Menelusup pada benak, mencari memori lima tahun yang lalu.
Masih dimeja makan yang sama, Bu. Bersamamu.
Kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Di saat teman-teman yang lain sibuk dengan pasangan masing-masing lewat Ibulah pemahaman mengenai masa muda yang sesungguhnya terajarkan. Berkelana dari satu kota ke kota yang lainnya, berkenalan dengan banyak orang, menjelajah, mencari-cari kebenaran akan pertanyaan yang membenak.
"Bu, kenapa Ibu ngebolehin tis pergi kemanapun tis mau? Gak khawatir. Lebih-lebih lagi Ibu, Bapak juga jarang menelpon kalau tis sedang di luar rumah"
"Emang Ibu, Bapaknya temanmu gimana"
[dan aku membandingkanmu, membandingkan kalian]
kemudian Ibu menghela, menjawab kegundahan dengan jawaban sempurna
"Prinsip Ibu hanya satu, Ibu gak mau anaknya menyesal. Kamu masih muda silahkan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Harapan Ibu satu, nanti kamu tidak menyesal. Ibu percaya sudah sama kamu. Ya, hati-hati asalkan"
Jedaaa...
Kalau dipikir-pikir. Dulu, uang tabungan sering habis kalau gak buat ke Bogor, ketempat lainnya. Di saat yang lain ke mall, beli majalah, dan sebagainya. Terima kasih, Bu. Mengizinkan tis menjelajah ke banyak tempat. Mengingatkan pada koridorNya. Cukuplah. Cukuplah Ibu dan Bapak bagi kami. Tak ada bandingan lagi. Katanya aku jadi punya banyak cerita masa SMA. Apalah artinya kami tanpa izin Ibu.
Semoga, hanya syurga yang jadi ganjarannya ya Bu. Untuk Ibu. Untuk kita. Kelak disana, ada meja makan yang lebih luas tempat kita bercerita tentang sebuah jeda yang mana pahit dan manisnya kita lesap bersama :
Komentar
Posting Komentar