Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan. Begitulah secara awam diartikan. Sekilas balik menengok sejarah.
Putri. Lahir di Klaten. Usia dua bulan diajak hijrah bersama Bapak ke kota metropolitan. Tinggal di kontrakan Engkong kawasan Jakarta Timur. Usia 4 tahun hijrah ke Bogor. Dulu tempat kami tinggal masih masuk kotamadya Bogor, hingga menginjak bangku Sekolah Dasar barulah menjadi kotamadya sendiri. Depok. Menjalani pendidikan Taman Kanak-kanak dan seragam putih merah di Depok. Sekolah Menengah Pertama di Jakarta Timur, Sekolah Menengah Atas di Jakarta Selatan, Kuliah S1 di Solo. Itu baru pendidikan. Hobi jalan-jalan yang terwaris dari Ayah menjadikan beberapa kota lainnya yang pernah disinggahi.
Setelah kilas balik tibalah sepucuk surat dari karib asal Ciamis. Isinya "Tis, belajar hidup dari seorang musafir. Kita ini musafir toh? Tuntutan peran dan semangat menuntut ilmu kadang menjadikan kita harus siap untuk bepergian. Meninggalkan rumah. Meninggalkan kesenangan kita". Bercerita pula beliau itu soal banyaknya barang yang dibeli tanpa mempertimbangkan kemanfaatannya. Kenapa begitu? Karena kalau hendak bepergian tak bisalah barang-barang itu masuk ke dalam tas ransel. Berpikir. Melihat kamar. Tak jauh berbedalah kami. Ada banyak barang yang berakhir sebagai peramai kamar tanpa tahu kebermanfaatannya yang lain.
Tersadarlah. Semua barang jadi serba diperhitungkan manfaatnya.
Contoh : Beli tas diliat bisa dipakai untuk bepergian atau tidak, ada tempat air minumnya atau tidak, praktis dan muat banyak barang atau tidak. Inilah alasan kenapa hati tetap memilih tas ransel. Alasannya : tidak mudah dijambret, memuat banyak barang, menghemat plastik kalau belanja (tinggal masuk tas) dan lain-lainnya. Begitu juga akhirnya ketika membeli mushaf, mukena, sikat gigi, tempat peniti, buku. Memilih yang ringkas, agar barang-barang tersebut masuk ke dalam tas.
Bekal perjalanan seorang musafir adalah barang-barang yang ada dalam tasnya. Pantang mengandalkan orang lain. Sepele memang. Tapi sepemahaman penulis pun Rasululullah SAW selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu sendiri, ketika memang itu bisa beliau lakukan sendiri.
Maka dari itu, syukur tak terkira saat rezeki berlimpah datang. Seorang saudari datang membelikan mushaf mungil, yang lainnya membelikan mukena parasut berwarna pink, belum lagi jaket parasut hangat berwarna merah. Orang-orang teramat baiklah kepadaku. Perjalanan ke berbagai kota pun semakin mantap akan persiapan. Yah, persiapan adalah sebaik-baiknya pengusahaan. Kita tak pernah tahu dititik mana 'jeda' kita di dunia berakhir.
Kau tahu kawan, belajar adil itu tidak mudah. Perlu latihan terus-menerus. Belajar meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jadi, coba tengok kamarmu sejenak. Adakah barang-barang yang didalamnya masih berguna hanya sebagai 'peramai'? Yah, saya belajar. Bahwa keadilan yang kita tuntut selama ini bermula dari isi kamar kita sendiri.
Putri. Lahir di Klaten. Usia dua bulan diajak hijrah bersama Bapak ke kota metropolitan. Tinggal di kontrakan Engkong kawasan Jakarta Timur. Usia 4 tahun hijrah ke Bogor. Dulu tempat kami tinggal masih masuk kotamadya Bogor, hingga menginjak bangku Sekolah Dasar barulah menjadi kotamadya sendiri. Depok. Menjalani pendidikan Taman Kanak-kanak dan seragam putih merah di Depok. Sekolah Menengah Pertama di Jakarta Timur, Sekolah Menengah Atas di Jakarta Selatan, Kuliah S1 di Solo. Itu baru pendidikan. Hobi jalan-jalan yang terwaris dari Ayah menjadikan beberapa kota lainnya yang pernah disinggahi.
Setelah kilas balik tibalah sepucuk surat dari karib asal Ciamis. Isinya "Tis, belajar hidup dari seorang musafir. Kita ini musafir toh? Tuntutan peran dan semangat menuntut ilmu kadang menjadikan kita harus siap untuk bepergian. Meninggalkan rumah. Meninggalkan kesenangan kita". Bercerita pula beliau itu soal banyaknya barang yang dibeli tanpa mempertimbangkan kemanfaatannya. Kenapa begitu? Karena kalau hendak bepergian tak bisalah barang-barang itu masuk ke dalam tas ransel. Berpikir. Melihat kamar. Tak jauh berbedalah kami. Ada banyak barang yang berakhir sebagai peramai kamar tanpa tahu kebermanfaatannya yang lain.
Tersadarlah. Semua barang jadi serba diperhitungkan manfaatnya.
Contoh : Beli tas diliat bisa dipakai untuk bepergian atau tidak, ada tempat air minumnya atau tidak, praktis dan muat banyak barang atau tidak. Inilah alasan kenapa hati tetap memilih tas ransel. Alasannya : tidak mudah dijambret, memuat banyak barang, menghemat plastik kalau belanja (tinggal masuk tas) dan lain-lainnya. Begitu juga akhirnya ketika membeli mushaf, mukena, sikat gigi, tempat peniti, buku. Memilih yang ringkas, agar barang-barang tersebut masuk ke dalam tas.
Bekal perjalanan seorang musafir adalah barang-barang yang ada dalam tasnya. Pantang mengandalkan orang lain. Sepele memang. Tapi sepemahaman penulis pun Rasululullah SAW selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu sendiri, ketika memang itu bisa beliau lakukan sendiri.
Maka dari itu, syukur tak terkira saat rezeki berlimpah datang. Seorang saudari datang membelikan mushaf mungil, yang lainnya membelikan mukena parasut berwarna pink, belum lagi jaket parasut hangat berwarna merah. Orang-orang teramat baiklah kepadaku. Perjalanan ke berbagai kota pun semakin mantap akan persiapan. Yah, persiapan adalah sebaik-baiknya pengusahaan. Kita tak pernah tahu dititik mana 'jeda' kita di dunia berakhir.
Kau tahu kawan, belajar adil itu tidak mudah. Perlu latihan terus-menerus. Belajar meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jadi, coba tengok kamarmu sejenak. Adakah barang-barang yang didalamnya masih berguna hanya sebagai 'peramai'? Yah, saya belajar. Bahwa keadilan yang kita tuntut selama ini bermula dari isi kamar kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar