Jalanan cukup lengang. Bus melaju dengan kecepatan sedang menyusuri
jalan sebuah kota. Seorang perempuan duduk di salah satu bangku bus, menatap
langit berwarna jingga dari jendela yang berada di dekatnya. Ia menghela nafas
kemudian menghembuskannya dengan desahan yang berat. Pikirnya jauh mengembara
pada rumah yang baru saja ditinggalkannya.
Pertanyaan itu muncul lagi, “Berapa lama aku sanggup meninggalkan
mereka?” batinnya. Satu bulan? Dua bulan? Hahaha. Tiga bulan adalah waktu
maksimal untuknya bertahan tanpa mereka yang dikasihi. “Sebegitu lemahnya kah
diri ini? Bahkan teman-teman lain ada yang mampu bertahan satu tahun untuk
tidak bertemu keluarganya” batinnya lagi. Meninggalkan rumah adalah hal
terberat yang harus dilakukannya, atau sebenarnya menjadi perjalanan terberat yang
akan dilakukan oleh setiap perempuan.
Ia seringkali takjub pada perempuan yang bisa pergi jauh dari rumahnya
dalam kurun waktu yang cukup lama. Terlebih pada seorang Ibu yang meninggalkan
anak-anaknya di rumah mewah dengan seorang pramuwisma. “Mungkin aku saja yang aneh”.
Sebab, beberapa tahun terakhir banyak pemberitaan yang mengabarkan perempuan
menuntut kesetaraan haknya dengan laki-laki. Mereka ingin jika perempuan “bebas”
mengekspresikan segala keinginannya di luar rumah. Padahal, jika kita belajar dari
para mendiang Ibu bangsa, mereka adalah perempuan berjiwa besar yang hatinya
tertaut di rumah. Betapa repotnya para Ibu memastikan bahwa kompor sudah mati,
cucian sudah diangkat, lampu dimatikan, dan sebagainya jika mereka akan
berangkat ke pasar untuk sekedar membeli sayuran.
Adakah tempat yang lebih baik dari sebuah rumah untuk manusia pulang? Tempat
dimana kehati-hatian, teduh tatapan, sabar, kasih sayang, cinta, hangat sapa, memancar
dari diri seorang perempuan di dalam rumahnya.
Adakah perempuan yang sanggup untuk kehilangan satu tahap tumbuh dan
berkembangnya sang buah hati di dalam rumah? Sementara waktu tidak pernah bisa
mengembalikan setiap kenangan.
Jika nanti, jalan-jalan dan kantor hampir penuh sesak oleh para perempuan.
Maka percaya saja bahwa pasti masih ada perempuan-perempuan lainnya
yang tetap bertahan di dalam rumah dan sebuah institusi pendidikan. Merawat
masa depan dari para pemilik mata kejujuran. Anak-anak itu selalu berhak atas
segala bentuk kasih sayang sebagaimanapun kemandirian mereka di tempa untuk
bisa bertahan hidup.
Diantara perempuan-perempuan yang bertahan itu, semoga kita menjadi
salah satu barisannya. Barisan para perempuan yang memiliki perasaan berat saat
meninggalkan rumahnya.
Komentar
Posting Komentar