Setibanya
dikampus. Tertangkaplah satu sosok yang teramat saya rindukan langkah kakinya
menuju ruang-ruang kelas. Bu Menik. Begitulah panggilan akrab beliau. Pendidikan
doktoral di UGM menuntut beliau untuk fokus dan mengambil cuti mengajar serta menjadi pengampu skripsi. Otak saya
bekerja cepat membawa langkah semakin dekat pada keberadaan beliau.
“Ibu”,
salam saya sembari mencium tangan beliau takzim. Kemudian saya tersenyum.
Beliau pun membalas senyuman saya.
“Kamu yang
kemarin sms ya, dek? Gimana skripsimu?”, tanya beliau.
“Duh kapan
ya ada waktu ngobrol”, tambah beliau.
...
Cerita
saya pun mengalir spontan mengenai ide yang selama ini membenak. Kegelisahan
dan semangat saya akan sebuah isu mengenai lingkungan hidup serta pecinta alam.
Masyarakat Mesen sepertinya juga paham soal ketertarikan saya kepada hal-hal
tersebut. Seperti beberapa dosen yang saya ajak berbagi soal ide saya tersebut alhamdulilah respon beliau pun sama :
antusias. Diskusi pun mengalir ringan agar saya membaca beberapa jurnal. Ah senangnya. Beliau adalah salah satu
rujukan saya dalam membaca karya-karya tokoh. Memilah buku penting bagi saya
agar tidak membuang-buang waktu membaca buku yang belum tentu termaktub
kebenaran.
Sebelum
mengakhiri jumpa, beliau berkata,”Dek, kamu tahu cerita soal perdana menteri
dan tukang dayung?”
“Belum,
bu”
Beginilah ceritanya...
Suatu hari Raja melaksanakan tugas negara ke pesisir
pantai. Malam harinya, Raja memerintahkan Perdana Menterinya untuk melakukan
patroli ke seantero pesisir memastikan lokasi dalam keadaan terkendali. Seketika
itu juga, berangkatlah Perdana Menteri melaksanakan titah Raja.
Jeda sejenak setelah Perdana Menteri pergi. Raja
mendengar suara anjing yang tidak berhenti melolong. Kebetulan berpihak, Raja
melihat tukang dayung didekatnya. Dipanggilnya tukang dayung tersebut, kemudian
Raja memerintahkan padanya untuk melihat dimana suara anjing yang terus melolong
itu.
Sekembalinya, tukang dayung melaporkan bahwa
keberadaan anjing berjarak 200 meter dari lokasi. Raja bertanya, “Kenapa anjing
itu terus melolong?”
Pergilah lagi si tukang dayung menengok si
anjing.
Sekembalinya, tukang dayung melaporkan bahwa anjing
tersebut melolong karena baru saja melahirkan.
Raja kembali bertanya,”Berapa banyak anaknya?”
Pergilah lagi si tukang dayung menengok si
anjing.
Sekembalinya, tukang dayung bertutur,”Anaknya
berjumlah 3 ekor.”
Raja kembali bertanya,”Apa warnanya?”
Dan si tukang dayung kembali lagi menengok si
anjing. Hal yang sama berulang setiap kali Raja mengajukan pertanyaan baru
kepada si tukang dayung. Setelah Raja merasa cukup dengan infomasi, Raja
mengucapkan terima kasih. Si tukang dayung pun melanjutkan aktivitasnya.
Tak lama setelah itu, Perdana Menteri kembali
dari patroli yang dilakukannya. Perdana Menteri melaporkan segala hal yang
ditemuinya termasuk anjing yang terus melolong, apa penyebabnya, jumlah
anaknya, warna anaknya. Perdana Menteri menjelaskan sampai sedetail-detailnya
sehingga pertanyaan yang Raja ajukan kepada tukang dayung, terijawab sempurna
oleh Perdana Menterinya.
...kemudian
beliau bertanya,”Kamu mau jadi yang
mana? Tukang dayung atau Perdana Menteri?”
Peneliti itu seperti seorang Perdana Menteri.
Dia mampu menjelaskan dengan detail penelitiannya bahkan sebelum orang lain
mengajukan pertanyaan. Jadilah seperti Perdana Menteri.
Terima
kasih, Bu Menik inspirasinya.
Kalian
harus tahu, kalau dosen-dosen kami di Psikologi UNS adalah dosen-dosen yang
teramat keren, terlebih metode pembelajaran yang digunakan. Entahlah. Sekolah
memang menyenangkan. Selalu menyenangkan~
Komentar
Posting Komentar