Sekitar dua pekan yang lalu. Saya mendapat kesempatan berbagi dengan teman-teman Fisika FMIPA UNS 2013. Ada pertanyaan menarik dari salah seorang adik
"Mbak, apa bedanya orang yang keras kepala dan berprinsip?"
Saya pernah berpikir hal yang sama dengan sang adik. Dari beberapa buku yang saya baca, saya menyimpulkan. Seseorang yang keras kepala itu berbeda dengan seseorang yang berprinsip. Orang yang memiliki prinsip selalu berlandaskan tata aturan kebenaran. Menurut saya, agama adalah prinsip. Karena saya Islam, ketika saya mengaku orang yang berprinsip maka segala sesuatu yang saya perjuangan, saya ngeyelkan semua termaktub kebenarannya. Itulah orang yang berprinsip. Dia menjunjung tinggi nilai-nilai dan kebenaran dalam agamanya.
Kalau orang yang keras kepala. Ya suka ngeyelan juga sih. Tapi ngeyelnya tidak berlandaskan kebenaran. Alias murni asumsi kebenaran orang yang ngeyel tersebut.
Seketika itu juga pertanyaan si adik menjadi alarm. Sebenarnya lo itu ngeyel berprinsip atau keras kepala, Tis?
"Mbak, apa bedanya orang yang keras kepala dan berprinsip?"
Saya pernah berpikir hal yang sama dengan sang adik. Dari beberapa buku yang saya baca, saya menyimpulkan. Seseorang yang keras kepala itu berbeda dengan seseorang yang berprinsip. Orang yang memiliki prinsip selalu berlandaskan tata aturan kebenaran. Menurut saya, agama adalah prinsip. Karena saya Islam, ketika saya mengaku orang yang berprinsip maka segala sesuatu yang saya perjuangan, saya ngeyelkan semua termaktub kebenarannya. Itulah orang yang berprinsip. Dia menjunjung tinggi nilai-nilai dan kebenaran dalam agamanya.
Kalau orang yang keras kepala. Ya suka ngeyelan juga sih. Tapi ngeyelnya tidak berlandaskan kebenaran. Alias murni asumsi kebenaran orang yang ngeyel tersebut.
Seketika itu juga pertanyaan si adik menjadi alarm. Sebenarnya lo itu ngeyel berprinsip atau keras kepala, Tis?
Komentar
Posting Komentar