Kalau orang-orang memilih berjalan, berlari, bergerak ke negeri-negeri lain. Maka hati ini tertaut pada negeri ini. Semoga langkah ini bisa terus menjejak pada nikmat-nikmat Tuhan yang tidak pernah terdustakan. Lihat ini. Potret alam bangsa ini. Sepenggal cerita lewat kesempatan pendakian bersama adik-adik keren :). Foto di ambil sendiri lewat kamera penulis dalam perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 pukul 16.00-17.00.
Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...




Komentar
Posting Komentar