Langsung ke konten utama

#Jepang 3: Takdir

Disaat kita sudah hampir lupa dengan keinginan kita, justru keinginan itu benar-benar terjadi.

Aku bikin target. Awal November fiksasi judul Skripsi, kemudian akhir November setelah pleno mulai fokus cari pembimbing dan mulai BAB 1. Diskusi ke beberapa dosen, mulai dari pak Hakim, Bu Menik, sampai pak Arif. Semua berjalan seperti air mengalir. Begitu ada kesempatan, siap maju ke dosen. Alhamdulilah di tengah tegangnya menyiapkan re-organisasi HIMAPSI, Allah kasih kemudahan untuk Skripsi.

Tanggapan positif mengenai judul skripsi menjadikan semangat dan optimis untuk menyelesaikan tugas akhir. Hingga suatu hari ada pesan masuk dari seorang adik namanya Adi Sutakwa biasa dipanggil Takwa, isinya “mbak, bulan Februari ke Jepang yuk?”. Eh? Aku kaget. Darimana anak ini tahu kalau aku punya impian ke Jepang? Baru ketemu aja beberapa kali itupun karena dia jadi volunteer gerakan sosial Bakti Nusa UNS Aksi Cinta Budaya Indonesia (ACBI). Akhirnya, aku setujui ajakannya.

Beberapa hari selanjutnya, dia sms lagi mencari satu orang anggota tim. Kemudian kenallah dengan seorang adik lainnya bernama Luthfiyah Dyaka biasa dipanggil Upik.

Terorengroreng
Ternyata aku yang paling tua dalam tim. Takwa mahasiswa jurusan Ilmu Teknologi Pangan angkatan 2011 sedangkan Upik mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika angkatan 2012.

Akhir November, setelah Musyawarah Besar HIMAPSI dan resmi lengser dari amanah setahun lalu bertemulah kami. Sore-sore di danau samping Rektorat. Kami berkenalan, mencari ide tulisan, membagi tugas. Diskusi dan membahas banyak hal sampai curhat colongan.

Di penghujung sore berhias senja, Allah mempertemukan dengan sosok-sosok guru kecil. Kok bisa?
Mereka berdulah yang kelak lebih banyak mendengar keluh kesah atau berurusan dengan kepanikanku serta mengajarkan banyak hal tentang kedewasaan hidup.

Dalam hari-hari perjuangan menuju Jepang, ada benang merah yang aku ambil. Kita ditakdirkan bertemu, menjadi satu tim, dan berangkat bersama. Sebab, kita punya mimpi yang sama.

Jepang...itulah alasan dari dari pertemuan yang Allah rancang untuk kita


bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...