“Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...”
“Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...”
“Ayam Ayaaaam. Ayaaam, Buuu...”
“Bu, Nisa pulang ya. Sudah jam 10, Nisa harus
siap-siap berangkat sekolah. Lagipula, Nisa sudah ikut jualan keliling cukup jauh,
Bu,” pinta Nisa.
“Sebentar lagi ya, nduk. Jualan Ibu masih banyak. Masih berat bawaan Ibu,” Nisa
mengangguk lesu.
“Mbaaaaak, beli Ayamnya!”
“Alhamdulillah.
Nah itu ada yang beli jualan Ibu, nduk. Kamu pulang sekarang ndak papa. Nanti sampaikan pada Bude
Warni, adikmu jangan lupa diingatkan untuk makan dan tidur siang ya,” pesan Ibu.
“Iya, Bu. Nisa pulang ya. Ibu hati-hati
jualannya,” pamit Nisa sambil mencium tangan Ibu.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah,
Nisa tertegun melihat bangunan rumah-rumah di komplek perumahan tempat Ibu
berjualan ayam keliling. Nisa membatin,
“Kapan
ya Nisa bisa punya rumah sebagus itu? Rumah dengan taman yang luas. Setiap sore
Nisa bisa duduk di taman dan bersenda gurau dengan Ibu, Bapak, juga dik Ayu.”
“Eh
Nisa, kamu mikir apa to? Membanding-bandingkan rezeki kita dengan orang lain
itu ciri manusia yang tidak bersyukur. Ingat nasihat Ibu, Nis!”
Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya
sendiri. Astagfirullah...
***
Man
purposes, Allah disposes. Sudah hampir tiga tahun Bapak
Nisa tidak bekerja dan menjalani perawatan di Kampung. Awalnya, Bapak bekerja
sebagai mandor di sebuah perusahaan konstruksi. Bisa dibilang Bapak merupakan
mandor kepercayaan pemimpin perusahaan. Namun, suatu hari Bapak mengundurkan
diri dari pekerjaannya. Selang beberapa hari kemudian, Bapak sering
berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Beragam upaya dilakukan, mulai dari
mengundang Ustad untuk me-ruqyah
sampai membawa ke Rumah Sakit Jiwa. Bapak menjadi berbeda. Kawan-kawan Bapak
berusaha menawari pekerjaan, tapi Bapak menolaknya. Kata orang, Bapak Nisa di
“guna-guna”. Kata Ibu, Bapak mengalami trauma pekerjaan. Nisa bingung. Nisa
yang saat itu duduk di kelas II SD hanya ingat Ibu sering menjual perhiasan serta
beberapa perabotan rumah agar bisa bertahan hidup, karena dik Ayu yang berusia
2 (dua) tahun butuh banyak asupan gizi. Nisa juga kehilangan sosok Bapak. Tak
ada lagi oleh-oleh makanan atau mainan sepulang Bapak kerja. Tak ada lagi
cerita-cerita Bapak. Hingga akhirnya, Ibu memutuskan menjadi penjual ayam
keliling sementara Bapak menjalani perawatan di Kampung.
***
“Assalamualaikum, Bude Warni. Tadi Ibu titip pesan supaya dik Ayu diingatkan untuk makan
dan tidur siang. Nisa mau berangkat sekolah dulu. Nanti Ibu yang jemput dik Ayu
sepulang jualan.” jelas Nisa pada Bude Warni.
“Wa’alaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Iya nduk Nisa,
tenang saja. Kamu hati-hati yang sekolah. Sekolah yang rajin, biar pintar,
besok jadi orang sukses bisa bahagiakan Ibu Bapak! Ini uang saku untuk jajan di
sekolah dari Bude,” jawab Bude.
“Aamin. Terima kasih Bude. Semoga Allah membalas
kebaikan Bude dengan kebaikan yang lebih baik. Nisa berangkat ya Bude. Assalamualaikum,” pamit Nisa sambil
mencium tangan Bude Warni.
Di sekolah, Nisa memiliki
perangai yang santun dan rendah hati sehingga membuat guru-guru dan teman-teman
sayang padanya. Tak jarang Bapak dan Ibu Guru membeli ayam pada Ibu Nisa dan membayarnya
dengan uang lebih sebagai tambahan uang saku Nisa. Suatu hari, Nisa pernah di
goda oleh salah seorang temannya yang iseng,
“Ayam ayaaam. Ayam
ayaaam. Ayaaaaam, Buuu,” goda Dodit sambil memperagakan diri selayaknya orang
yang membawa ember berisi ayam.
Beberapa temannya ada yang tertawa
melihat tingkat Dodit, sementara beberapa teman lainnya memelototi Dodit,
memberi peringatan bahwa tingkahnya bisa menyakiti hati Nisa. Kejadian itu
membuat Nisa malu karena ia hanya anak seorang penjual ayam keliling. Diutarakan
perasaanya itu pada Ibu.
“Bu, maaf ya. Nisa malu
tadi di goda teman kalau Nisa anak seorang pedagang ayam keliling. Bapak dan
Ibu teman-teman Nisa rata-rata bekerja sebagai pegawai.”
Kemudian Ibu menjawab penuh kasih sayang
sambil membelai rambut Nisa,
“Nduk, kenapa harus malu. Kalau di goda ya biar saja. Kan Nisa memang benar anak pedagang ayam
keliling. Biar sedikit uang yang didapat, biar pun harus bau ayam dan bermandi
keringat untuk jualan keliling, tapi in syaa Allah hasilnya halal, cukup untuk
sekolah dan kebutuhan sehari-sehari. Ibu kan
tidak melacur, tidak mencuri, nduk.
Kenapa harus malu?”
Nisa selalu suka mendengar setiap
nasihat atau jawaban-jawaban Ibu atas pertanyaan juga kegelisahaannya. Diam-diam
Nisa bangga pada Ibu. Walau kadang berkeluh kesah karena peran ganda yang di
jalaninya, dan menuntut Nisa untuk banyak membantunya, tapi tak pernah Nisa
melihat surut perjuangannya.
Bagi Ibu, sesibuk
apapun selalu ada kata sempat untuk mendengarkan cerita Nisa tentang berbagai
kejadian di sekolah. Ibu juga selalu menekankan tiga nilai hidup yang harus
Nisa latih dan biasakan. Disiplin, jujur, dan tepat waktu. Tetangga rumah
sering memuji Nisa yang pandai mengatur diri. Pagi hari setelah solat Shubuh
hingga pukul 09.00, Nisa membantu Ibu menyiapkan dagangan. Pukul 09.00 – 11.00 jika
tidak ikut Ibu jualan keliling, Nisa menjaga Dik Ayu sambil bermain kemudian
menitipkan adiknya ke Bude Warni. Pukul 12.30 – 16.30 Nisa di sekolah. Sepulang
sekolah Nisa menyempatkan diri untuk memberishkan
rumah. Malam harinya, Nisa gunakan untuk belajar. Di rumah, saat Nisa bercerita
tentang nilai ujiannya yang mendapat nilai 100, Ibu hanya berkomentar,
“Bernilai 100 dimata Bapak dan Ibu guru itu baik, nduk. Tapi, bernilai 100 dimata Allah jauh lebih baik”. Nisa paham,
Ibu selalu mengutamakan kejujuran dalam proses daripada hasil. Soal tepat
waktu, Nisa selalu hadir 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Hasilnya, Nisa kerap
masuk ke dalam peringkat tiga terbaik di angkatannya serta beberapa kali
menjadi delegasi sekolah dalam perlombaan antar sekolah.
***
Suatu hari saat Nisa
duduk di bangku kelas VI SD, Nisa bertanya pada Ibu.
“Bu, Nisa nanti
melanjutkan sekolah dimana?” Ibu menjawab tegas, “Dimanapun sekolah yang Nisa
pilih. Ibu percaya Nisa bisa memilih sekolah yang baik bagi Nisa. Nisa belajar
bertanggung jawab dengan pilihan yang Nisa buat.”
Satu
tahun berlalu. Nisa memilih masuk ke SMP Unggulan di daerah Jakarta. Jualan Ibu
semakin ramai pembeli. Bapak sudah kembali ke rumah walaupun belum mau bekerja.
Ibu, Nisa, dan Ayu terus memberikan perhatian pada Bapak, tak lupa berdoa bagi
kesehatan fisik maupun jiwa Bapak. Di sekolah, Nisa aktif terlibat beberapa
kegiatan ekstrakurikuler. Ia sering ditunjuk sebagai pemimpin dan kerap
mengikuti berbagai lomba serta jambore Pramuka. Nisa juga belajar menjadi
pengajar Pramuka di sekolah lainnya.
Pengalaman pertamanya mengajar Pramuka,
Ibu bertanya,
“Gimana perasaannya, nduk?” Nisa menjawab, “Alhamdulillah senang, Bu. Tapi gaji yang
diberikan tidak besar, Bu.”
Kemudian Ibu berkata, “Alhamdulillah. Kalau Nisa senang
menjalaninya, Allah punya bayaran lebih besar daripada gaji Nisa, In syaa
Allah.”
Sejak hari itu rasa bangga Nisa pada Ibu
semakin besar. Nisa jadi teringat salah satu cerita Ibu saat sedang makan siang
bersama. Ibu pernah memiliki mimpi ingin menjadi seorang guru. Namun, Mbah Putri
tidak setuju Ibu masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG), akhirnya Ibu harus mengikhlaskan
impiannya menjadi guru dan menikah dengan Bapak. Nisa paham benar maksud
perkataan Ibu tentang bayaran Allah yang besar bagi setiap hambaNya yang mau
berbagi ilmu dan kebaikan.
Tiga
tahun kemudian, Nisa melanjutkan studinya di SMA Unggulan Jakarta dan
mendapatkan beasiswa. Jualan Ibu semakin bervariasi. Ikan asin, telur bebek,
ayam negeri, ayam petelur, ayam kampung, bahkan mentok. Bapak berangsur pulih.
Biasanya Bapak hanya duduk melamun, mengutak-atik sepeda atau keluar rumah
untuk bermain catur di pos ronda. Sekarang, Bapak sudah membantu Ibu berjualan.
Dik Ayu sudah kelas VII SMP dan Nisa sedang sangat bersemangat sebagai pengurus
OSIS. Seringkali Nisa baru pulang ke rumah pukul 9 malam, padahal berangkat
sekolah sejak pukul 05.30 pagi. Melihat kondisi Nisa yang banyak kegiatan dan
tugas, Ibu mengajak Nisa berbincang di meja makan.
“Nduk,
apa kegiatanmu itu ndak bisa
dikurangi? Kasihan badanmu. Ibu juga jadi jarang lihat kamu mengaji setelah
sholat Magrib. Kalau di sekolah masih membiasakan sholat Dhuha kan?”.
Nisa hanya mengangguk. Bahkan Nisa tak
kuasa menatap mata Ibu. Nisa sadar, banyaknya kegiatan di sekolah menjadikan
Nisa jarang membantu Ibu, juga meluangkan waktu untuk membaca Al Quran.
“Ibu bangga kalau Nisa bisa punya banyak
prestasi. Ibu juga senang kalau Nisa punya teman banyak. Tapi Ibu bahagia kalau
memiliki anak yang sholehah, berakhlak baik.”
“Bu, Nisa pamit ke kamar sebentar, ya.”
Tanpa menunggu jawaban Ibu, Nisa
bergegas pergi menuju kamar. Menghapus air mata yang tiba-tiba luruh di pipinya.
Maafkan Nisa, Bu.
***
5
tahun kemudian
“Jika ridha Allah itu terdapat pada
ridha seorang suami pada istrinya, maka besarnya jiwa perempuan ada pada
keikhlasan mencari keridhaan tersebut,” kata Kak Rani, saat mentoring pekanan
di kampus
Nisa merenungi kata-kata Kak Rani. Nisa
ingat perjuangan Ibu. Beliau bangun paling pagi untuk mencuci, menyiapkan
sarapan, menyiapkan dagangan. Kemudian berlelah seharian menahan lapar. Belum
lagi kesetiaan Ibu pada Bapak. Tak pernah terlintas dibenak Ibu untuk pergi
meninggalkan Bapak, bahkan Ibu harus menggantikan peran Bapak untuk mencari
nafkah. Ibu terus bertahan walau cobaan tak berkesudahan.
Pikiran Nisa terus
mengembara dalam kehidupan layar kaca. Ia ingat berita selebriti dengan euforia
megahnya sebuah resepsi pernikahan hingga perceraiannya. Sementara diantara
banyak kehidupan manusia lainnya, ada yang memulai pernikahan dengan sederhana
dan mereka menjadi pasangan yang sekuat tenaga menjaga layar perahunya agar bisa
selamat berlayar sampai ke tujuan. Mereka itulah yang sebenarnya lebih layak
menghiasi pandangan mata. Salah satunya pernikahan Bapak dan Ibu. Jika Ibu
tidak bertahan, mungkin hari ini Nisa dan Ayu tidak akan pernah merasakan
nikmatnya memiliki keluarga yang utuh. Tanpa sadar, Nisa menulis sebait sajak
di buku catatannya
Jelilah mata
kita menangkap laku teladannya
Jernihlah pikir
kita mengambil hikmah kehidupannya
Tajamlah rasa
kita pada kebaikan yang ditularkannya
Yakinlah laku
kita dalam melipatgandakan inspirasinya
Hingga berkah itulah
puncak gapaiannya
Kemudian Nisa bertanya pada dirinya
sendiri tentang kesiapan menjalani hari-hari panjang dalam sebuah pernikahan. Sementara
Ia lihat dalam kehidupan bermasyarakat kian samar ia menemukan makna cinta
sebenar. Salah menjadi benar, sedangkan benar menjadi cibiran. Nisa yakin, generasi
gemilang tak mungkin lahir tanpa waris keluhuran pekerti. Mencari ilmu dan
mengadabkan diri, hal itu yang harus ia lakukan. Tak lupa mengikatnya dengan
doa dalam hati. Doa yang sering dibacanya di dalam Al Quran :
Robbanaa
hablanaa min azwaajinaa wa dzurruyyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil
muttaqiina imamaa
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam
bagi orang-orang yang bertakwa” (Q. S. Al Furqan : 74)
***
“Assalamualaikum.
Bu, Pak, Dik Ayu, Nisa berangkat dulu ya. Anak-anak sudah menanti Nisa di
sekolah. Doakan berkah ya.” pamit Nisa sambil mencium tangan Ibu dan Bapak.
“Wa’alaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati ya nduk. Semangat mengajarnya.” Ibu menyemangati.
“Bapak titip salam buat murid-murid
Nisa. Jadi guru yang digugu lan ditiru ya,
nduk.” Bapak menimpali Ibu.
Dik Ayu menarik tangan Nisa kemudian
berbisik “Mbak, kamu terbaik.”
Nisa tersenyum pada ketiganya sambil
membatin, “Setiap perempuan bisa bertitel
Ibu ataupun Guru, tapi tidak semuanya layak menjadi pendidik dan menjadi
teladan bagi anak-anaknya. Mungkin Ibu gagal menjadi Guru, tapi Ibu berhasil
menjadi pendidik yang baik bagi Nisa dan Ayu.
Komentar
Posting Komentar