Jam di warnet menunjukkan pukul 20.43. Dua puluh menit waktu yang tersisa untuk menuliskan sebuah cerita.
Hari kamis dua minggu yang lalu, sesaat sebelum saya berkumpul dengan teman-teman keren Baktinusa UNS, sepupu saya menelpon. Dia bilang mbah Daman kakung meninggal. Saya kaget bukan kepalang. Sebab, sebelumnya beliau masih sangat sehat bahkan kerap menjadi imam di masjid kampung. Beberapa saat kemudian om saya menelpon hingga Ibu saya yang menelpon. Ketika saya angkat, saya menduga Ibu akan langsung memberikan komando apa-apa yang harus saya lakukan esok hari. Tapi...tidak demikian ceritanya. Ketika telepon itu saya jawab. Terdengar suara Ibu
Halo? Titis dimana?
Lagi kumpul, Bu dengan teman-teman Baktinusa
Gimana Jepangnya?
Waa, seru Bu
Titis senang gak?
(kemudian berceritalah saya)
Titis bahagia kan?
sesaat itu juga ada telusup haru masuk di benak. Bahkan ketika dalam kondisi yang sebenarnya ada duka yang ingin disampaikannya, tapi selalu ada sempat untuk menanyakan kabar hati anaknya.
Jadi, tulisan ini hanya awal sebelum saya akan memulai perjalanan kesempatan lima hari di Sapporo, Hokkaido. Dua bulan penuh cerita. Dua bulan yang sangat penuh akan Kuasa Allah, doa-doa Ibu, Bapak, Mbak Febri, dan Ayu dan (mungkin) dia yang entah dimana...
bersambung
Komentar
Posting Komentar