Langsung ke konten utama

Obrolan Meja Makan [2]

Menelusup pada benak, mencari memori lima tahun yang lalu.
Masih dimeja makan  yang sama, Bu. Bersamamu. 

Kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Di saat teman-teman yang lain sibuk dengan pasangan masing-masing lewat Ibulah pemahaman mengenai masa muda yang sesungguhnya terajarkan. Berkelana dari satu kota ke kota yang lainnya, berkenalan dengan banyak orang, menjelajah, mencari-cari kebenaran akan pertanyaan yang membenak. 

"Bu, kenapa Ibu ngebolehin tis pergi kemanapun tis mau? Gak khawatir. Lebih-lebih lagi Ibu, Bapak juga jarang menelpon kalau tis sedang di luar rumah" 
"Emang Ibu, Bapaknya temanmu gimana" 
[dan aku membandingkanmu, membandingkan kalian] 
kemudian Ibu menghela, menjawab kegundahan dengan jawaban sempurna 

"Prinsip Ibu hanya satu, Ibu gak mau anaknya menyesal. Kamu masih muda silahkan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Harapan Ibu satu, nanti kamu tidak menyesal. Ibu percaya sudah sama kamu. Ya, hati-hati asalkan"

Jedaaa...

Kalau dipikir-pikir. Dulu, uang tabungan sering habis kalau gak buat ke Bogor, ketempat lainnya. Di saat yang lain ke mall, beli majalah, dan sebagainya. Terima kasih, Bu. Mengizinkan tis menjelajah ke banyak tempat. Mengingatkan pada koridorNya. Cukuplah. Cukuplah Ibu dan Bapak bagi kami. Tak ada bandingan lagi. Katanya aku jadi punya banyak cerita masa SMA. Apalah artinya kami tanpa izin Ibu. 

Semoga, hanya syurga yang jadi ganjarannya ya Bu. Untuk Ibu. Untuk kita. Kelak disana, ada meja makan yang lebih luas tempat kita bercerita tentang sebuah jeda yang mana pahit dan manisnya kita lesap bersama :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...