Hi, kapten!
Apa yang kamu rasakan saat kamu melihat kembali daratan setelah pelayaran panjang di lautan?
Bagaimana kondisi hatimu saat ada beberapa pasang mata menantimu di dermaga sambil menyunggingkan senyum terbaiknya?
Seperti itulah rasanya pulang ke rumah setelah lama menuntut ilmu dan menabung rindu. Sabtu lalu, saya lunasi ruang-ruang hati yang setia menanti. Ibu, Bapak, mbak Febri dan Ayu.
Minggu pagi, saya, kakak, dan adik saya jalan-jalan bertiga. Rencananya kami ingin menghabiskan waktu bersama ke Kota Tua. Naik CL (Commuter Line) jurusan Depok-Kota. Penertiban dan perbaikan sarana stasiun bikin nagih naik CL haha.
Di sela perjalanan, saya tanya adik saya :
S (saya): Kamu, sebenernya mau jadi apa sih yu? Kamu beneran mau masuk MAN? Gak coba daftar SMA lagi?
A (adik saya): ...
K (kakak saya) : mau jadi ustadzah dia mah haha
S : waah iya bener, yu?
A : Ih, apaan sih mbak.
S : Lah terus?
K : Jadi, ibu kemarin bilang. Salah satu doa dan cita ibu adalah salah satu anaknya ada yang memiliki pemahaman agama yang baik.
S : (senyum) bagus itu yu. Mbak Tis dukung, nanti bantuin bu Rohaya ngajar TPA. Apapun cita-citanya yang penting bermanfaat
A : Nah itu mbak cita-cita Ayu.
Umm,seketika itu juga saya bangga banget sama Ibu saya yang selalu berhasil menyampaikan doa dan citanya ke anak-anaknya. Dulu sekali ibu pernah ingin salah satu anaknya terjun di bidang pendidikan dan Allah izinkan kakak saya menjadi salah satu pendidik di Sekolah Inklusi di daerah Depok. Jadi inget waktu SMP saya cerita pengalaman ngajar adik-adik Pramuka dan Ibu antusias banget dengerinnya.
Gimana perasaan titis setelah ngajar?
Senang bu :), tapi duitnya gak seberapa (dasar mental pedagang).
Itu kenapa dulu ibu mau banget jadi guru. Percaya aja, pasti ada yang Allah sudah janjikan dan bayar di lain waktu
Begitu juga saat Ibu mau anaknya punya banyak pengalaman biar bisa jadi contoh buat adik-adik dan saudara-saudaranya. Supaya tidak menyesal dikemudian hari.
dan kemarin saat ibu bilang :
Gak tau kenapa ibu perasaannya gimana gitu tis kalau adikmu sekolah di SMA
Mimpi ibu selalu sederhana. Gak pernah lah sok-sok nasehatin anak-anaknya pake kata-kata "bermanfaat" buat orang lain. Tapi Ibu meneladani itu lewat perilaku beliau sehari-hari. Cara Ibu menanggapi tingkah kami bertiga, cara Ibu melerai pertengkaran kami dan cara Ibu memahamkan kami akan penting rasa menghormati dan menyayangi satu sama lain. Belum lagi, cara Ibu mendengarkan dan menanggapi cerita-cerita kami. Semoga, hal-hal itu juga yang mengalir pada kami, ya bu. Hari ini, besok, dan seterusnya. Semoga kami juga yang diperkenanNya melahirkan dan mendidik generasi peradaban Islam sesederhana dirimu mendidik kami lewat teladan-teladanmu.
Diakhir, saya bangga loh punya adik yang sangat keren. Mau menasehati kakaknya kalau lalai ibadahnya dan banyak hal keren lainnya yang menurut saya belum banyak remaja seusianya memiliki pemahaman yang sama soal hidup. Dewasa selalu jadi pilihan. dan mendewasalah dik, bersama-sama mendewasa tentunya :)
Apa yang kamu rasakan saat kamu melihat kembali daratan setelah pelayaran panjang di lautan?
Bagaimana kondisi hatimu saat ada beberapa pasang mata menantimu di dermaga sambil menyunggingkan senyum terbaiknya?
Seperti itulah rasanya pulang ke rumah setelah lama menuntut ilmu dan menabung rindu. Sabtu lalu, saya lunasi ruang-ruang hati yang setia menanti. Ibu, Bapak, mbak Febri dan Ayu.
Minggu pagi, saya, kakak, dan adik saya jalan-jalan bertiga. Rencananya kami ingin menghabiskan waktu bersama ke Kota Tua. Naik CL (Commuter Line) jurusan Depok-Kota. Penertiban dan perbaikan sarana stasiun bikin nagih naik CL haha.
Di sela perjalanan, saya tanya adik saya :
S (saya): Kamu, sebenernya mau jadi apa sih yu? Kamu beneran mau masuk MAN? Gak coba daftar SMA lagi?
A (adik saya): ...
K (kakak saya) : mau jadi ustadzah dia mah haha
S : waah iya bener, yu?
A : Ih, apaan sih mbak.
S : Lah terus?
K : Jadi, ibu kemarin bilang. Salah satu doa dan cita ibu adalah salah satu anaknya ada yang memiliki pemahaman agama yang baik.
S : (senyum) bagus itu yu. Mbak Tis dukung, nanti bantuin bu Rohaya ngajar TPA. Apapun cita-citanya yang penting bermanfaat
A : Nah itu mbak cita-cita Ayu.
Umm,seketika itu juga saya bangga banget sama Ibu saya yang selalu berhasil menyampaikan doa dan citanya ke anak-anaknya. Dulu sekali ibu pernah ingin salah satu anaknya terjun di bidang pendidikan dan Allah izinkan kakak saya menjadi salah satu pendidik di Sekolah Inklusi di daerah Depok. Jadi inget waktu SMP saya cerita pengalaman ngajar adik-adik Pramuka dan Ibu antusias banget dengerinnya.
Gimana perasaan titis setelah ngajar?
Senang bu :), tapi duitnya gak seberapa (dasar mental pedagang).
Itu kenapa dulu ibu mau banget jadi guru. Percaya aja, pasti ada yang Allah sudah janjikan dan bayar di lain waktu
Begitu juga saat Ibu mau anaknya punya banyak pengalaman biar bisa jadi contoh buat adik-adik dan saudara-saudaranya. Supaya tidak menyesal dikemudian hari.
dan kemarin saat ibu bilang :
Gak tau kenapa ibu perasaannya gimana gitu tis kalau adikmu sekolah di SMA
Mimpi ibu selalu sederhana. Gak pernah lah sok-sok nasehatin anak-anaknya pake kata-kata "bermanfaat" buat orang lain. Tapi Ibu meneladani itu lewat perilaku beliau sehari-hari. Cara Ibu menanggapi tingkah kami bertiga, cara Ibu melerai pertengkaran kami dan cara Ibu memahamkan kami akan penting rasa menghormati dan menyayangi satu sama lain. Belum lagi, cara Ibu mendengarkan dan menanggapi cerita-cerita kami. Semoga, hal-hal itu juga yang mengalir pada kami, ya bu. Hari ini, besok, dan seterusnya. Semoga kami juga yang diperkenanNya melahirkan dan mendidik generasi peradaban Islam sesederhana dirimu mendidik kami lewat teladan-teladanmu.
Diakhir, saya bangga loh punya adik yang sangat keren. Mau menasehati kakaknya kalau lalai ibadahnya dan banyak hal keren lainnya yang menurut saya belum banyak remaja seusianya memiliki pemahaman yang sama soal hidup. Dewasa selalu jadi pilihan. dan mendewasalah dik, bersama-sama mendewasa tentunya :)
Komentar
Posting Komentar