Langsung ke konten utama

Pola Berpikir Setan

Hari itu adalah training value terakhir bagi penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan Ketiga. Temanya brotherhood. Pak Romi selaku Direktur Beastudi Indonesia datang untuk menjelaskan tema tersebut pada kami. Ada kalimat menarik dari beliau yang sampai detik ini sangat menginspirasi saya.

“Jauhilah pola berpikir setan”.

Apa itu pola berpikir setan?
Ketika kita berpikir bahwa kita tidak pantas datang ke masjid dan merasa tidak pantas untuk berteman dengan orang-orang sholih/sholihah.

Jawaban pak Romi seperti tamparan keras pada diri ini. Betapa selama ini seringkali pikiran itu datang. Merasa bahwa para akhi dan ukhti masjid itu adalah orang-orang alim yang eksklusif. Sebenarnya, mereka yang eksklusif atau diri kita yang terlalu sombong?

Saya jadi teringat penggalan lagu obat hati yang dibawakan oleh Opick. Obat hati ada lima perkara. Salah satunya adalah berkumpul dengan orang sholih. Jika mendatangi masjid saja tidak mau, lantas kemana lagi kita mencari teman baik? Bukankah masjid adalah rumah Allah? Dan Allah menjanjikan sebuah ketenangan pada apapun yang mendekatkanNya. Maka ketika berpikir tidak pantas untuk datang ke masjid, sesungguhnya setan sedang membisikkan ke dalam hati kita untuk menjauh padaNya.

Di akhir sesi pak Romi berpesan bahwa sesungguhnya ukhuwah/persaudaraan itu hanyalah buah dari keimanan kita. Jika iman kita baik, maka tentu saja setiap Muslim akan kita anggap sebagai saudara baik, kita akan nyaman berteman dengan siapapun. Sebaliknya, jika iman kita sedang compang-camping, maka hanya akan ada iri hati, dendam pada kenikmatan yang hinggap pada orang-orang disekeliling kita.

Brotherhood adalah tentang konsistensi pada nilai-nilai (istiqomah dalam keimanan).
Itulah mengapa Islam menjanjikan sebuah soliditas internal sejak dari berikrarnya tauhid kita hanya pada Allah. Indah bukan?

Well, training value selalu menyisakan perenungan yang panjang. Tak jarang harus berpikir ulang tentang apa yang selama ini menjadi pemahaman.

Bukankah kita memang harus selalu lapang dalam menerima kebenaran?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...