Langsung ke konten utama

Jingga

http://www.jajahkota.com/?p=content&id=7
Alhamdulilah di muat :D

Teks Kiriman


Jingga

Tak peduli saat dimana kaki sedang menapakkan langkah di bumi. Maka jingga akan selalu mendamaikan. Membuat diri lebih dekat denganNya, melebihi dekatnya urat nadi. Semburat orange, adakalanya tidak sesempurna warna biasanya pun sering pula terlihat lebih cantik dengan garis langit keunguan. Memandangnya sedetik demi sedetik memunculkan lagi segala memori dari perjalanan hidup yang selama ini sudah terekam. Tak peduli mengamati dengan lamat seorang diri ataupun dibersamai orang lain, rasanya tetap nikmat. Nikmat Tuhan yang tidak pernah terdustakan. Suatu ketika, saat Tuhan memberikan kesempatan berlayar ke negeri-negeri seberang. Mencoba mencari rasa lain di antara semua jingga. Bali, Lampung, Jakarta, Bogor, Semarang bahkan puncak-puncak ketinggian. Ahh, getarannya akan selalu sama. Hanya cara memaknainya yang berbeda hingga membuat diri semakin terkungkung akan nikmatNya.
Pada sebuah ketinggian, Lawu 3265 mdpl (meter di atas permukaan laut) selalu menyuguhkan hal menarik. Cemoro kandang, Cemoro Sewu, Candi Sukuh ataupun Cokrosuryo. Jalur-jalur pilihan menuju puncak Hargo Dumilah. Teringat dipergantian tahun 2010 menuju 2011, melakukan misi perjalanan dibersamai satu orang wanita tangguh dan enam orang pejantan yang gak kalah tangguh. Nyaris dua tahun yang lalu. Saat-saat belajar bahwa mendaki sebuah puncak itu tidak melulu tentang langit biru, negeri di atas awan, bintang langit, bintang bumi ataupun embun pagi sebelum cahaya. Adakalanya hanya kabut, kabut, dan kabut saja yang ditemui. Lantas kalau hanya kabut, akankah perjalanan kemudian terhenti? Tidak! Karena dipenghujung biru dan kabut hari itu ada jingga yang menjanjikan. Jingga yang dihiasi Elang Jawa membumbung terbang di antara ladang dan bau tanah basah.
Jingga di ketinggian 3000 mdpl selalu membuat diri ini ingin kembali meniti langkah di antara jurang-jurang.
Kemudian memanjakan mata dengan rakus lewat jingga ataupun biru diantara dua jingga. Belajar memaknai dan mengambil pelajaran dari setiap peluh yang menetes. Menikmati sepi.
Well, hanya ada dua jingga yang Tuhan berikan. Pertama saat matahari terbit (Fajar) yg kedua saat matahari terbenam (Senja). Sadarkah? Keduanya adalah hal yang paling dinanti dimuka bumi. Jingga yang menandai bahwa cukup sudah waktu kita untuk beristirahat dan bekerja. Jingga yang diperuntukkan untuk mengucap syukur akan nikmat hidup sehabis lelap dan sebagai penutup hari saat letih mulai menyapa. Kali ini syukur yang lebih dalam. Akan selalu ada hikmah yang sebenarnya bisa kita petik di antara dua jingga.  Selalu hidup dan selalu ada cerita.
Seperti Senja Cokrosuryo. Senja cerita dan cinta. Hingga suatu ketika, saat kurasa tak ada lagi cinta, ku tahu akan ada jingga, senja.
Kita tulis cerita yang tak kan kita lupa
Bersama di bawah langit senja
Kita nyatakan saja kepada mereka lewat sebuah lagu
Asmara kau dan aku
Di bumi yang indah di khatulistiwa (Budi-Asmara Nusantara)

Senja Cokrosuryo seolah memberikan kesadaran akan makna cinta yang sesungguhnya. Tentang bagaimana menempatkan cinta pada ruang-ruangnya. Pun menyadarkan akan rindu terhadap sosok bersahaja. Bahwa satu-satunya cara untuk menabung rindu mendua adalah dengan terus semakin bersahaja dan memperbaiki diri. Hingga suatu saat nanti Tuhan beri yang terbaik di tempat terbaik. Senja Cokrosuryo adalah saat dimana Tuhan memberikan sebuah kesempatan besar melihat pertanda-pertanda untuk kemudian menjawab titik-titik hidup yang panjang membentang. Senja yang mendewasakan diri. Hingga tanpa sadar jemari ini menuliskan bait-bait sajak
Senja
Jingga kota Asmara Raya
Tugasnya mendengar caci maki dan keluh kesah
Soal waktu yang tak kenal negosiasi
Setitik nikmat bagi kantung-kantung yang mulai menebal
Senja
Dara buangan tempat rendahan
Tugasnya mencumbu bersama semesta
Soal hidup manusia yang kadang papa
Bersyukur
Ia adalah nikmat yang tidak pernah terdustakan
Ahh...ini ceracau
Bersama jejak kaki
Tentang kabut
Pekat
Tanah basah
Nasi goreng dingin
Secangkir kopi dan biskuit coklat
Selamat datang senja
Senja Cokrosuryo melengkapi perasaan syukur serta cukup akan cinta dan penantian. Perasaan yang dengan lapang dititipkan walau tanpa terucapkan agar kelak menjadi sebuah ketabahan, kebijakan dan kerifan. Bukankah ada Zat yang Maha Mengerti Rasa yang sedang membuncah ini?
Senja Cokrosuryo juga senja yang mengingatkan akan tiga perempuan tangguh di tiga kota yang berbeda. Soal jarak yang berkilo-kilo jauhnya, tapi sederhana saja cara Tuhan “mendekatkan” kami. Teringat saat dulu berkumpul bersama dalam sebuah atap, yang kemudian semua berdengung hingga kini menjadi sebuah bekal dan “alarm” untuk mencapai cita dan cinta kelak. Senja yang mengingatkan soal berbagi, memahami dan memaknai hidup sebaik-baiknya. Dan sekarang? Kami hanya bisa menjaga dan mendoa agar simpul-simpul ikatan ini dapat terus mengikat erat sampai pada keabadian nanti. Menatap lurus pada kebenaran. Seperti impian-impian yang dulu pernah kami ucapkan bersama.
Sebuah doa penutup saat senja di Cokrosuryo, agar kelak rindu ini kembali bersemi di atas sebuah puncak impian. Berdiri bersama menatap semburat jingga di sebuah negeri di atas awan. Dengan senyum kebanggan dan syukur tiada kira bahwa perjuangan yang teramat letih ini terbayar mahal dengan suguhan kebesaran dari Yang Maha Dahsyat itu dan penantian rindu yang menyesakkan ini menjadi sebuah didikan berharga. Ya, karena Tuhan sedang mendidik kita bukan yang lainnya! Kuatkan ikatan ini, tegakkan cinta ini. Aamin

Untukmu jingga dan Pemilik Warna yang dalam hadirnya selalu mengajariku cara dari bersyukur.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” (Ar-Rahman)

 @tissektiw

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...