Langsung ke konten utama

Cantik

Perempuan mana yang tidak suka dibilang cantik?
Hanya dengan satu kata, perempuan rela untuk facial sebulan sekali, perawatan seharga ratusan ribu rupiah, dandan lama-lama di depan kaca, koleksi model pakaian baru ke dalam lemari, bahkan operasi plastik agar hidung yang pesek jadi mancung menggemaskan.

Bu Nuk (panggilan kesayangan para penerima manfaat beastudi Indonesia untuk Direktur Pendidikan Dompet Dhuafa) pernah bilang, “Perempuan, kalau di usia 20 tahun ke atas masih sibuk mikirin fisiknya. Kenapa kulit saya hitam? Kenapa saya jerawatan, kenapa hidung saya pesek, dipastikan dia belum selesai dengan urusan dirinya sendiri.” Kalau belum selesai diri sendiri, gimana mau bangun keluarga, apalagi masyarakatnya?

Dulu waktu duduk di bangku SMA, saya dan adik sering nemenin Ibu keliling jualan atau sekedar nagih utang ke rumah-rumah pelanggan. Beberapa diantara mereka ada yang bilang, “Anaknya ayuk ayam, cantik-cantik ya”. Kami tersipu-sipu dikatakan demikian. Namun, Ibu selalu menjawab, “Alhamdulillah, ya setiap anak perempuan itu kan cantik, Bu. Kalau anak laki-laki ya semua ganteng”. Saat itu, saya pernah berpikir apa Ibu tidak bangga ya, kalau anak perempuannya dikatakan demikian? Ternyata hari ini saya baru paham bahwa dulu Ibu sedang mendidik kami agar tidak terlena dengan kata cantik yang dimaknakan hanya sebatas yang zahir dalam penglihatan manusia. Lebih dari itu, Ibu sedang mendidik kami untuk mampu mengendalikan diri dari pujian orang lain. Sebab kebanyakan pujian itu berisi tentang sesuatu yang kadang tidak benar-benar manusia miliki, sedangkan celaan itulah yang nyata seorang manusia punya. Bukankah hanya Allah yang pantas di puji?

Setiap perempuan itu cantik tanpa pengecualian.
Begitupun para laki-laki, mereka semua tampan.
Jadi, modal cantik dan tampan secara zahir yang Allah berikan sudah sama kadarnya. Hanya tinggal menularkan pancarannya itu dengan kekuatan akhlak dari dalam diri.

Well, lagu cibi-cibian itu ada benarnya kok. “Kamu cantik, cantik dari hatimu...”
Hehehehe





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...