Langsung ke konten utama

#Jepang 10: Bertahan

Welcome Hokkaido. Tepat setahun yang lalu Allah izinkan hambanNya yang faqir ini merasakan lembutnya buliran salju. Seorang anak penjual ayam keliling menginjakkan kaki di atas daratan putih. Jika bukan karena kehendak Allah dan izinNya maka tak akan bisa raga serta jiwa ini sampai kesana.

Dalam diam saya mencari hikmah mengapa Allah izinkan saya menginjakkan kaki di bumiNya yang penuh salju. Berbeda dengan Tokyo, salju di perfektur Hokkaido sangat banyak dan tebal. Menurut penuturan Mbak Lina salah satu anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hokkaido, suhu saat itu terhitung normal. Dalam cuaca ekstrem, suhu bisa mencapai minus 25 derajat bahkan lebih rendah lagi. Dingin banget! Dan ada kebodohan yang saya lakukan. Alas kaki saya adalah sendal bermerk cross berwarna pink seperti foto di bawah ini. Hahaha

Dari sekian banyak persiapan, saya luput mempersiapkan alas kaki yang tepat digunakan untuk musim dingin. Saat ingat sudah dalam posisi siap terbang. Rencana untuk beli sepatu pun gagal karena uang pas-pasan. Akhirnya, kami memilih bertahan dengan perbekalan yang sudah disiapkan. Kami? Ya kami berempat (saya, Upik, Takwa, dan Ayu) sama-sama menggunakan sepatu yang lebih cocok dipakai saat musim panas. Hahaha  

Belajar tentang bertahan hidup, ada beberapa hal di kota Sapporo yang mengajarkan kami untuk lebih berani, supel, dan tentunya berhati-hati.
  1. Sebagian masyarakat Jepang tidak mahir untuk berbicara aktif dalam bahasa Inggris dan mengerti percakapan dengan bahasa Inggris. Akhirnya, bahasa yang lebih sering gunakan adalah bahasa tubuh. Termasuk senyum :)). Nanti saya ceritain deh baiknya orang-orang Jepang.
  2. Susahnya mencari warung makan dan makanan yang menjual makanan halal. Hari pertama tiba di Sapporo, kami makan di sebuah warung makan cepat saji yang memiliki banyak cabang di negara lain termasuk Indonesia. Kami pesan chicken burger. Tapi kami dapat teguran sekaligus masukan dari salah seorang PPI Hokkaido. Beberapa ayam yang dijual di tempat makan cepat saji itu masih tergolong syubhat, karena kita gak tahu saat digoreng menggunakan minyak apa? Kemudian motong ayamnya mengucap basmallah atau tidak? Kemudian saat di masak apakah berbarengan atau dicampur dengan daging babi atau gak? Akhirnya kami kemana-mana membawa bekal roti dan onigiri. Alhamdulillahnya kami bisa menemukan warung makan Indonesia, walaupun harus jalan beberapa kilometer dulu untuk sampai kesana. Ditambah nyasar. Hahaha
  3. Sebagai agen rahmatan lil alamin kami mengusahakan untuk tetap tepat waktu untuk Sholat. Walaupun harus berwudhu di wastafel, berjalan kaki ke masjid yang jauh, atau membuat risih para penghuni hostel saat Shubuh karena tidak terbiasa bangun sepagi kami. Alhamdulillah, di kota Sapporo ada masjidnya lho.
  4. Keterbatasan uang, mahalnya biaya transportasi kemana-mana menjadikan kami harus kuat untuk berjalan kaki cukup jauh. Walaupun pedestriannya memang sudah sangat bagus dan menyenangkan untuk para pejalan kaki. Bahkan saya pikir sebagian besar masyarakat Jepang pun berjalan kaki.
  5. Menahan hawa dingin yang menusuk tulang dengan alas kaki seadanya. Hehehe (kalau ini murni keteledoran kami). Sst ini loh gambar sendal yang menjadi teman bertahan dari dinginnya salju. 
Tara. Ini dia sendal yang dipakai untuk menjelajah sebagian kota Sapporo stau tahun silam

Dalam salah satu sesi presentasi karya ilmiah, seorang mahasiswa Hokkaido University berkebangsaan Indonesia, pak Puthut Prehantoro pernah mengajar di kepulauan paling utara Jepang lebih utara dari posisi perfektur Hokkaido. Beliau pernah mengatakan bahwa orang yang bisa bertahan hidup adalah mereka yang cepat beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. Di tempatnya beliau mengajar, suhunya lebih dingin daripada di Hokkaido. Saya ingat dia pernah berujar dalam ceritanya dengan bahasa Inggris, “Suhu disini lebih hangat, makanya saya tidak perlu menggunakan jaket tebal”. Pernyataan beliau sangat menarik dan terus saya ingat. Tanpa sadar justru pernyataan tersebut menjadi penguat bagi saya untuk bisa bertahan hidup dimanapun tempatnya. Tentu saja, dalam upaya bertahan itu kita juga berdoa mengharap Ridho Allah untuk menguatkan dan memampukan kita.

Begitulah...
Jepang, Perfektur Hokkaido, khususnya kota Sapporo mengajarkan tentang makna bertahan hidup. Bahwa Muslim harus kuat, entah itu musim panas, dingin, semi, gugur, atau penghujan. Bertahan bukan karena siapa dia tapi karena penghambaan kita padaNya, bertahan sekuatnya untuk tegaknya Dien, bertahan untuk iman kita.


Well, saya berdoa meminta mesim semi tapi Allah memberikan musim dingin. Apakah saya menyesal? Betapa setiap ketetapan Allah itu selalu mendatangkan hikmah, keberkahan yang insya Allah berlapis-lapis (kata-katanya Ust. Salim). All praises to Allah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...