“Kita kepo-kepo linimasa dia, kuy!”
“Beb, gi (lagi) apa?”
“Itu ada cabe-cabean lewat...”
Kita tentu tidak lagi asing mendengar
beberapa anak muda mengucapkan kalimat dengan berbagai kata slang. Kata-kata
yang sebenarnya tidak mengandung makna dan tidak ditemukan di dalam kamus
bahasa Indonesia namun sangat mengasyikan untuk diucapkan. Belum lagi istilah kids
jaman now yang semakin sering
dilontarkan dalam berbagai aktivitas di dunia maya maupun nyata. Apabila anak
muda tidak mengenal kata kuy, kepo, cus, sudah dipastikan ia akan
dianggap sebagai anak muda yang ketinggalan informasi. Biasanya anak muda tersebut
akan dijuluki si Kudet alias si Kurang Update.
Penggunaan
bahasa Indonesia yang tidak lagi memperhatikan kaidah penulisan dan pengucapan
kalimat berdasarkan EYD kian meresahkan masa depan literasi bangsa Indonesia.
Kekhawatiran pun semakin memuncak saat mahasiswa sebagai gambaran seluruh
pemuda ikut andil dalam menyebarluaskan bahasa slang dikalangan
anak-anak usia dini, SD, SMP, hingga SMA. Masa-masa pertumbuhan anak yang
semestinya dioptimalkan untuk mengajarkan adab, nilai, budaya, karakter justru
mengalami keguncangan akibat arus informasi yang membuat mereka semakin jauh
dari bahasa kebangsaan.
Menurut
Wan Daud dalam buku Budaya Ilmu dan Gagasan 1 Malaysia, keterpisahan masyarakat
(termasuk anak-anak), terutama golongan pelajar serta keterbatasannya dalam
menggunakan bahasa kebangsaan akan menimbulkan perasaan kurang hormat terhadap
sejarah dan peradaban bangsanya. Jika kita urai pendapat Wan Daud, tentu kita
bisa mengambil benang merah terhadap kondisi literasi Indonesia serta
kemunduran karakter pada pemuda Indonesia. Tekanan dan tuntutan intelektualitas
yang tinggi tanpa disejajarkan dengan etika, budaya bahasa, dan sejarah bangsa
berdampak pada hilangnya adab dan kebanggaan anak bangsa terhadap Indonesia.
Kondisi ini tentu bisa menjadi ancaman ditengah bonus demografi yang Indonesia
miliki saat ini.
Demikianlah
kerusakan bahasa berakibat pada hilangnya kecintaan pada bangsa hingga
muncullah banyak pemimpin palsu. Maksud dari pemimpin palsu adalah mereka yang
terpilih sebagai pemimpin namun hakikatnya tidak mengenal karakter bangsa yang
mereka pimpin. Hal tersebut senada dengan pendapat Al Attas tentang kerusakan
ilmu akan berakibat pada hilangnya adab dan lahirnya pemimpin palsu. Lahirnya
pemimpin-pemimpin palsu tentu bukan menjadi mimpi indah bagi Indonesia
dikemudian hari. Bagaimana jika nantinya pemimpin-pemimpin itu terpilih dan
bukan membuat suatu perbaikan namun melahirkan kebijakan yang mencederai seluruh
sumber daya alam yang dimiliki Indonesia? Tentunya memang harus ada upaya bersama,
sinergisitas antar pemuda, pemerintah, juga masyarakat dalam merawat generasi
penerus merah putih yang memiliki konsep kebangsaan kokoh dimulai dari
pengetahuannya terhadap bahasa, sastra, dan budaya yang baik.
Menerbitkan Sastra Balai Pustaka
Dalam kurun waktu satu
dasawarsa terakhir, minat siswa terhadap karya sastra Melayu semakin rendah.
Budaya dan bahasa Melayu adalah dua hal yang sangat dekat dengan sejarah budaya
bangsa Indonesia. Jika kita berselancar di dunia maya, artikel mengenai novel Melayu
sangat minim jumlahnya apabila dibandingkan dengan jumlah pemilik blog dengan
konten budaya Korea baik synopsis film, lirik lagu, maupun kabar terkini artis
Korea kesukaan. Para siswa lebih bisa menjelaskan mengenai berbagai hal tentang
Korea daripada bercerita mengenai karya Marah Rusli, Sutan Takdir Alisyahbana.
Lebih mengenaskan lagi apabila kita bertanya, “Apakah kamu tahu tentang Novel
Siti Nurbaya dan Salah Asuhan?” para siswa akan menjawab dengan gelengan
kepala.
Fenomena tersebut
tentunya bukan menjadi kesalahan para sutradara film Korea atau pemilik
stasiun televisi, namun guru juga memiliki tanggung jawab untuk kembali
membumikan sastra sejak dini. Hadirnya sastra di Sekolah Dasar akan menjadi
salah satu cara untuk mengenalkan anak-anak pada identitas bangsa Indonesia.
Penerbitan buku-buku karya Balai Pustaka pun menjadi bagian penting. Dengan
penerbitan buku-buku karya Balai Pustaka baik secara cetak maupun online para
siswa akan dimudahkan untuk mendapatkan kembali buku-buku bermuatan sastra.
Apabila buku-buku mudah didapatkan tentunya pekerjaan rumah selanjutnya adalah
membangun berbagai program atau metode untuk membumikan sastra di sekolah.
Pendekatan Appreciative
Inquiry yang pernah ditulis oleh Bukik bisa menjadi salah satu referensi
bagi guru untuk mengenalkan sastra sejak Sekolah Dasar. Anak-anak bisa diajak
untu membuat pantun bersama atau bermain drama tentang tema Salah Asuhan
misalnya. Gerakan menabung buku disekolah juga bisa menjadi salah satu
alternatif pilihan untuk membangun kesadaran anak-anak membeli buku. Tentu
rasanya akan berbeda jika anak-anak menabung uang di rumah untuk membeli buku.
Menabung buku bersama teman-teman akan memotivasi mereka untuk bisa
mengumpulkan uang yang sama dan membeli buku yang sama dengan teman-teman
lainnya. Selanjutnya, guru memilih duta literasi di masing-masing kelas sebagai
teladan sekaligus koordinator gerakan menabung buku di nsekolah. Kemudia,
sekolah dapat membuat program literasi satu hari membaca 5 halaman buku di
sekolah. Lagi-lagi melakukan suatu kegiatan bersama-sama tentu
sangatlah menyenangkan. Dengan demikian, perlahan namun pasti kesadaran siswa
pada buku akan muncul hingga sampai kepada kecintaan. Jika sudah cinta, seorang
anak manusia tentu akan berusaha memberikan atau menampilkan yang terbaik.
Salah satu bukti cintanya adalah munculnya perasaan malu saat tidak mengucapkan
atau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Peran guru sangat besar
untuk membumikan lagi sastra, sebab sebanyak apapun seorang murid membaca buku,
namun tanpa guru ia hanya akan tumbuh dan hidup menjadi sosok manusia yang
tidak tahu malu. Tanpa guru, manusia cenderung akan membuat asumsi baru bahkan
menafsirkan suatu hal sesuai dengan sudut pandangnya saja, sehingga ia menjadi
manusia yang ‘semaunya sendiri’.
Mewujud 1 Indonesia
Penguasaan bahasa
kebangsaan yang utuh akan membantu pemahaman anak bangsa terhadap sejarahnya.
Pemahaman ini akan mampu mengestafetkan berbagai cita-cita mendiang Bapak dan
Ibu Bangsa. Kekokohan fikir dan kuatnya penggunaan bahasa akan menjadi salah
satu langkkah menyelematkan negara. Coba kita berkaca pada banyaknya kasus SARA
yang semakin gencar ditayangkan media. Internalisasi bahasa yang baik akan
menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa seperti bunyi salah satu Sumpah
Pemuda bahwa kami pemuda dan pemudi Indonesia menjunjung tinggi bahasa
persatuan, bahasa Indonesia.
Dalam sebuah jurnal
penelitian karya Erni Triani mengenai Pentingnya Sastra bagi Perkembangan Jiwa
dan Perubahan Sosial disebutkan bahwa salah satu fungsi sastra adalah
menyenangkan dan berguna. Setelah membaca sastra diharapkkan para pembaca akan
terasah jiwanya sehingga menjadi pribadi yang arif dalam memandang kehidupan.
Mengambil syair dalam lagu Indonesia Raya, W. R. Supratman menuliskan lirik untuk
membangun jiwa dulu sebelum membangun badan. Hal tersebut menarik untuk
diselami lebih jauh, bahwa kekuatan jiwa menjadi entitas dasar dalam mewujudkan
hal-hal besar. Salah satunya dalam mewujudkan satu Indonesia.
Gagasan Satu Indonesia
bermakna sebuah negara yang maju dan bahagia dan masyarakatnya memiliki adab
dan budaya luhur. Tak hanya itu, budaya kecintaan terhadap ilmu dan guru juga
menjadi salah satu bakti utama bagi setiap masyarakatnya. Sehingga potret hari
ini ketika banyak anak bangsa yang mengecilkan arti seorang guru bahkan berani
mengolok-olok, menghina di dunia maya bahkan dalam ruang kelas tidak akan kita
temui lagi. Makka, terberkahilah setiap elemen yang terlibat didalamnya. Mari
berbenah bersama, merawat Indonesia mendidik generasi merah putih. Panjang umur
pendidikan Indonesia!
Komentar
Posting Komentar