Langsung ke konten utama

Diam-diam


Bismillahirrahmannirahim

Ungkapan ini bukan apa-apa. Belum bisa mengungkap seluruh rasanya. Maknanya dari bagian hati terbawah dan mungkin akan mendapat tempat dibawah. Tak apa-apa, asalkan datang dari hati.        

Dalam bilangan waktu yang tidak sedikit. Ada kebaikan yang diredam-redam. Diam-diam. Ada yang melantun doa di sepertiga malam. Diam-diam. Ada yang ikhlas bekerja tanpa keluhan. Diam-diam. Ada yang rela memberi uang tanpa harap imbalan.

Diam-diam. Ada yang mengisi ruang dalam diri. Ada yang dengan kedewasaan, ia mengajari arti kesabaran. Ada juga yang dengan sikap tak acuhnya ternyata dalam intipku dia gigih bekerja. Dia yang ikhlas membuatku berkaca malu. Dia yang dengan semangatnya justru mengajarkanku arti lelah. Bukan dari perkataan tapi perbuatan. Dia yang tetap sederhana di antara menara prestasinya. Pun dia yang tidak pernah hadir mengajarkan kesungguhan dalam perjuangan.

Dia adalah yang berani mengambil bagian. Saat yang lain pergi. Ia kembali. Saat yang lain mencaci. Ia bertahan teruji. Berbuah hikmah dalam diri.

Semoga jalan inilah yang semakin membuat Allah bertambah sayang dengan kamu dan kita semua. Amanah bukan urusan kita dengan mereka atau siapapun di dunia ini, tapi urusan kita dengan Tuhan yang telah menggerakkan hati untuk memilih kita sebagai qiyadah di bumiNya.

Meneguh ya, menguatkan dua bahu kecil kita. Karena Allah menciptakan bahu yang jauh lebih kuat dan kokoh dibanding amanahNya. Bertahan ya. Lebih lama dari siapapun. Kelak, bangsa ini bangga memiliki anak bangsa seperti kalian kawan. [Inspirasi dari puisi Cinta Kelas Bawah karya Sakinah F]

Pengukir Sejarah
Aku tulis ini diam-diam
Kamu baca ini diam-diam
Ya...diam-diam saja. Biar Allah sayangnya makin dalam.


Ssst. Diam-diam saja ya. Kalau mereka selalu berhasil jadi inspirasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...