Hari ini aku bercerita. Soal ruang yang selama ini Dia beri. Polanya sama : kosong - isi - kosong - isi begitu seterusnya. Silih berganti yang menempati. Tak peduli banyaknya detik yang terlampaui. Bagi sebagian orang, ruang itu teramat berharga. Ruang inspirasi yang terserak. Tapi, bagi sebagian lainnya ruang itu hanya sebuah tempat singgah biasa. Aku menyebutnya seperti sebuah buku, setengah kosong, setengah isi.
Umm mari kuceritakan lebih lanjut...
Tahun lalu, temanku berjalan. Menepi pada sebuah tempat pembuangan sampah. Dilihatnya segulung kertas. Dibacanya. Dimaknainya. Cintalah iya akan makna yang terkandung di dalamnya. Disimpannya.
Belum lagi orang-orang cerdas yang bisa memanfaatkan "sampah" dengan bijaksana. Botol-botol dikumpulkan. Jadilah karya bernilai jual.
Awal tahun 2011, saat tiba kesempatan menorehkan jejak di Hargo Dalem, aku menemukan rumah botol. Ini buktinya!
Orang-orang gunung itu, yang harus menempuh waktu 3 - 5 jam menuju rumah mereka, tanpa mengenal teori kecerdasan ekologis apalagi kenal dengan Daniel Goleman lihat apa yang mereka berikan pada semesta. Bahkan mereka sangat bertanggung jawab melebihi "janji" yang sering digaungkan para penakluk alam.
Kemudian...beralih pada tempat sampah itu sendiri.
Tanpa 'tempat', bagaimana 'ruang' akan ada? Maka aku akan menulis soal filosofi tempat sampah.
Filosofi tempat sampah ini adalah inspirasi dari lontaran asal sahabat-sahabat terbaik. Begini lontarannya "Menjadi tempat sampah seorang psikolog itu tidak mudah" atau "Terima kasih, Titis karena sudah menjadi tempat sampah yang baik".
Aku? Tempat sampah? Bukan sembarang tempat sampah. Sampah yang aku tampung adalah sejuta macam rasa berbeda. Kadang manis, pahit, asam, pun asin. Modalku hanya 'ruang' untuk mereka bercerita. Apa saja. Sesuka hati. Buang saja! Sesekali saat mereka membuang sampah-sampahnya aku timpali dengan senyum, air mata, bahkan tawa terbahak. Kemudian aku menghimpun sampahnya. Menjadikan sampah-sampah itu menara. Menjulang. Berharap hikmahnya aku pahami. Justru dari sampah-sampah itulah ruangku dari hari ke hari semakin besar dan luas.
Kamu tahu? Itulah kenapa jatuh cinta berawal dari mendengarkan. Ya, mendengarkan keluh kesah, canda tawa, ampas-ampas kehidupan.
Ketidakberartian di matanya belum tentu tidak keberartian di mataNya kan.
Semoga, kita selalu menjadi sebaik-baiknya tempat sampah saat ampas-ampas hidup itu datang. Pandai menampungnya, mengambil hikmah dibaliknya
Ruang itu adalah sebuah lubang dengan diameter beragam tempat semua orang memasukkan yang disebutnya sampah. Menurut Wikipedia sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Apa selamanya sampah berarti sisa dari suatu proses?
Umm mari kuceritakan lebih lanjut...
Tahun lalu, temanku berjalan. Menepi pada sebuah tempat pembuangan sampah. Dilihatnya segulung kertas. Dibacanya. Dimaknainya. Cintalah iya akan makna yang terkandung di dalamnya. Disimpannya.
Belum lagi orang-orang cerdas yang bisa memanfaatkan "sampah" dengan bijaksana. Botol-botol dikumpulkan. Jadilah karya bernilai jual.
Awal tahun 2011, saat tiba kesempatan menorehkan jejak di Hargo Dalem, aku menemukan rumah botol. Ini buktinya!
![]() |
| Foto diambil saat pendakian tahun 2011 |
Kemudian...beralih pada tempat sampah itu sendiri.
Tanpa 'tempat', bagaimana 'ruang' akan ada? Maka aku akan menulis soal filosofi tempat sampah.
Filosofi tempat sampah ini adalah inspirasi dari lontaran asal sahabat-sahabat terbaik. Begini lontarannya "Menjadi tempat sampah seorang psikolog itu tidak mudah" atau "Terima kasih, Titis karena sudah menjadi tempat sampah yang baik".
Aku? Tempat sampah? Bukan sembarang tempat sampah. Sampah yang aku tampung adalah sejuta macam rasa berbeda. Kadang manis, pahit, asam, pun asin. Modalku hanya 'ruang' untuk mereka bercerita. Apa saja. Sesuka hati. Buang saja! Sesekali saat mereka membuang sampah-sampahnya aku timpali dengan senyum, air mata, bahkan tawa terbahak. Kemudian aku menghimpun sampahnya. Menjadikan sampah-sampah itu menara. Menjulang. Berharap hikmahnya aku pahami. Justru dari sampah-sampah itulah ruangku dari hari ke hari semakin besar dan luas.
Kamu tahu? Itulah kenapa jatuh cinta berawal dari mendengarkan. Ya, mendengarkan keluh kesah, canda tawa, ampas-ampas kehidupan.
Ketidakberartian di matanya belum tentu tidak keberartian di mataNya kan.
Semoga, kita selalu menjadi sebaik-baiknya tempat sampah saat ampas-ampas hidup itu datang. Pandai menampungnya, mengambil hikmah dibaliknya
Oh iya! Kamu tahu tidak? Soal ruang itu, umm adakalanya sama seperti hati...

Komentar
Posting Komentar