Langsung ke konten utama

Tentang Menangis

Tak jarang, orang yang menangis dijuluki cengeng, tidak tabah, mengumbar kesedihan, baper (bawa perasaan), dan sebagainya.

Ada sebuah cerita tentang berharganya sebuah air mata.

Di salah satu sekolah inklusi kota Solo, ada seorang anak laki-laki yang malu-malu saat bertemu dengan seorang guru. Butuh waktu hampir 15 menit agar ia mau main bersama sang guru, itupun dengan sedikit paksaan. Dari mana tahunya terpaksa? Saat diminta masuk ke kelas, ia menangis. Dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, hanya jatuh beberapa tetes. Anak-anak biasanya akan leluasa mengeluarkan teriakan dan air matanya untuk menunjukkan rasa takut, marah, sedih, sakit. Tapi anak ini berbeda. Setelah diselidiki, anak itu memang sangat susah menangis, bahkan pernah harus diberikan pemahaman “gak papa menangis, mas boleh menangis”. Tahu penyebabnya? Ayahnya seorang tentara, dalam pendidikan di keluarga sang anak tidak boleh menunjukkan kelemahan, apalagi menangis. Jadilah ia selalu menahan air matanya bahkan cenderung tidak bisa mengekpresikan rasa takutnya, sedihnya, dan sebagainya dengan menangis.

Namun, apakah setiap air mata yang menetes itu bermakna kesedihan, rasa takut, marah?
Lantas mengapa pasangan suami istri itu menangis sesaat setelah ijab qabul dilakukan? Bukankah pernikahan adalah sebuah kebahagiaan?
Mengapa pula seorang Ibu dan Ayah menangis saat mendengar tangis anak pertamanya lahir ke dunia?

Air mata merupakan modal yang dimiliki setiap mukmin untuk menghadap Rabbnya.
Ada banyak sekali kisah orang-orang sholih yang menghabiskan sepertiga malamnya hanya untuk menangis, mengadukan segala ujian hidup yang tak berkesudahan.
Pernahkah kita berpikir, mengapa Allah menjadikan seorang yang gila lebih banyak tertawa daripada menangis?
Jika manusia lebih banyak tertawa, sebenarnya ia lebih dekat pada kegilaan atau ketaatan?

Jika seorang hamba tidak pernah mau menunjukkan kelemahannya pada Allah dengan air matanya, itu sama saja ia bersikap angkuh pada Allah. Maka, adakah ia akan dapat makna bahagia sebenarnya?

Jangan sampai Allah mengambil anugerah air mata itu dan mengabutkan nurani hambaNya.

Well, menangis itu boleh. Sangat diperbolehkan. Apalagi jika dengan menangis justru akan menambah ketaatan kita, lagi dan lagi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...