Langsung ke konten utama

Kepada Mereka

“Ada yg dengan kedewasaan, ia mengajariku kesabaran. Ada pula yang melalui diamnya aku belajar keikhlasan karena dalam intipku ia terus bekerja. Ia yg apa adanya mendikteku kebijaksanaan, bagaimana berlaku hikmah. Yang ikhlas belajar, membuatku berkaca malu. Ada yang melalui semangatnya menunjukkanku arti lelah, bukan dengan ucapan melainkan tindakan. Ada juga yg ketidakhadirannya memberikanku arti perjuangan” -SF-

Penggalan puisi di atas mengingatkan saya akan orang-orang yang teramat berarti hadirnya dalam hidup saya. Mereka yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu namanya. Sebenarnya bisa saja saya sebutkan, tapi biar saja itu menjadi rahasia pribadi saya dengan Maha Penjaga Rahasia.

Mereka adalah para pemilik mata yang selalu bersyukur melihat keagungan Tuhan di segala penjuru BumiNya.

Mereka adalah pemilik kata-kata yang menentramkan orang-orang yang bercengkrama dengan mereka.

Mereka adalah para pemilik pundak yang kokoh menjaga amanah-amanah kecil dan besarnya.

Mereka adalah para pemilik telinga yang tidak kunjung lelah mendengar celoteh keluh kesah karibnya.

Mereka adalah para pemilik tangan yang tidak pernah melepas genggamannya dalam barisan perjuangan.

Mereka adalah para pemilik kaki yang tak bosan berjalan sampai pada tujuan.

Mereka adalah orang-orang yang bisa fokus pada tujuan walaupun di kanan dan kiri orang-orang riuh ramai dengan cibiran dan pujian.

Pada satu titik, itulah alasan saya menghormati dan menyayangi mereka. Mereka memilih bertahan dalam kesunyian, menjaga kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, bertahan lebih lama daripada orang-orang lainnya. Ahh...betapapun kalian menyembunyikannya. Suatu saat nanti, bila tiba masanya “arti memastikan keberadaannya”. Maka, semesta berbahagia memiliki kalian. Semoga Allah menjaga kalian semuanya dimanapun. Jauh ataupun dekat. Sampai jumpa lagi ya

*senyum*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...