Langsung ke konten utama

Belajar Menyampaikan yang Belum Sampai

Alkisah, kemarin saya pergi ke satu bagian kota tempat saya dilahirkan. Klaten. Bukan perjalanannya yang ingin saya ceritakan Tapi obrolan yang berlangsung ditempat tersebut.

Berawal dari saya yang bilang "kalian ini harusnya belajar menjaga perasaan orang lain". Kemudian saya lupa feedbacknya apa, terus saya bicara lagi "ya gak bisa gitu dong, kalau kalian mau dingertiin ya coba ngerti orang lain dulu. Gak bisa sepihak". Terus teman saya bilang "Nah, itu kamulah yang harusnya ngertiin juga". Terus saya lupa saya balas apa dan teman saya itu bilang gini "Jadi, menurut kamu, kamu sudah menyampaikan dengan cara yang baik?".

Jleb. Teman saya yang satu itu emang ngeselin kalau soal "mengembalikan kata-kata saya". Kesalnya selalu pangkat dua, karena memang langsung bikin saya spechless. Ya begitulah, barangkali beliau itu memang teman saya disini yang paling bisa kasih saya nasihat. Keselnya bukan kesel benci bukan, tapi kesel karena itu ngena. Kena benernya dalam logika dan perasaan saya. Bagaimana saya gak kesel jadinya. Jadilah kalau sudah begitu saya diam, sebab seketika itu juga perasaan menjadi sangat mendominansi.

Fiuuuh. Pekerjaan sebagai calon Sarjana Psikologi memang butuh latihan 1000 kali bahkan lebih agar bisa menyampaikan maksud dan tujuan dengan baik, dan pendidiknya barangkali bukan cuma dosen tapi teman-teman terdekat. Tapi ngeselinnya percakapan kemarin itu belum hilang dari benak saya. Fufufu. Tapi, baiklah tetap saya berutang terima kasih. Terima kasih sudah kembali mengingatkan -______-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...