Langsung ke konten utama

Sepanjang Jalan Kita



Diantara bergugurannya daun angsana, ada yang membuncah dalam dada. Sayang jika kerinduan ini tidak diluapkan.

Saat semuanya berlomba mengabadikan keindahan gugurnya angsana melalui lensa kamera, mata ini mencoba merekamnya dengan frame yang lebih luas. Menikmati setiap jangkauan cahaya sehingga orang-orang yang melintas disekitarnya menjadi objek yang juga berkesan.

Bau khas gugurnya angsana, tanah yang basah, lalu lalang manusia... Sungguh mengingatkan diri ini tentang mereka...

Kami pernah berjalan bersama, menyusuri gang-gang sempit, membersamai teriknya siang, menikmati dinginnya malam. Bergandengan tangan, sesekali berangkulan. Namun lebih banyak lagi perjalanan itu kita habiskan untuk menghimpun pelajaran. Belajar tentang berbagi, tabiat-tabiat manusia dan kehidupannya, keikhlasan, pengorbanan, senyuman, dan banyak hal lainnya.

Kenangan itu muncul berkelebat. Seperti nasihat ibu saat menatap lampu neon sebuah rumah besar, “orang-orang banyak yang memiliki rumah besar, tapi sungguh mengherankan jika mereka hanya memberikan lampu kecil untuk menerangi jalan di depan rumahnya”

Atau seperti ungkapan sosok gagah itu saat melihat mimik wajah putrinya yang menatap masyarakat disekitar, “jangan lupa senyum”.

Nasihat yang diungkapkan dengan nada ketulusan menjadikan bersemayam dan tak lekang oleh waktu.

Dalam kesederhaan
Dalam takdir kasih sayang Allah
Dalam ujian yang menyabarkan
Diri ini belajar bahwa mereka dipersatukan dengan salah satu alasan... mereka sama-sama orang baik...

Semoga Allah limpahkan kasih sayangNya yang seluas bumi dan langit bagi mereka yang senantiasa berjuang membaikkan dirinya...Terima kasih angsana...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...