Langsung ke konten utama

Jenderal Berjiwa Besar

[Kesan dari Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Buya Hamka)]
“…setelah ada pertanyaan, mengapakah Sudirman yang diangkat menjadi Panglima Perang Besar? Apa sekolahnya pernahkan dia ke Breda (Akademi Militer di Belanda)? Dan kabarnya konon dia hanya guru Muhammadiyah. Seakan-akan nama Muhammadiyah itu saja sudah cukup buat memandangnya orang enteng.
Saya pun kadang-kadang berperasaan demikian. Apakah kebesaran Sudirman itu? Di tahun 1941, ketika kami kongres di Yogyakarta, saya sudah konsul Muhammadiyah, sedangkan Sudirman baru WMPM, Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah, jauh di bawah saya.
Tapi tuan, ini adalah jiwa besar, dan cahaya dari jiwa yang besar kerap benar timbulnya dari tempat yang kecil.
Pilihan kepada Sudirman bukan kepada diplomanya, tetapi pilihan kepada Sudirman adalah kepada jiwanya, walaupun ketika badannya sehat sekalipun tubuhnya hanya sederhana landai, tetapi matanya berapi, mata yang tidak mengenal patah hati di dalam menuju cita-cita besar. Banyak Jenderal Mayor, Kolonel, Letnan Kolonel di bawahnya yang lebih tinggi diplomanya daripada Sudirman, tetapi semua insyaf bahwa jiwa Sudirman belum tertinggal oleh mereka. Bertambah besar dan tinggi kedudukannya, bertambah terbayang kebesarannya itu. Keluar ia merupakan serigala yang galak, ke dalam ia merupakan Bapak yang Pengasih.

Ada yang berdegup dalam dada setiap kali namanya disebut. Ada kagum, hormat, cinta, energi dan luapan rasa lainnya saat membaca kisah hidupnya.

Sudirman merupakan salah satu kisah dan tokoh yang cukup sering diceritakan Bapak kepadaku..
“Nduk, tahu gak, Indonesia itu punya Jenderal yang punya strategi perang gerilya”
“Perang gerilya itu apa, Pak?”
“Strategi perang sembunyi. Mereka bersembunyi di dalam hutan, semak-semak dan melakukan penyamaran”
“Hutan semacam alas roban itu, Pak?”
“Iya, nduk.. berhari-hari mereka berperang. Nah, pemimpinnya bernama Jenderal Sudirman, meski sakit Pak Dirman tetap ikut berperang  dan ditandu oleh prajuritnya.”
“Sakit apa, Pak?”
“Sakit jantung.” (meski disebutkan dalam sejarah beliau mengidap sakit paru-paru karena punya kebiasaan merokok)
“Hebat Pak Dirman ya, Pak? Pasti sakit rasanya tapi masih mau ikut perang.”

Perkenalan pertama dengan sosok Sang Jenderal melalui Bapak yang mengesankan. Hebat betul pak Dirman, ia sakit tapi masih ikut berperang. Aku kagum... pada kegigihannya dalam menahan perih dan sakit. Tanpa kusadari, cerita Bapak akan kegigihan pak Dirman itu membawaku untuk mencintai para pahlawan. Meski sebenarnya, cerita Bapak tentang para pahlawan lebih banyak lagi, bahkan disertai keterangan tempat, waktu, dan lagu-lagu bertema perjuangan. Cerita yang pada akhirnya membawaku untuk hanyut dalam setiap prosa tentang kepahlawanan bahkan setiap kali diberikan tugas membuat puisi, hampir dipastikan aku akan menulis puisi tentang pahlawan :D
Hingga suatu hari di salah satu gudang kesenian dan buku perpustakaan Sekolah Dasar, aku menemukan buku biografi tentangnya. Setelah meminta izin, aku membawanya pulang. Setiap kali membaca buku itu, Bapak akan bilang “Jendral Sudirman, nduk? Bagus itu. Hebat!”. Buku itu merupakan buku biografi tokoh yang pertama kali ku baca. Tulisan yang menarik dan mudah dipahami untuk anak kecil sepertiku saat itu. Dalam buku itu penulis menjelaskan detail perjalanan hidup pak Dirman sejak beliau lahir hingga beliau wafat. Dikisahkan pula mengenai kedua orang tuanya, masa kanak-kanaknya, cinta pertama, hingga pekerjaannya. Hal yang paling berkesan mengenai pak Dirman dalam buku itu adalah kebersahajaan pak Dirman sebagai guru madrasah, karakternya yang kuat sebagai seorang pendidik hingga perjalanan beliau menjadi seorang Panglima Perang. Mengingat pak Dirman tetap bergerilya menemani prajuritnya dalam perang hampir selalu membuat kedua pipiku basah. Sebab hal tersebut merupakan salah satu akhlak dan teladan yang paling mengesankan.

Maka...hingga detik ini. Setiap kali membaca foto kiriman Saki mengenai kesan Buya Hamka tentang sosok pak Dirman, ada yang menggenang di pelupuk mata. Apalagi dalam pertanyaan “mengapakah Sudirman yang diangkat menjadi Panglima Perang Besar?” dan Buya menuliskan kesannya yang mendalam
Tapi tuan, ini adalah jiwa besar, dan cahaya dari jiwa yang besar kerap benar timbulnya dari tempat yang kecil.
Pilihan kepada Sudirman bukan kepada diplomanya, tetapi pilihan kepada Sudirman adalah kepada jiwanya, walaupun ketika badannya sehat sekalipun tubuhnya hanya sederhana landai, tetapi matanya berapi, mata yang tidak mengenal patah hati di dalam menuju cita-cita besar. Banyak Jenderal Mayor, Kolonel, Letnan Kolonel di bawahnya yang lebih tinggi diplomanya daripada Sudirman, tetapi semua insyaf bahwa jiwa Sudirman belum tertinggal oleh mereka. Bertambah besar dan tinggi kedudukannya, bertambah terbayang kebesarannya itu. Keluar ia merupakan serigala yang galak, ke dalam ia merupakan Bapak yang Pengasih.”

Coba cermati di baris terakhir kalimat tersebut... Dalam menempatkan dirinya keluar pak Dirman merupakan serigala yang galak, namun ke dalam ia merupakan Bapak yang Pengasih...

Tapi tahukah... apa yang membuat pak Dirman sebagai jiwa yang besar? Sebab pada keteguhannya dalam menjadikan Islam sebagai cara pandang dan prinsip. Sehingga keikhlasannya dalam berjuang berbuah menjadi energi besar bahkan mampu menggerakkannya untuk tetap memimpin dalam kondisi ketakberdayaannya. Ya Rabb jadikan kami, dan anak cucu kami mampu mewariskan cahaya dari jiwa yang besar itu, bersebab komitmen kami pada Dien Islam..

Dan terberkahilah mereka semuanya, yang atas pengorbanan serta keikhlasannya melalui tinta, darah, juga lantunan do’a kami tetap hidup dalam kasih sayangNya..terberkahilah mereka yang tetap menegakkan Islam dalam jiwanya, mengalahkan hawa nafsunya, berhasil memimpin dirinya.. Berkahilah mereka ya Allah... pertemukan kami dengan mereka kembali disebaik-baiknya tempat kembali.. Aamin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...