“Gue takut komitmen, Tis. Gue gak
mau nikah, gue takut kalau pada awalnya kita saling sayang tapi pada akhirnya
kita cerai juga.”
“Gue gak mau punya anak, Tis. Gue
takut gak bisa jadi orang tua yang baik buat mereka.”
“Aku hanya pengen ketemu Ibu dan
kakakku yang sudah lama pergi dari rumah, mbak. Aku gak nyaman dengan Ibu
tiriku dan anak-anaknya”
Itulah sekelumit kalimat yang terus terekam dalam benak
saya. Sebagai calon Sarjana Psikologi, seringkali baik sengaja ataupun tidak
sengaja, saya menjadi tempat orang-orang mencurahkan perasaan mereka. Saya
selalu terenyuh ketika orang lain bercerita mengenai keluarganya yang mengalami
perceraian. Belum lagi fakta yang saya temukan dari cerita mereka bahwa mereka
kadang harus mengonsumsi obat penenang atau obat tidur, merokok, bahkan ada
yang memiliki psikiater khusus untuk menenangkan pikiran mereka.
Cerita mereka menarik perhatian saya
untuk menelusuri lebih jauh kasus perceraian di Indonesia. Hasil pencarian
melalui jaringan internet ditemukan :
- Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang cukup tinggi hal ini berdasarkan temuan Mark Cammack, pada tahun 1950-an mengenai angka perceraian di Asia Tenggara dan Indonesia tergolong yang paling tinggi di dunia. .
- Data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, menunjukan bahwa dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan percerain per tahun se-Indonesia.
- 70 % yang menggugat cerai adalah Isteri.
- Penyebab utama perceraian adalah masalah ekonomi (suami tidak bisa menafkahi) kemudian ketidak harmonisan pribadi, terakhir karena perselingkuhan.
- Di tingkat provinsi pada tahun 2011, Jawa Timur masih menempati urutan pertama di bandingkan dengan provinsi lain. Di tingkat kabupaten, Indramayu menempati urutan pertama dan Banyuwangi yang kedua
- Data dari Pengadilan Agama, guru menempati urusan pertama dalam kasus perceraian.
Data-data
tersebut hanyalah sebagain kecil yang saya ambil dari banyaknya angka berbilang
ribuan bahkan ratusan ribu mengenai tren perceraian di Indonesia. Ayah dan Ibu
sebagai pendidik utama berpisah, guru penyandang label digugu dan ditiru
menjadi juara dalam kasus perceraian. Lantas, ke mana anak mencari teladannya?
Mungkin
kita memang harus menyadarkan diri bahwa hidup adalah sebuah siklus. Ada sebab,
ada akibat. Semua kembali di tempat bermulanya perjalanan. Ada keterkaitan satu
sama lain. Anak menjadi hebat, karena pendidiknya hebat sedangkan anak yang
nakal bisa jadi karena ada yang salah dalam pola asuh pendidiknya. Maka,
pantaskah apabila kenakalan remaja yang saat ini menjadi salah satu permasalahan
besar bangsa, fokus utama sorotan kita hanya remaja usia 13-18 tahun saja?
Bagaimana andil orang tua dalam menciptakan istilah kenakalan remaja tersebut?
Secara psikologis, remaja
berada dalam tahap pencarian jati diri. Mereka membutuhkan perhatian dan kasih
sayang dari orang tua sebagai bentuk dorongan yang berpengaruh dalam kejiwaan
seorang remaja dalam membentuk kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Dapatkah
sekarang kita bayangkan bagaimana kehidupan seorang remaja yang membutuhkan
kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, namun keduanya telah resmi
bercerai? Dalam sebuah jurnal kenakalan remaja pada remaja putra korban
perceraian orang tua (Sutji Prihatinningsih, Fakultas Psikologi Universitas
Gunadarma) dipaparkan mengenai perceraian orang tua yang berdampak pada
kehidupan anak. Anak mengalami perasaan terluka, marah, terabaikan, dan tidak
dicintai secara terus-menerus.
Bentuk kenakalan remaja karena perceraian orang tua
yang dialami pada anak adalah ia menjadi pemarah, suka berkelahi dengan siapa
pun, melawan terhadap orang tua, mencoba hal-hal yang bersifat kriminal seperti
mencopet, mencoba-coba obat-obatan terlarang yaitu sabu-sabu, pil estasy dan
ganja. Bahkan anak juga suka minum-minuman keras sampai mabuk.
Keluarga merupakan
unit sosial terkecil yang memberikan pondasi primer bagi perkembangan anak.
Sedangkan sekolah dan masyarakat sebagai lingkungan sekunder memberikan nuansa
pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan
masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan
kepribadian anak. Fiuh, menghembuskan nafas pun rasanya tidak lagi cukup apabila
besok, lusa atau beberapa minggu ke depan saat saya melakukan perjalanan lagi
ke kota lain dan masih menemukan cerita yang sama. Perceraian. Mungkin kita
hanyalah sebagian kecil orang yang beruntung memiliki orang tua yang memilih
bertahan lebih lama daripada orang tua yang lain. Andai kita dapat memilih
lebih?
Komentar
Posting Komentar