Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Perjalanan Terberat Perempuan

Jalanan cukup lengang. Bus melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan sebuah kota. Seorang perempuan duduk di salah satu bangku bus, menatap langit berwarna jingga dari jendela yang berada di dekatnya. Ia menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan desahan yang berat. Pikirnya jauh mengembara pada rumah yang baru saja ditinggalkannya. Pertanyaan itu muncul lagi, “Berapa lama aku sanggup meninggalkan mereka?” batinnya. Satu bulan? Dua bulan? Hahaha. Tiga bulan adalah waktu maksimal untuknya bertahan tanpa mereka yang dikasihi. “Sebegitu lemahnya kah diri ini? Bahkan teman-teman lain ada yang mampu bertahan satu tahun untuk tidak bertemu keluarganya” batinnya lagi. Meninggalkan rumah adalah hal terberat yang harus dilakukannya, atau sebenarnya menjadi perjalanan terberat yang akan dilakukan oleh setiap perempuan. Ia seringkali takjub pada perempuan yang bisa pergi jauh dari rumahnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Terlebih pada seorang Ibu yang meninggalkan anak-a...

#2 Serial Penjaga Merah Putih : Nehan

Januari 2016, sekolah ingin ikut lomba pildacil. Dibuatlah seleksi kecil-kecilan untuk mencari anak-anak berbakat dan semangat untuk ikut lomba. Tersebutlah Bita dan Nehan. Pertama kali latihan, mereka masih banyak belum hafal teks ceramah yang dibagikan oleh Pak guru. Guru-guru agak ragu, sebab tahun lalu kandidat terpilih malah nangis di atas podium sesaat sebelum gilirannya tampil. Alhasil, belum sepatah kata pun diucapkan, anak langsung turun podium. Ngebayangin anaknya nangis, lucu juga sih . Eheheh. Pertemuan kedua. Bita suda hafal teks ceramah. Alhamdulillah. Sedangkan Nehan baru saja mengucapkan “Kepada dewan juri, guru-guru, serta teman-teman ku yang kucintai” tiba-tiba diam dan melirik panik ke arah Pak Guru. Ia lupa teksnya. Dengan terbata-bata, Nehan menyelesaikan ceramahnya dengan berkali-kali diingatkan tentang bagian teks yang ia lupa. Pertemuan selanjutnya, Nehan sudah hafal hampir seluruh isi teks ceramah. Hingga di pertemuan kelima Nehan berhasil mengingat isi t...

#Serial Penjaga Merah Putih : Arshya

Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah, dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi. Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya. Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D. Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik” dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata...

Cantik

Perempuan mana yang tidak suka dibilang cantik? Hanya dengan satu kata, perempuan rela untuk facial sebulan sekali, perawatan seharga ratusan ribu rupiah, dandan lama-lama di depan kaca, koleksi model pakaian baru ke dalam lemari, bahkan operasi plastik agar hidung yang pesek jadi mancung menggemaskan. Bu Nuk (panggilan kesayangan para penerima manfaat beastudi Indonesia untuk Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa) pernah bilang, “Perempuan, kalau di usia 20 tahun ke atas masih sibuk mikirin fisiknya. Kenapa kulit saya hitam? Kenapa saya jerawatan, kenapa hidung saya pesek, dipastikan dia belum selesai dengan urusan dirinya sendiri.” Kalau belum selesai diri sendiri, gimana mau bangun keluarga, apalagi masyarakatnya? Dulu waktu duduk di bangku SMA, saya dan adik sering nemenin Ibu keliling jualan atau sekedar nagih utang ke rumah-rumah pelanggan. Beberapa diantara mereka ada yang bilang, “Anaknya ayuk ayam, cantik-cantik ya”. Kami tersipu-sipu dikatakan demikian. Namun, Ibu sel...