Beberapa waktu lalu ngobrol dengan salah seorang kakak di sebuah kedai makan. Bertuturlah ia tentang sebuah kegelisahan.
"Tis, kalau, setiap orang yang mendaki gunung berpikiran ahh, gak papa hanya membawa satu tangkai edelweis. Bagaimana gunung-gunung Indonesia 5, 10, bahkan 50 tahun lagi?"
Gue masih ingat petuah senior gue dulu. Kill nothing but time, Take nothing but picture, Leave nothing but footprints. Gue yakin semua yang (katanya) pecinta alam tahu banget kata-kata tersebut. Berkali-kali ditekankan saat Diksar, Latsar, apapun namanya. Jangankan edelweis, kadang ada aja yang usil bawa batu dari gunung. Katanya sih buat kenang-kenangan. Kalau semua orang berpikiran hal yang sama soal batu yang jadi kenang-kenangan. Kira-kira batu di gunung tinggal berapa?
Tapi poin tulisan ini bukan berapa banyaknya batu di gunung apalagi bunga edelweis... Poin tulisan ini ada dikisah dibawah ini. Cerita ini gue dapet dari salah seorang kakak guru gue di UNS, gara-gara gue gak bawa pasta gigi saat makrab angkatan.
Di sebuah negeri Antah Berantah hiduplah seorang Raja. Suatu hari, Baginda memberikan pengumuman bahwa seluruh rakyat WAJIB memberikan satu sendok madu untuk perbekalan negeri di musim dingin. Setelah pengumuman tersebar ke seluruh penjuru negeri, rakyat berbondong-bondong datang ke istana membawa sendoknya masing-masing. Salah seorang penduduk negeri Antah itu berpikir "Ahh, aku bawa air saja, toh kalau hanya satu sendok air tidak akan berpengaruh apapun pada drum besar berisi madu seluruh penduduk negeri". Maka datanglah ia dan sendok berisi airnya ke istana Raja.
Kemudian kakak guru gue bertanya "Kamu tahu Tis apa yang terjadi?"
Gue menjawab "Enggak mbak" (sambil geleng-geleng kepala)
Saat musim dingin tiba, dibukalah drum tempat para penduduk menuangkan isi sendok yang dibawanya. Astagfirullahaladzim. Raja kaget karena isi drum tersebut adalah air, bukan madu seperti apa yang diperintahkan Raja.
Get the point? :)
Hanya sesendok madu, segenggam batu, setangkai bunga. Tapi kalau semua orang berpikiran hal yang sama, apa yang terjadi?
Pelajaran moral bagi gue saat tentu saja membawa pasta gigi kalau ada acara yang menginap. Kalau semua orang berpikir "ahh, nanti gue minta pasta gigi punya si A aja deh". Maka, tidak ada yang bawa pasta gigi sama sekali, kemudian gigi penuh dengan kuman karena tidak sikat gigi, dan banyak sekali akibat-akibat lainnya. Itu baru pasta gigi. Lainnya, bayangkan sendiri...
Tapi kalau semua orang berpikir tentang kebaikan. Bahwa ilmu teramat berharga. Bahwa sekolah sangat menyenangkan. Maka, gue yakin tidak ada yang suka bolos sekolah. Nongkrong dipinggir jalan sambil ngerokok. Lagi-lagi ujungnya ke hidup yang hanya sekedar mampir 1,5 jam doang.
Well, leave nothing but footprints, right? Jejak apa yang ditinggalkan. Tentu saja, jejak-jejak kebaikan :))
"Tis, kalau, setiap orang yang mendaki gunung berpikiran ahh, gak papa hanya membawa satu tangkai edelweis. Bagaimana gunung-gunung Indonesia 5, 10, bahkan 50 tahun lagi?"
Gue masih ingat petuah senior gue dulu. Kill nothing but time, Take nothing but picture, Leave nothing but footprints. Gue yakin semua yang (katanya) pecinta alam tahu banget kata-kata tersebut. Berkali-kali ditekankan saat Diksar, Latsar, apapun namanya. Jangankan edelweis, kadang ada aja yang usil bawa batu dari gunung. Katanya sih buat kenang-kenangan. Kalau semua orang berpikiran hal yang sama soal batu yang jadi kenang-kenangan. Kira-kira batu di gunung tinggal berapa?
Tapi poin tulisan ini bukan berapa banyaknya batu di gunung apalagi bunga edelweis... Poin tulisan ini ada dikisah dibawah ini. Cerita ini gue dapet dari salah seorang kakak guru gue di UNS, gara-gara gue gak bawa pasta gigi saat makrab angkatan.
Di sebuah negeri Antah Berantah hiduplah seorang Raja. Suatu hari, Baginda memberikan pengumuman bahwa seluruh rakyat WAJIB memberikan satu sendok madu untuk perbekalan negeri di musim dingin. Setelah pengumuman tersebar ke seluruh penjuru negeri, rakyat berbondong-bondong datang ke istana membawa sendoknya masing-masing. Salah seorang penduduk negeri Antah itu berpikir "Ahh, aku bawa air saja, toh kalau hanya satu sendok air tidak akan berpengaruh apapun pada drum besar berisi madu seluruh penduduk negeri". Maka datanglah ia dan sendok berisi airnya ke istana Raja.
Kemudian kakak guru gue bertanya "Kamu tahu Tis apa yang terjadi?"
Gue menjawab "Enggak mbak" (sambil geleng-geleng kepala)
Saat musim dingin tiba, dibukalah drum tempat para penduduk menuangkan isi sendok yang dibawanya. Astagfirullahaladzim. Raja kaget karena isi drum tersebut adalah air, bukan madu seperti apa yang diperintahkan Raja.
Get the point? :)
Hanya sesendok madu, segenggam batu, setangkai bunga. Tapi kalau semua orang berpikiran hal yang sama, apa yang terjadi?
Pelajaran moral bagi gue saat tentu saja membawa pasta gigi kalau ada acara yang menginap. Kalau semua orang berpikir "ahh, nanti gue minta pasta gigi punya si A aja deh". Maka, tidak ada yang bawa pasta gigi sama sekali, kemudian gigi penuh dengan kuman karena tidak sikat gigi, dan banyak sekali akibat-akibat lainnya. Itu baru pasta gigi. Lainnya, bayangkan sendiri...
Tapi kalau semua orang berpikir tentang kebaikan. Bahwa ilmu teramat berharga. Bahwa sekolah sangat menyenangkan. Maka, gue yakin tidak ada yang suka bolos sekolah. Nongkrong dipinggir jalan sambil ngerokok. Lagi-lagi ujungnya ke hidup yang hanya sekedar mampir 1,5 jam doang.
Well, leave nothing but footprints, right? Jejak apa yang ditinggalkan. Tentu saja, jejak-jejak kebaikan :))
Komentar
Posting Komentar