Welcome Hokkaido. Tepat
setahun yang lalu Allah izinkan hambanNya yang faqir ini merasakan lembutnya
buliran salju. Seorang anak penjual ayam keliling menginjakkan kaki di atas daratan
putih. Jika bukan karena kehendak Allah dan izinNya maka tak akan bisa raga
serta jiwa ini sampai kesana.
Dalam diam saya mencari hikmah mengapa Allah izinkan saya
menginjakkan kaki di bumiNya yang penuh salju. Berbeda dengan Tokyo, salju di
perfektur Hokkaido sangat banyak dan tebal. Menurut penuturan Mbak Lina salah
satu anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hokkaido, suhu saat itu
terhitung normal. Dalam cuaca ekstrem, suhu bisa mencapai minus 25 derajat
bahkan lebih rendah lagi. Dingin banget! Dan ada kebodohan yang saya lakukan.
Alas kaki saya adalah sendal bermerk cross berwarna pink seperti foto di bawah
ini. Hahaha
Dari sekian banyak persiapan, saya luput mempersiapkan alas
kaki yang tepat digunakan untuk musim dingin. Saat ingat sudah dalam posisi
siap terbang. Rencana untuk beli sepatu pun gagal karena uang pas-pasan.
Akhirnya, kami memilih bertahan dengan perbekalan yang sudah disiapkan. Kami? Ya
kami berempat (saya, Upik, Takwa, dan Ayu) sama-sama menggunakan sepatu yang
lebih cocok dipakai saat musim panas. Hahaha
Belajar tentang bertahan hidup, ada beberapa hal di kota
Sapporo yang mengajarkan kami untuk lebih berani, supel, dan tentunya
berhati-hati.
- Sebagian masyarakat
Jepang tidak mahir untuk berbicara aktif dalam bahasa Inggris dan mengerti
percakapan dengan bahasa Inggris. Akhirnya, bahasa yang lebih sering
gunakan adalah bahasa tubuh. Termasuk senyum :)). Nanti saya ceritain deh baiknya orang-orang Jepang.
- Susahnya mencari
warung makan dan makanan yang menjual makanan halal. Hari pertama tiba di
Sapporo, kami makan di sebuah warung makan cepat saji yang memiliki banyak
cabang di negara lain termasuk Indonesia. Kami pesan chicken burger. Tapi kami dapat teguran sekaligus masukan dari
salah seorang PPI Hokkaido. Beberapa ayam yang dijual di tempat makan
cepat saji itu masih tergolong syubhat, karena kita gak tahu saat digoreng menggunakan minyak apa? Kemudian motong
ayamnya mengucap basmallah atau
tidak? Kemudian saat di masak apakah berbarengan atau dicampur dengan
daging babi atau gak? Akhirnya
kami kemana-mana membawa bekal roti dan onigiri. Alhamdulillahnya kami
bisa menemukan warung makan Indonesia, walaupun harus jalan beberapa
kilometer dulu untuk sampai kesana. Ditambah nyasar. Hahaha
- Sebagai agen rahmatan lil alamin kami
mengusahakan untuk tetap tepat waktu untuk Sholat. Walaupun harus berwudhu
di wastafel, berjalan kaki ke masjid yang jauh, atau membuat risih para
penghuni hostel saat Shubuh karena tidak terbiasa bangun sepagi kami. Alhamdulillah, di kota Sapporo ada
masjidnya lho.
- Keterbatasan uang,
mahalnya biaya transportasi kemana-mana menjadikan kami harus kuat untuk
berjalan kaki cukup jauh. Walaupun pedestriannya
memang sudah sangat bagus dan menyenangkan untuk para pejalan kaki. Bahkan
saya pikir sebagian besar masyarakat Jepang pun berjalan kaki.
- Menahan hawa dingin
yang menusuk tulang dengan alas kaki seadanya. Hehehe (kalau ini murni
keteledoran kami). Sst ini loh gambar sendal yang menjadi teman bertahan dari dinginnya salju.
![]() |
| Tara. Ini dia sendal yang dipakai untuk menjelajah sebagian kota Sapporo stau tahun silam |
Dalam salah satu sesi presentasi karya ilmiah, seorang mahasiswa
Hokkaido University berkebangsaan Indonesia, pak Puthut Prehantoro pernah
mengajar di kepulauan paling utara Jepang lebih utara dari posisi perfektur
Hokkaido. Beliau pernah mengatakan bahwa orang yang bisa bertahan hidup adalah
mereka yang cepat beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. Di tempatnya
beliau mengajar, suhunya lebih dingin daripada di Hokkaido. Saya ingat dia
pernah berujar dalam ceritanya dengan bahasa Inggris, “Suhu disini lebih
hangat, makanya saya tidak perlu menggunakan jaket tebal”. Pernyataan beliau
sangat menarik dan terus saya ingat. Tanpa sadar justru pernyataan tersebut
menjadi penguat bagi saya untuk bisa bertahan hidup dimanapun tempatnya. Tentu
saja, dalam upaya bertahan itu kita juga berdoa mengharap Ridho Allah untuk
menguatkan dan memampukan kita.
Begitulah...
Jepang, Perfektur Hokkaido, khususnya kota Sapporo mengajarkan
tentang makna bertahan hidup. Bahwa Muslim harus kuat, entah itu musim panas,
dingin, semi, gugur, atau penghujan. Bertahan bukan karena siapa dia tapi
karena penghambaan kita padaNya, bertahan sekuatnya untuk tegaknya Dien,
bertahan untuk iman kita.
Well, saya berdoa
meminta mesim semi tapi Allah memberikan musim dingin. Apakah saya menyesal? Betapa
setiap ketetapan Allah itu selalu mendatangkan hikmah, keberkahan yang insya
Allah berlapis-lapis (kata-katanya Ust. Salim). All praises to Allah...

Komentar
Posting Komentar