Sebegitu lemahnya kah diri ini? Bahkan teman-teman lain ada yang mampu bertahan satu tahun untuk tidak bertemu keluarganya” batinnya lagi. Meninggalkan rumah adalah hal terberat yang harus dilakukannya, atau sebenarnya menjadi perjalanan terberat yang akan dilakukan oleh setiap perempuan. Ia seringkali takjub pada perempuan yang bisa pergi jauh dari rumahnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Terlebih pada seorang Ibu yang meninggalkan anak-a...
Menghimpun Hikmah yang Terserak