18 Januari 2014
Hari bersejarah untuk salah seorang inspirator. Panggil saja namanya Febri Ekayanti. Kakak guru gue yang teramat keren.
Wisuda selalu aja jadi tempat pendewasaan diri buat kita (gue dan kakak gue). Kenapa? Sebab, bapak dan Ibu selalu bisa mengajarkan kami berpikir dari perspektif yang berbeda. Termasuk kemarin.
Cerita dimulai karena undangan wisuda hanya diperuntukkan oleh satu orang. Kebingungan terjadi. Siapa yang berhak masuk? Ibu? atau Bapak?
Tapi keputusannya adalah GUE.Ya, gue yang datang ke wisuda kakak gue.
Kenapa? karena Ibu gue memberikan alasan "Kalau Ibu masuk, bapak gimana? Kalau bapak masuk, Ibu juga ingin masuk". Jadilah hanya gue dan kakak gue yang berangkat. Kakak gue mungkin sedih, karena yang meihatnya memakai toga gagah hari itu bukan Bapak ataupun Ibu.
Setibanya di TMII (tempat wisuda berlangsung), gue duduk diantara tamu undangan. Prosesinya khidmat banget. Beberapa kali gue menitikkan air mata. Dengan tidak datangnya Ibu dan Bapak ke wisuda kakak gue, hal tersebut mengajarkan gue banyak hal.
1. Kata banyak orang, wisuda adalah moment yang teramat di rindukan oleh setiap orang tua. Iya gue yakin dengan itu. Tapi, tidak datang wisuda tidak juga mengurangi rasa sayang dan bangganya mereka pada kami. Pagi-pagi tetap repot cari taksi, repot cari peniti dan menenangkan gue yang panik karena modem eror dan gak bisa kirim tugas.
2. Hampir purna tugas bapak dan Ibu kepada kami putri-putrinya. Setelah wisuda, tentu saja tinggal menunggu bilangan waktu bagi kami untuk pergi kemudian memberi bakti kepada yang lain.
3. Ahh iya, cara Ibu menghormati bapak dan mencintainya itu selalu sederhana, teramat sederhana. Bahkan gue yakin bapak suka gak sadar.
Sepulangnya dari wisuda, kakak gue mengajak berkeliling TMII. Tapi, ada perasaan janggal kalau kami bersenang-senang berdua tanpa adik kami. Pulanglah kami.
Sebelum pulang, kakak gue bertanya "Itu bunga harganya berapa ya, Tis?"
Gue jawab "Paling goceng (5000) kalau yang kecil.
Gue berasa disindir, karena tidak membelikan apapun hari itu. Hanya memberikan sebuah pesan singkat. Jleb!
Gue tanya lagi "Buat apaan sih mbak?"
Kakak gue menjawab "Buat Ibu"
dyaaaaaaar
Pernah dengar atau lihat seorang wisudawan memberikan bunga sebagai hadiah orang tuanya? Jujur gue belum pernah. Tapi...ah kakak gue. Sungguh beliau sangat inspiring!
Hari itu, Sabtu siang menjelang sore. Dalam rintik-rintik hujan kami pulang dengan dua bungkus mawar merah. Satu untuk bapak. Satu untuk Ibu.
Semoga Allah memberkahi ilmu dan semua pengalamanmu, menjadikanmu sebaik-baiknya pendidik bagi agama, keluarga, dan bangsa.
Selamat ya mbak Febri Ekayanti, S.Pd
Hari bersejarah untuk salah seorang inspirator. Panggil saja namanya Febri Ekayanti. Kakak guru gue yang teramat keren.
Wisuda selalu aja jadi tempat pendewasaan diri buat kita (gue dan kakak gue). Kenapa? Sebab, bapak dan Ibu selalu bisa mengajarkan kami berpikir dari perspektif yang berbeda. Termasuk kemarin.
Cerita dimulai karena undangan wisuda hanya diperuntukkan oleh satu orang. Kebingungan terjadi. Siapa yang berhak masuk? Ibu? atau Bapak?
Tapi keputusannya adalah GUE.Ya, gue yang datang ke wisuda kakak gue.
Kenapa? karena Ibu gue memberikan alasan "Kalau Ibu masuk, bapak gimana? Kalau bapak masuk, Ibu juga ingin masuk". Jadilah hanya gue dan kakak gue yang berangkat. Kakak gue mungkin sedih, karena yang meihatnya memakai toga gagah hari itu bukan Bapak ataupun Ibu.
Setibanya di TMII (tempat wisuda berlangsung), gue duduk diantara tamu undangan. Prosesinya khidmat banget. Beberapa kali gue menitikkan air mata. Dengan tidak datangnya Ibu dan Bapak ke wisuda kakak gue, hal tersebut mengajarkan gue banyak hal.
1. Kata banyak orang, wisuda adalah moment yang teramat di rindukan oleh setiap orang tua. Iya gue yakin dengan itu. Tapi, tidak datang wisuda tidak juga mengurangi rasa sayang dan bangganya mereka pada kami. Pagi-pagi tetap repot cari taksi, repot cari peniti dan menenangkan gue yang panik karena modem eror dan gak bisa kirim tugas.
2. Hampir purna tugas bapak dan Ibu kepada kami putri-putrinya. Setelah wisuda, tentu saja tinggal menunggu bilangan waktu bagi kami untuk pergi kemudian memberi bakti kepada yang lain.
3. Ahh iya, cara Ibu menghormati bapak dan mencintainya itu selalu sederhana, teramat sederhana. Bahkan gue yakin bapak suka gak sadar.
Sepulangnya dari wisuda, kakak gue mengajak berkeliling TMII. Tapi, ada perasaan janggal kalau kami bersenang-senang berdua tanpa adik kami. Pulanglah kami.
Sebelum pulang, kakak gue bertanya "Itu bunga harganya berapa ya, Tis?"
Gue jawab "Paling goceng (5000) kalau yang kecil.
Gue berasa disindir, karena tidak membelikan apapun hari itu. Hanya memberikan sebuah pesan singkat. Jleb!
Gue tanya lagi "Buat apaan sih mbak?"
Kakak gue menjawab "Buat Ibu"
dyaaaaaaar
Pernah dengar atau lihat seorang wisudawan memberikan bunga sebagai hadiah orang tuanya? Jujur gue belum pernah. Tapi...ah kakak gue. Sungguh beliau sangat inspiring!
Hari itu, Sabtu siang menjelang sore. Dalam rintik-rintik hujan kami pulang dengan dua bungkus mawar merah. Satu untuk bapak. Satu untuk Ibu.
Semoga Allah memberkahi ilmu dan semua pengalamanmu, menjadikanmu sebaik-baiknya pendidik bagi agama, keluarga, dan bangsa.
Selamat ya mbak Febri Ekayanti, S.Pd
Komentar
Posting Komentar