Diantara
bergugurannya daun angsana, ada yang membuncah dalam dada. Sayang jika
kerinduan ini tidak diluapkan.
Saat
semuanya berlomba mengabadikan keindahan gugurnya angsana melalui lensa kamera,
mata ini mencoba merekamnya dengan frame yang lebih luas. Menikmati
setiap jangkauan cahaya sehingga orang-orang yang melintas disekitarnya menjadi
objek yang juga berkesan.
Bau
khas gugurnya angsana, tanah yang basah, lalu lalang manusia... Sungguh
mengingatkan diri ini tentang mereka...
Kami
pernah berjalan bersama, menyusuri gang-gang sempit, membersamai teriknya
siang, menikmati dinginnya malam. Bergandengan tangan, sesekali berangkulan.
Namun lebih banyak lagi perjalanan itu kita habiskan untuk menghimpun
pelajaran. Belajar tentang berbagi, tabiat-tabiat manusia dan kehidupannya,
keikhlasan, pengorbanan, senyuman, dan banyak hal lainnya.
Kenangan
itu muncul berkelebat. Seperti nasihat ibu saat menatap lampu neon sebuah rumah
besar, “orang-orang banyak yang memiliki rumah besar, tapi sungguh mengherankan
jika mereka hanya memberikan lampu kecil untuk menerangi jalan di depan
rumahnya”
Atau
seperti ungkapan sosok gagah itu saat melihat mimik wajah putrinya yang menatap
masyarakat disekitar, “jangan lupa senyum”.
Nasihat
yang diungkapkan dengan nada ketulusan menjadikan bersemayam dan tak lekang
oleh waktu.
Dalam
kesederhaan
Dalam
takdir kasih sayang Allah
Dalam
ujian yang menyabarkan
Diri
ini belajar bahwa mereka dipersatukan dengan salah satu alasan... mereka
sama-sama orang baik...
Semoga
Allah limpahkan kasih sayangNya yang seluas bumi dan langit bagi mereka yang
senantiasa berjuang membaikkan dirinya...Terima kasih angsana...
Komentar
Posting Komentar