Langsung ke konten utama

Agent of Nusantara : Bakti Muda Berbudaya


TEMA ESAI : NEGARAWAN MUDA MENUJU INDONESIA BERBUDAYA

Agent of Nusantara : Bakti Muda Berbudaya!
Oleh : Titis Sekti Wijayanti
Universitas Sebelas Maret


Budaya merupakan suatu produk dari akal budi, cipta, rasa, dan karsa manusia sekaligus aset berharga yang nilainya melebihi sumber daya alam Indonesia di bentang pulau manapun. Budaya adalah source yang takkan habis (tentunya bila dilestarikan). Sebuah investasi menggiurkan yang mendatangkan profit jangka panjang dalam upaya menjadikan Indonesia Tersenyum di kemudian hari. Langkah sederhana dalam investasi besar ini adalah memberikan label pada pemuda Indonesia sebagai Agent of Nusantara.
Agent of Nusantara adalah sebuah label sekaligus geliat baru pemuda Indonesia sebagai teladan pembawa nilai-nilai luhur budaya khususnya yang berpondasi pada karakter bangsa Indonesia (ramah, rendah hati, gotong royong dsb). Label ini penting sebagai suatu bentuk stimulus yang diberikan terhadap pembentukan kepribadian seorang pemuda berbudaya. Dalam ilmu psikologi, kepribadian terbentuk dari habit (kebiasaan) yang berkembang menjadi trait (sifat) kemudian melekat ke dalam keseharian individu sebagai personality (kepribadian). Dengan demikian, budaya dapat menjadi sebuah cikal bakal terbentuknya identitas suatu bangsa (identitas nasional).
Identitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya [1]. Dalam hal ini agent of nusantara memiliki tugas besar dalam memantapkan lagi identitas nasional Indonesia. Sebuah misi besar untuk berbakti sebagai negarawan muda dengan menjunjung falsafah kebangsaan dan menjadi Pancasila sebagai pilar yang kokoh.
Seorang agent of nusantara
akan berada pada garis terdepan pejuang peradaban bangsa. Mereka tidak malu untuk menjadi diri mereka sendiri. Mereka juga tidak akan gentar apabila bangsa ini diperolok-olok oleh bangsa yang lain. Hal ini akan terjadi apabila setiap pemuda paham siapa diri mereka sebenarnya, mereka paham apa dan siapa Indonesia. Bukankah pemahaman yang baik akan menumbuhkan rasa cinta yang baik pula? dan sebuah cinta akan melahirkan loyalitas yang besar. Akhirnya, kita pun tahu bahwa agent of nusantara tidaklah sekedar label yang sia-sia dan tanpa makna. Baiklah, adakalanya sesuatu yang besar seringkali bermula dari hal yang sederhana. Sungguh, apabila setiap pemuda di negeri ini sadar betapa penting peran mereka dalam sebuah bakti muda negara, maka Indonesia tidak akan mengalami krisis identitas bangsa, terlebih lagi krisis kepemimpinan bangsa. Kesimpulannya, menjalankan peran sebagai agent of nusantara adalah sebuah langkah sederhana bagi pemuda untuk mendedikasikan diri secara sederhana pula bagi Indonesia sebagai seorang bakti muda yang berbudaya. Semoga itu aku, kamu, kita selalu berbakti untuk negeri ini, selalu kembali di negeri ini sejauh apapun kesempatan untuk menjelajahi bumi, seperti bait lagu di bawah ini :
lebih baik disini, rumah kita sendiri , segala nikmat dan anugerah yang kuasa, semuanya ada disini… -Rumah kita God Bless- 
Pemuda Berbudaya! Pemuda Indonesia!
                
Daftar Pustaka
Safei, A. Haris. 2012. Ragam Budaya sebagai Identitas Bangsa. Available from :
http://aharissafei.blogspot.com/2012/11/identitas-nasioanal-ragam-budaya.html. Diakses pada tanggal 19 April 2013 pukul 09 : 26
[1] Syahrial Syarbaini, dkk. Membangun karakter  melalui pendidikan kewarganegaraan, hlm: 46




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...