Langsung ke konten utama

Random #2

Orang-orang bilang "Dibalik laki-laki yang hebat pasti ada sosok perempuan yang hebat pula"
Kemudian, dalam sebuah perjalanan aku merenung dan sampai pada pemahaman yang lainnya.

"Di samping perempuan yang hebat, ada laki-laki yang bijaksana"

Tak banyak  laki-laki di zaman digital ini yang bersikap bijaksana bagi perempuan untuk terus menuntut ilmu. Jika dikatakan perempuan adalah pilar peradaban maka jelas perempuan harus cerdas. Ilmu selalu penting sebagai bekal membangun peradaban. Banyak yang mengatakan perempuan itu hanya seputar sumur, dapur, dan kasur. Padahal, untuk bisa memberikan yang terbaik di sumur, dapur, dan kasur, perempuan tetap butuh ilmu.

Jadi, buat kamu
Fitrah perempuan sejati sebagai Ibu
Membangun peradaban
Maka, sekolah setinggi apapun tidak pernah sia-sia kalau nantinya akan tetap kembali pada sumur, dapur, dan kasur
Tidak! tidak ada yang sia-sia

Katanya, kamu ingin jadi perempuan hebat kan? Jangan berhenti ya. Jangan berhenti pergi ke tempat-tempat hadirnya ilmu.
Bertahan ya, bertahan dari letihnya menemukan kebenaran. Sebab, kemenangan hanya untuk mereka yang bertahan lebih lama dari siapapun.

Semangat ya :)
Semoga kelak, aku, kamu, kita jadi sebaik-baiknya perhiasan dunia. Tak hanya di dunia, tapi juga disebaik-baiknya tempat berlabuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...