Solo, Mei 2015
Kata orang, hidup
adalah pilihan. Kalau kita boleh memilih, mungkin kita akan memilih lahir dari
keluarga yang utuh, memiliki pemahaman agama yang baik, dan harta berkecukupan.
Tiga aspek yang menjadi paket komplit dambaan setiap manusia. Sayangnya kita
tidak bisa memilih takdir. Namun, doa selalu bisa menjadi jembatan antara
takdir dan harapan. Bagaimana pun kita terlahir di dunia, Allah selalu punya
cara agar kita menemukanNya. Entah lewat guru kehidupan, ruang-ruang belajar,
buku, ataupun alam semesta. Allah selalu punya cara agar kita menemukanNya,
kembali padaNya...
“Nay, kamu melamun ya?” tanya Rere sambil menyenggol tanganku.
“Eh..anu..umm.. hanya sedang merenung” jawabku tergagap.
“Hayo merenungi siapa?” goda Rere.
“Eh? Bukan merenungi siapa, tapi apa yang sedang aku renungkan. Pertanyaan
itu lebih tepat, Re. Hehe. Re, aku
yang sekarang berbeda sekali dengan yang dulu. Aku yang dulunya seorang anak
pecinta alam, suka berdandan dan bertingkah semauku sendiri. Tapi sekarang udah jadi roker (istilah untuk perempuan
yang sering menggunakan rok) pakai jilbab lebar pula. Dulu pertama kali
memutuskan berjilbab, aku canggung jika harus bertemu dengan teman-teman lama
sebab pasti aku akan digoda. Pernah juga terlintas keraguan ketika ku putuskan
mengenakan jilbab. Untung ada mbak Nisa, sang mentor terbaik. Beliau yang
meyakinkanku untuk terus berjilbab. Istiqomah
ya, Nay. Begitu pesan beliau. Dulu aku gak
ngerti makna istiqomah, Re. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku paham
bahwa mengeja makna istiqomah butuh
waktu seumur hidup.” kataku pada Rere sambil tersenyum menahan bongkahan air di
pelupuk mata.
“Alhamdulillah...Itu kan dulu.
Setiap orang pasti punya cerita spesial tentang hijrah mereka di jalan Allah.
Sekarang kita sama-sama mengeja istiqomah
dalam hidup ya. Jangan lupa kita “ikat” dengan doa dalam ukhuwah kita” kata Rere
padaku.
Perasaanku hanyut
akan nikmatnya persahabatan atas namaNya. Benarlah adanya, tak akan ada
persahabatan sejati jika tidak disandarkan pada yang sejati pula. Sementara itu
kelebat perjalanan hijrahku bermunculan. Allah... All praises to Allah...
***
Pasar Minggu, Juni 2007
“Nah, perlu diperhatikan ya Dik
beberapa peraturan di sekolah bagi siswa-siswi yang beragama Islam. Pertama,
seluruh warga sekolah yang Muslim wajib mengikuti tadarus Al Quran setiap pagi,
15 menit sebelum jam pertama dimulai. Khusus yang perempuan silahkan mengenakan
jilbab saat tadarus berlangsung. Bagi yang beragama lain, silahkan ke ruangan
audio visual untuk melaksanakan kegiatan kerohaniannya. Kedua, setiap hari
Jum’at dan mata pelajaran agama Islam, wajib bagi perempuan menggunakan jilbab.
Ketiga, setelah solat Jum’at akan ada kegiatan mentoring di Masjid Sekolah. Ada
yang mau ditanyakan?” papar salah satu seniorku saat Masa Orientasi Sekolah
(MOS).
Mendengar pemaparan dari kakak OSIS itu aku hanya bisa
membatin, “ini sekolah negeri, atau
pesantren, ya?”.
***
Hari-hari sekolah
Kring...kring...kring...
tepat saat bel sekolah berbunyi, pintu gerbang di tutup. Siapapun yang
terlambat, baik itu kepala sekolah, guru, atau siswa, harus menunggu di depan
gerbang. Sementara guru-guru lainnya dan seluruh siswa masuk ke dalam kelas
untuk melaksanakan tadarus Al Quran. Rutinitas itu berlangsung setiap hari
Senin bila tidak ada upacara dan hari Selasa sampai Jum’at sebelum memulai
aktivitas pembelajaran, ujian, bahkan class
meeting. Seringkali kami bermain tebak-tebakkan, siapa yang akan memimpin
pembacaan tadarus Al Quran pagi ini.
“Semoga nanti Kak Raihan yang pimpin baca Al Quran, habis suaranya bagus, sih.” kata salah seorang temanku.
Aku hanya mengangguk, mengiyakannya sambil tersenyum
kecil.
Aku bersyukur
terdidik di Sekolah Unggulan Pasar Minggu. Peraturan sekolah yang ketat
menjadikan kedisiplinan sebagai harga mati. Salah satunya disiplin dengan
rutinitas membaca Al Quran setiap pagi. Bagi siswa yang tidak serius membaca Al
Quran dan bagi siswi yang tidak memakai jilbab, siap-siap berurusan dengan guru
piket. Selain kedisiplinan, lingkungan sekolah juga mendidik nilai keimanan dan
ketaqwaan. Pernah saat pelajaran agama Islam aku tidak mengenakan jilbab,
kemudian Bu Muslimah guru agama Islam menegurku. “Tumben Nay jilbabnya gak dipakai”. Pertemuan berikutnya
dengan Bu Mus, jilbab selalu tersemat rapi di kepalaku.
Tidak cukup dengan
pelajaran agama Islam yang diajarkan setiap satu minggu sekali, diadakanlah
kegiatan wajib mentoring pekanan selama tahun pertama di Masjid Sekolah. Adapun
di tahun kedua dan ketiga, mentoring hanya dilakukan untuk siswa/siswi yang
mengikuti follow up. Sejujurnya aku
nyaman bergabung dengan kakak-kakak Rohis. Wajah teduh, tutur santun, dan
ketenangan setiap bersama mereka. Tapi di lain sisi seringkali aku terhasut
dengan celetukan teman. “Kita cabut mentoring aja yuk, males banget mentoring melulu. Bosen juga sama materinya”, ujar
temanku. Hatiku menolak, tapi aku hanya bisa membatin daripada mengungkapkan
langsung pada teman-teman “jangan bolos Nay,
gak enak sama Kak Rani, beliau baik banget loh”. Selain itu, aku juga gengsi kalau gak ikut main dengan teman-teman. Jadilah aku pernah bolos
mentoring dengan diliputi perasaan bersalah.
Suatu hari, kak Rani sebagai kakak mentorku mengirimkan
pesan singkat, isinya:
Seorang wanita muslim, tidak
boleh menunda berhijab hanya karena merasa pengetahuan agamanya masih minim.
Hijab adalah bentuk kasih sayang-Nya pada muslimah, jika berani menolak
perlindungan Allah hendak berlindung kemanakah lagi? (Gara-gara Hijabku)
Di lain waktu, kak Rani mengirimkan pesan singkat yang
berisi :
Anas bin Malik ra menerangkan
bahwa Rasulullah bersabda : Kalau sekiranya perempuan ahli surga datang ke
bumi, pasti akan disinarinya dunia antara langit dan bumi dan dipenuhinya
dengan bau semerbak harum. Sesungguhnya tutup kepalanya lebih baik dari dunia
dan seisinya.
Aku tergugu membacanya. Kapan aku siap memakai jilbab?
Pernah aku bilang pada Ibu untuk mengenakan jilbab saat sekolah. Tapi beliau
bilang, “Gak usah pakai jilbab, nanti
kamu susah cari kerjanya, mbak”. Ku urungkan niatan itu, mungkin belum
waktunya. Hingga suatu ketika, kakak kandungku memustuskan mengenakan jilbab.
“Mbak, lo gak takut dimarahin Ibu
pakai jilbab? Kata Ibu nanti susah cari kerjanya.” tanyaku.
“Rezeki itu sudah ada yang atur, Nay.” jawabnya.
Perang batin muncul
di benakku. Sebagian hatiku meyakinkan untuk segera menunaikan perintah dalam
surat Al Ahzab ayat 59. Sebagian hati yang lain meragu dengan rasionalisasi
bahwa aku belum siap. Kamu jilbabin hati
kamu dulu, baru jilbabin rambut dan kepalamu, Nay. Belum lagi aku pernah
memergoki salah seorang teman sekelasku yang berjilbab, tapi dia pacaran. Sedih
aku dibuatnya. Sungguh aku kecewa padanya. Buat apa berjilbab lebar tapi masih
pacaran? Karena kekecewaan itu, aku memutuskan untuk tidak mau lanjut mentoring
lagi. Buat apa mentoring, kalau yang
rajin mentoring malah jadi pacaran.
“Naya, lanjut mentoring lagi, kan?” tanya kak Rani.
“Maaf ya Kak, saya kayanya gak lanjut
mentoring. Tapi nanti kalau ada kegiatan Rohis saya siap bantu kok.”
Tapi Allah selalu punya cara agar aku dekat denganNya.
Temanku Risti yang saat itu menjabat sebagai Ketua Keputrian menawariku untuk
menjadi pengurus Rohis di bidang kewirausahaan.
“Please ya Nay,
kamu bantuin di kepengurusan ini” bujuk Risti.
“Tapi Ris, gue punya amanah juga jadi Instruktur di Siswa
Pecinta Alam (Sispala). Lagipula gue gak pake
jilbab gini Ris. Malu lah. Gak pantas jadi anak Rohis. Gak sholehah banget” kataku.
“Nay, kamu tahu gak
makna sholehah? Sholehah itu bukannya sudah baik, tapi terus bertambah lebih
baik. Setiap manusia punya proses masing-masing menuju kebaikan dan di Rohis
kita berproses bareng untuk jadi sholehah. Lagipula kami yakin kok sama
kemampuan kamu. Mau ya Nay bantuin kami? jelas Risti sambil tersenyum meminta
jawaban padaku.
“Bismillah ya Ris...”
“Jazakillah khair, Naya”
Aku bertanya-tanya pada diriku. Seorang Naya yang lebih
sering bergaul dan berkumpul dengan laki-laki jadi anak Rohis? Udah gitu belum berjilbab dan masih sering
pakai celana tiga perempat kalau kemana-mana. Yakin pantas? Hingga di ujung
kepengurusan Rohis, aku sadar bahwa amanahku tidak ku jalankan dengan maksimal.
Terlebih lagi, aku pernah beberapa kali datang ke pesta ulang tahun temanku
hingga larut malam. Tak hanya itu, di penghujung masa SMA, teman sekelasku mengajak
untuk ikut Prom Night. Bahkan ia rela
membayari dan meminjamkan pakaian padaku. Aku pun mengiyakan tawarannya. Alumni
Rohis macam apa aku ini? Namun, sepulangnya dari acara Prom Night, aku berjanji dalam diriku tak ada lagi pulang malam hanya untuk kesenangan dunia yang sedikit
mengandung manfaat. Kusampaikan pada temanku, aku menyesal. Esok saat jadi
mahasiswa aku tak mau terlibat dengan acara semacam itu lagi. Temanku bilang,
“Buat lo mungkin ini yang terakhir, Nay. Tapi buat gue ini baru awal”. Aku
terhenyak mendengarnya.
***
Solo, Agustus 2010
Merantau.
Hidup jauh dari orang tua membuatku punya pilihan bebas atas segala hal yang
ingin aku perbuat. Toh, Bapak dan Ibu tidak akan tahu jika aku tidak bercerita.
Bagi sebagian orang, bebas adalah puncak dari kebahagiaan. Entah kenapa aku tak
bersepakat. Sebab, bebas tanpa batas justru berakibat celaka. Maka, mulailah
aku mencari makna kebahagiaan sejati saat aku menyandang status mahasiswa
tingkat pertama.
Pencarian
berawal saat Orientasi Mahasiswa Baru (Osmaru). Aku takjub dengan fenomena
hampir 70% teman sekelasku yang berjenis kelamin perempuan dan beragama Islam
mengenakan jilbab. Aku tanya satu per satu alasan mereka mengenakan jilbab. Ada
yang menarik, kisah Umi yang memutuskan berjilbab setelah ia berhijrah masuk
Islam. Padahal ia dulu menjabat sebagai ketua Kerohanian Katholik di
sekolahnya. Hafalan Al Qurannya pun sudah banyak. Ada pula temanku yang
memutuskan masuk Islam beberapa hari setelah Osmaru berlangsung. Tak lama
setelah itu ia pun memutuskan untuk memakai jilbab. Bukan main malunya aku
terhadap mereka. Aku yang mengaku Islam sejak dari lahir dan besar dari
keluarga Islam tapi seperti makhluk bernyawa yang tak paham benar makna Islam
sebenarnya. Ditambah lagi, aku tak kunjung mengenakan jilbab. Padahal dosen
agama Islam ku mewajibkan setiap mahasiswinya untuk mengenakan jilbab saat
perkuliahan berlangsung.
Tiba-tiba,
keinginan untuk mengenakan jilbab itu muncul lagi. Keinginan yang semakin
besar. Hingga setelah hari raya Idul Adha, aku kembali ke Solo dengan bekal
kerudung berwarna abu-abu yang aku minta dari kakakku.
“Mbak, kerudung ini gue bawa ya.” pintaku.
“Buat apa?” tanyanya.
“Buat kuliah, buat Asistensi Agama Islam (AAI/mentoring di kampus), buat
apa aja mbak” jawabku.
Di perkuliahan agama Islam hari itu, aku tampil berbeda.
Kerudung abu-abu yang aku kenakan pun tidak aku lepas sampai perkuliahan
selesai. Dua hari sekali aku ke kampus mengenakan jilbab. Ketika teman-temanku
bertanya, “Kamu sekarang pakai jilbab, Nay”. Aku hanya tersenyum kemudian
menjawab, “umm, aku mau AAI.” “AAI kok
hampir setiap hari”, ujar mereka. Penampilanku yang kadang pakai jilbab, kadang
tidak itu mengundang respon beberapa kakak tingkat juga mbak-mbak di kosan.
“Nay, kalau kamu mau serius pakai jilbab ya dipakai terus. Kan malu kalau
ketemu orang lain kadang pakai jilbab, kadang gak pakai. Malu juga sama Allah. Ini jilbab buat kamu. Dipakai
ya...”
“...”
Bismillah aku bulatkan tekad. Ya Rabb, aku jemput hidayahMu.
Keputusan berhijrah
itu mendatangkan banyak komentar dari orang sekeliling. Banyak yang positif,
ada juga yang negatif.
“Naya, kamu jadi beda sekarang. Gak
asik kaya dulu”
“Subhanallah Ukhti Naya”
Bahkan Ibuku
sendiri pun bilang “Mbak, nanti kamu susah cari kerja lho”
Aku jawab mantap “Bu, in syaa Allah ada pekerjaan yang sudah Allah siapkan
untuk orang-orang yang berpegang teguh di jalan Allah”.
Waktu berputar. Semula jilbabku belum menutup dada secara
sempurna. Setahun kemudian aku tekadkan untuk bertambah lebih baik. Orang-orang
bilang jangan pernah cepat merasa puas.
Aku coba maknai rasa tidak cepat puas itu untuk terus memperbaiki akhlak dan
penampilanku sebagai seorang muslimah. Seminggu sekali aku ke kampus
menggunakan rok. Banyak sekali yang menertawakan bahkan pernah teman di lembaga
kampus tanpa disengaja mengatakan “Naya, kamu gak pantes pakai rok”. Perkataan itu tak terlupa, tapi justru
semakin memacu semangatku berubah lebih baik. Ku tuliskan impianku untuk terus
bertambah sholehah dalam buku harianku. Ku buntal juga harapan itu dengan doa.
Perlahan celana jeans beralih menjadi celana bahan. Aku tingkatkan tekad untuk
seminggu tiga kali ke kampus mengenakan rok. Kerudung yang semula hanya satu
lapis pun kemudian aku pertebal, agar telinga dan leherku tidak nampak. Hingga
Allah mengabulkan salah satu mimpiku. Allah beri aku kesempatan untuk pergi ke
Negeri Matahari Terbit. Pada saat proses pembuatan paspor, mbak Nisa mengirim
pesan singkat padaku.
Dear Naya, dimanapun kamu
berada nantinya. Selalu ingat ya, kamu adalah agen rahmatan lil alamin. Jadi
muslimah keren dimanapun. Uhibukifillah...dan tetap ‘saling menggenggam’
karenanNya
Aku tekadkan. Jika Allah ridha dan lancarkan semua proses
keberangkatanku, aku akan menjadi sebaik-baiknya muslimah disana.
***
Jepang, Februari 2013
Perjalanan
di atas awan itu meninggalkan kesan mendalam padaNya. Hari itu aku menjejak di
Bumi Sakura, menghimpun hikmahNya yang terserak. Menjadikannya menara
kesyukuran. Dalam pencarian makna bahagia, aku tahu jawabnya. Bahwa bahagia
bukanlah bebas merdeka tanpa tenang yang menyertainya. Sedangkan tenang
hanyalah bersamaNya. Maka bahagia adalah ketika mengingatNya. Selalu
mengingatNya. Aku jadi ingat tulisan buatan mbak Nisa untukku dua tahun lalu:
“Tahukah? Muslimah yang baik,
yang menutup auratnya. Menjaga dirinya. Memuliakan dirinya dengan akhlakul
karimah seperti mawar mekar berduri. Cantik. Anggun. Tapi mampu menjaga
dirinya. Tak semua bisa menyentuhnya. Tak semua bisa memetiknya. Terjaga.
Ketika seorang muslimah
berhijab namun akhlaknya belum baik. Ia laksana mawar kuncup namun tetap
berduri. Dan bunga kuncup masih bisa mekar ketika ia disiram, dipupuk, tumbuh
di tempat yang subur. Terus menerus dirawat hingga akhirnya dia mekar.
Ketika seorang muslimah belum
berhijab namun akhlaknya baik. Ia laksana mawar merekah namun sayang tidak
berduri. Cantik memang. Tapi siapapun bisa memetiknya. Si cantik tanpa
pertahanan. Sayang bukan?”
Ketika cinta berawal dari keanggunan serta keteladanan
dan jilbab yang jadi pilihan cinta kita, maka semoga itulah kita, Sang Mawar
yang merekah dan berduri. Cantik terjaga.
***
“Nayaaaa, please jangan suka melamun atau merenung
gitu lagi. Sebentar lagi mentoring dimulai, Nay. Kamu sudah siap-siap hafalan
belum?” tegur Rere padaku.
“Ehehehe, Iya Re iyaa. Terima kasih sudah diingatkan”
kataku sambil mengelurkan Al Quran dari dalam tas.
Aku merapikan posisi dudukku di dalam lingkaran mentoring
sore itu. Lingkaran cahaya yang orang-orangnya kelak aku rindukan untuk
melingkar bersama pula di Syurga.
***
Untuk setiap wanita di dunia. Side by side or miles apart,
we’re sisters. Connecting by Iman. Janji ya... Jangan lupa bahagia. Jangan salah memakna bahagia~
Komentar
Posting Komentar