"Dokter itu profesional"
“Guru yang profesional”
“Dasar, pekerja tidak profesional”
Begitulah
sekiranya sebagian besar masyarakat memaknai profesional dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, profesional diartikan sebagai “sesuatu yang bersangkutan
dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya”. Beginilah
bahasa memaknai profesional. Namun, saya berpendapat bahwa seorang profesional
adalah ia yang tidak hanya ahli pada suatu bidang namun yang juga mencintai
serta mampu menempatkan diri pada peran-peran sosialnya secara baik. Profesional
tercermin dari ‘bagaimana ia’ bukan ‘siapa ia’ sehingga bukan lagi sekedar kata
sifat namun sebuah kata kerja. Tidak mengherankan untuk mendapatkan label
profesional maka dibutuhkan sebuah pembiasaan agar kemampuan itu melekat
menjadi sebuah nilai yang kuat. Mengakar menjadi karakter.
Dalam sebuah hadist shahih
dikatakan bahwa sebuah pekerjaan harus diberikan kepada ahlinya karena apabila
tidak diberikan kepada ahlinya maka akan menimbulkan kerusakan. Seorang yang
profesional cenderung akan memegang kode etik. Ia tahu adab, ia tahu ruang
untuk berperan, sehingga memang sudah sepantasnya ia mendapatkan sebuah ruang
bagi bidang yang digelutinya.
Malcom Gladwell, melalui formula
10.000 jam menyadarkan saya bahwa membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk
memantaskan diri bergelar profesional. Setidaknya, menurut Gladwell, seseorang
yang profesional sudah melalui 10.000 jam dalam hidupnya untuk menggeluti
bidang yang ditekuninya. Maka, passion menjadi
kunci dari profesional. Nah,
mahasiswa! Penting bagi kita untuk mengetahui, mencari, menemukan, menjalani,
dan mencintai passion kita. Bukankah
orang yang jatuh cinta (katanya) akan selalu memberikan yang terbaik untuk
apapun yang dicintainya? Begitulah profesional kemudian melekat pada diri
sebagian manusia, berawal dari kecintaan mereka terhadap apa yang mereka
kerjakan. Jadi, tidak mengherankan apabila banyak yang berprofesi sama namun belum
tentu kompetensi yang dihasilkan sama. Sebab, cinta itulah yang membedakannya
dari manusia-manusia lain yang berprofesi sama.
Kemudian saya berpikir, bagi
mereka orang-orang yang mencinta, apalah arti sebuah kata profesional yang
digelarkan kepadanya, tanpa harus mencitrakan diri sebagai seorang yang
profesional mekanisme alam yang mencitrakan dirinya. Bagi mereka yang mencinta,
profesional bukanlah sebuah tujuan, tapi akibat dari setiap benih cinta yang
dia curahkan. Sudahkah kita pantas mendapatkan bonus profesional atau sekedar
menjalankan sebuah profesi(onal)?
Menemukan, memahami, mencintai
peran sebagai seorang negarawan muda hanyalah sebuah usaha sederhana dalam
turut serta mencintai bangsa ini. Gelar-gelar dan prestasi apapun itu hanya
bonus, 10.000 jam untuk memantaskan diri terhadap sebuah ‘bonus’ adalah sebuah
mekanisme langit yang adil, bukan? Lantas, sudahkah kita juga pantas
mendapatkan bonus profesional sebagai seorang muslim di bulan Ramadhan yang
katanya adalah bulan diberikannya banyak bonus bagi setiap mukmin? Think to ‘things’
Titis
Sekti Wijayanti
Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret
Komentar
Posting Komentar