Langsung ke konten utama

Belajar Hidup Dari Musafir [1]

Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan. Begitulah secara awam diartikan. Sekilas balik menengok sejarah.

Putri. Lahir di Klaten. Usia dua bulan diajak hijrah bersama Bapak ke kota metropolitan. Tinggal di kontrakan Engkong kawasan Jakarta Timur. Usia 4 tahun hijrah ke Bogor. Dulu tempat kami tinggal masih masuk kotamadya Bogor, hingga menginjak bangku Sekolah Dasar barulah menjadi kotamadya sendiri. Depok. Menjalani pendidikan Taman Kanak-kanak dan seragam putih merah di Depok. Sekolah Menengah Pertama di Jakarta Timur, Sekolah Menengah Atas di Jakarta Selatan, Kuliah S1 di Solo. Itu baru pendidikan. Hobi jalan-jalan yang terwaris dari Ayah menjadikan beberapa kota lainnya yang pernah disinggahi.

Setelah kilas balik tibalah sepucuk surat dari karib asal Ciamis. Isinya "Tis, belajar hidup dari seorang musafir. Kita ini musafir toh? Tuntutan peran dan semangat menuntut ilmu kadang menjadikan kita harus siap untuk bepergian. Meninggalkan rumah. Meninggalkan kesenangan kita". Bercerita pula beliau itu soal banyaknya barang yang dibeli tanpa mempertimbangkan kemanfaatannya. Kenapa begitu? Karena kalau hendak bepergian tak bisalah barang-barang itu masuk ke dalam tas ransel. Berpikir. Melihat kamar. Tak jauh berbedalah kami. Ada banyak barang yang berakhir sebagai peramai kamar tanpa tahu kebermanfaatannya yang lain.

Tersadarlah. Semua barang jadi serba diperhitungkan manfaatnya.
Contoh : Beli tas diliat bisa dipakai untuk bepergian atau tidak, ada tempat air minumnya atau tidak, praktis dan muat banyak barang atau tidak. Inilah alasan kenapa hati tetap memilih tas ransel. Alasannya : tidak mudah dijambret, memuat banyak barang, menghemat plastik kalau belanja (tinggal masuk tas) dan lain-lainnya. Begitu juga akhirnya ketika membeli mushaf, mukena, sikat gigi, tempat peniti, buku. Memilih yang ringkas, agar barang-barang tersebut masuk ke dalam tas.

Bekal perjalanan seorang musafir adalah barang-barang yang ada dalam tasnya. Pantang mengandalkan orang lain. Sepele memang. Tapi sepemahaman penulis pun Rasululullah SAW selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu sendiri, ketika memang itu bisa beliau lakukan sendiri.

Maka dari itu, syukur tak terkira saat rezeki berlimpah datang. Seorang saudari datang membelikan mushaf mungil, yang lainnya membelikan mukena parasut berwarna pink, belum lagi jaket parasut hangat berwarna merah. Orang-orang teramat baiklah kepadaku. Perjalanan ke berbagai kota pun semakin mantap akan persiapan. Yah, persiapan adalah sebaik-baiknya pengusahaan. Kita tak pernah tahu dititik mana 'jeda' kita di dunia berakhir.

Kau tahu kawan, belajar adil itu tidak mudah. Perlu latihan terus-menerus. Belajar meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jadi, coba tengok kamarmu sejenak. Adakah barang-barang yang didalamnya masih berguna hanya sebagai 'peramai'? Yah, saya belajar. Bahwa keadilan yang kita tuntut selama ini bermula dari isi kamar kita sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...