Langsung ke konten utama

Coba-coba Menagih Janji Anak Bangsa

Ada janji yang coba-coba hendak ditagih Indonesia. Termaktub dalam kalimat-kalimat di bawah ini :
Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah baca. Tulisan ini bukan apa-apa. Belum bisa mengungkap seluruh rasanya. Maknanya dari bagian hati terbawah dan mungkin akan mendapat tempat dibawah. Tak apa-apa, asalkan dari hati.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah belajar. Ketika kita mengaku sudah belajar, seharusnya ada sebuah perubahan dalam diri yang sifatnya permanen. Sudahkah kita belajar?

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah bekerja. Menggenggam asa. Menebar benih-benih kebaikan. Merawat Indonesia. Kerja-kerja besar selalu membutuhkan dia yang bertahan lebih lama.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah memilih. Jalan terbaik yang pantas dilewati. Coba-cobalah pahami. Semakin paham, semakin cinta.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah mencinta. Mencintai rintangan-rintangannya. Mencintai kemudahan-kemudahan pula. Ada konsekuensi sebuah cinta. Memberi yang terbaik.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah menjeda. Duduk sejenak. Melihat semesta. Mengambil hikmah yang terserak. Kemudian bergegas mengambil peran.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah mengambil peran. Saat yang lain pergi. Ia kembali. Saat yang lain mencaci. Ia bertahan teruji. Berbuah hikmah dalam diri.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah diam. Meredam-redam kebaikan. Diam-diam melantun doa perjuangan di sepertiga malam. Diam-diam berkarya tanpa keluhan. Diam-diam rela berkorban tanpa harap imbalan. Sebab lelah ditunjukkan bukan dengan kata, tapi kerja.

Pesta lima tahunan di Indonesia selalu menjadi ajang menyebar janji-janji kesejahteraan. Dari sekian banyak janji, jarang sekali yang kontennya mengenai lingkungan. Lebih melulu soal kemiskinan, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Baiklah, isu-isu lingkungan memang bukan isu yang menjadi seru diperbincangkan karena memberikan dampak yang tidak langsung. Sekarang kita telaah satu per satu masalah-masalah lingkungan di Indonesia. 

Pernah dengar istilah banjir lima tahunan Jakarta? Kini tak lagi lima tahunan, bahkan satu tahunan saja sungai Ciliwung sudah tidak mampu lagi membendung luapan air jika musim penghujan datang. Tanggul-tangul jebol. Pemukiman padat. Sampah berserakan. Jadilah air meluap ke jalan-jalan aspal. Sederhana mulanya. Kita tidak membuang sampah pada tempatnya. Kita juga lalai mengindahkan peraturan untuk tidak membangun rumah di bantaran sungai. Ya, kita teramat tidak peduli menjalankan kebijakan-kebijakan mengenai ketahanan lingkungan.

Masih ingatkah akan peristiwa di Riau beberapa waktu lalu? Satu bulan lamanya Riau diselimuti kabut asap hingga asumsi 1% Oksigen dan 99% racun. Tercatat 41.500 orang menderita ISPA (kompas.com). Ngeri benar. Kalau kondisi di Riau berlanjut hingga sekarang, entah berapa makhluk hidup yang masih bisa bertahan dengan persediaan oksigen hanya 1%.

Hutan-hutan digunduli. Tanah dikeruk. Gunungan emas di jarah. Ribuan ton hasil tambang di keruk. Jutaan isi lautan bercampur dengan ampas-ampas pabrik. Kepada bangsa manalagi Indonesia menaruh kepercayaan? Bahkan tidak pada bangsanya sendiri. Kontrak Freeport berhasil diperpanjang. Apa kabar Papua 50 tahun mendatang? Tak sabar melihat banyaknya gorong-gorong bawah tanah yang melintasi seantero tanah kaya di timur Indonesia. Terlampau miris membayangkannya.

Isu-isu lingkungan tidaklah berdampak langsung kepada masyarakat seperti isu-isu mengenai kemiskinan. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya manusia sadar bahwa alam menjadi korban keangkuhan. Temperatur suhu udara yang terus meningkat dari tahun ke tahun dengan lapisan ozon yang semakin menipis adalah dampak yang paling dirasakan secara mendunia. Beragam upaya dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Perlahan banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak nyata terhadap permasalahan lingkungan. Namun, kampanye, penyuluhan, dan penanaman kesadaran cinta alam di rasa masih sulit di implementasikan karena sebagian besar masyarakat belum merasakan benar dampak keserakahan mengeksploitasi alam. Indonesia butuh anak bangsa yang cerdas secara ekologis dalam memimpin.

Kecerdasan ekologis manusia, berupa pemahaman dan penerjemahan hubungan manusia dengan seluruh unsur beserta mahluk hidup lain. Manusia yang cerdas ekologis menempatkan dirinya sebagai control terhadap lingkungannya (human as in control of the natural environment). Kecerdasan ekologis sebagai empati dan kepedulian yang mendalam terhadap lingkungan sekitar, serta cara berpikir kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar akibat perlakuan kita (Jung, 2010). Kecerdasan ekologis menghendaki manusia untuk menerapkan apa yang dialaminya dan dipelajarinya tentang hubungan aktivitas manusia dengan ekosistem. Kecerdasan ekologis menempa manusia menata emosi, pikiran dan tindakannya dalam menyikapi jagat raya. Kecerdasan ekologis dituangkan dalam bentuk sikap dan perilaku nyata yang mempertimbangkan kapasitas ekologis, dan melahirkan sikap setia kawan manusia dengan alam (Hultkrantz, dalam Sternberg, 2004). Alam semesta bukan hanya sumber eksploitasi tetapi sebagai rumah hidup bersama yang terus dilindungi, dirawat, ditata dan bukan dihancurkan.

Kita bisa mengambil teladan dari Ridwan Kamil. Beliau banyak melakukan inovasi di bidang tata kota yang pro terhadap lingkungan dengan membangun banyak taman-taman di pusat kota Bandung. Menilik juga di beberapa kota, salah satunya di Solo, pendidikan sekolah alam mulai diminati. Belum lagi di Jakarta dan Yogyakarta terdapat komunitas yang berhasil membangun kawasan kumuh menjadi hijau serta produktif. Memang kerja-kerja hebat hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sedia bertahan lebih lama dari siapapun. Tak hanya kerja hebat, bangsa Indonesia juga membutuhkan kerja-kerja cerdas.

Era masyarakat ekonomi ASEAN tinggal menghitung bilangan hari. Pemilihan anak bangsa sebagai Presiden RI pun tak lama lagi. Jadi, kepada setiap anak bangsa yang telah berani mengambil perannya. Saat terpilih nanti, kami titipkan Ibu Pertiwi agar tidak lara lagi. Berjanjilah untuk menjadi pemimpin yang cerdas ekologis, berani membuat kebijakan yang mempertahankan kelestarian alam Indonesia, dan mengembangkan nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup yang lebih baik.

Kepada setiap anak bangsa. Coba-cobalah belajar merawat Indonesia. Menjaga benih-benih yang sedang tumbuh. Memberi pupuk-pupuk kualitas terbaik. Akhirnya, kita memanen buah paling lezat.


Solo, 22 April 2014

Komentar