Langsung ke konten utama

Alarm (Sebuah Renungan)

Setiap satu bulan sekali ada agenda Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN) di kampus. Biasanya peserta akan diminta datang selepas sholat Isya. Sekitar pukul 20.00 akan dimulai sesi talkshow dengan pemateri dan tema yang keren. Acara dilanjutkan dengan naumul lail atau tidur malam. Biasanya jam 03.00 dini hari setiap peserta akan dibangunkan oleh panitia untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat tahajud berjamaah.

Nah, ada yang menarik di antara pukul 02.00 – 04.00 dini hari itu. Dalam dua jam, ada banyak sekali alarm handphone yang berbunyi. Silih berganti. Pokoknya berisik sekali. Kecenderungan manusia saat menyalakan alarm adalah mengatur alarm agar bisa berdering beberapa kali. Dering pertama dimatikan, lima menit kemudian akan terdengar dering kedua dan seterusnya. Jika akhirnya bangun, maka itu anugerah, jika pulas tertidur maka itu adalah bonus (lah?). Yang bikin kesalnya lagi jika alarm itu masih berbunyi saat shalat tahajud berjamaah sudah dimulai. Rasanya pengen ngumpulin semua handphone itu dan menon-aktifkannya. Sebenarnya kasus kayak gitu gak cuma terjadi pas GSJN aja sih. Hahaha.

Fenomena dering alarm itu tiba-tiba bikin mikir, jika alarm yang “berbunyi” adalah alarm yang Allah punya, apa manusia juga punya kecenderungan yang sama? Menunda peringatan itu dengan alasan masih belum siap, belum pantas, dan banyak alasan lainnya. Ya sama kayak pas kita nunda bangun dengan alasan sederhana : masih ngantuk! Kalau dengan bunyi alarm itu kita jadi bergegas bangun dan menjalankan kewajiban maka itu akan jadi anugerah buat hidup kita, tapi kalau malah kebablasan bahkan berujung pada kematian, apa iya kita masih menganggap itu sebagai bonus? Atau justru itu menjadi sebuah kelalaian yang besar.

Ternyata dari hal-hal sederhana dalam kehidupan kita, selalu ada nilai hidup yang menggiring kita untuk senantiasa mengingat Allah lagi dan lagi. Semoga saja, jika Allah sudah menyalakan “alarm”nya untuk kita, kita siap menunaikannya, tanpa menunda, memberikan pemakluman pada diri kita, apalagi melewatkan begitu saja peringatan itu. Semoga…



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...