Arshya namanya. Kedua temannya yang lain bernama Salim
dan Ibra. Takdir bertemu ketiga anak ganteng ini di salah satu sekolah inklusi
kota Surakarta. Ada dua percakapan menarik dengan Arshya. Pertama, saat Ibra
bilang, “Bu, aku udah di sunat dong.” Kemudian Arshya menjawab, “Aku juga udah,
dan aku tidak menangis, aku kuat. Memangnya kamu. Menangis. Hayo ngaku!” kata
Arshya ke arah Ibra dengan intonasi suara yang agak tinggi.
Arshya melanjutkan bicara, “Iya bu, aku kemarin di
sunat dan aku tidak menangis.” kali ini Arshya bicara sambil menggerakkan jari
telunjukkan ke bagian lengan atas tangan kirinya.
Seketika itu juga saya tertawa. Sunat yang dimaksud
Arshya adalah suntik imunisasi yang kemarin baru saja diadakan di sekolah :D.
Percakapan kedua. Arshya, Salim, dan Ibra sedang
bermain bersama. Secara tiba-tiba Salim mengucapkan kata-kata yang “tidak baik”
dari lisannya. Arshya pun berkata pada Salim, “Kamu harus minta maaf, atau kamu
nanti masuk neraka. Mau masuk neraka?” kata Arshya pada Salim.
“Kamu tahu api, gak? Tau gak?”, kata Arshya.
Salim menjawab enteng, “Iya tau”
“Api itu panas. Besok di neraka apinya jauh lebih
panas. Kamu mau masuk neraka, hah? Ayo cepat minta maaf atau nanti kamu masuk
neraka”.
Sesungguhnya percakapan mereka mengundang tawa pada kami
yang melihatnya. Namun, ada kagum juga senyum kebanggaan terselip untuk Arshya.
Anak itu lugu dan sholeh banget :))
Sekecil itu, mereka sudah paham konsep akhirat, bahkan
Arshya tidak segan memberi peringatan pada temannya hanya karena ia mengucapkan
kalimat yang “tidak baik” diucapkan lisan juga didengar oleh telinga. Sedangkan
apa yang terjadi apa kebanyakan orang dewasa? Tak jarang malah tertawa-tawa
saat mengucapkan kata-kata itu, bahkan menjadikannya ungkapan “kekaguman” atau
bahasa “gaul” yang katanya biar kekinian.
Lewat Arshya, rasa optimis itu kembali ada. Bahwa
Indonesia akan selalu memiliki para penjaga dan pewaris nilai Islam serta
kebaikannya.
Semoga Arshya semakin disayang Allah :)
Komentar
Posting Komentar