Langsung ke konten utama

Trustworthy. Feel the trust!



(dari google nih gambarnya)

Well, hari itu kamis, 16 Mei 2013. Pembinaan dari manajemen pusat Dompet Dhuafa untuk Bakti Nusa (Beasiswa Aktivis Nusantara) Angkatan 3 UNS (Universitas Sebelas Maret). Alhamdulilah pasukan lengkap. Ada Dwi, Yoga, Erma, Mbak Rofi’ul, Woro, Siswandi, Indra, Putra, Adi dan saya sendiri Titis. Secara pribadi ingin mengutarakan kalau segala bentuk pembinaan itu selalu menyenangkan. Pengemasannya sederhana tapi selalu dapat ilmu baru soal hidup sepulang dari kedatangannya. Full manfaat. Materi tayang pertama kami bertema trustworthy. Apabila di bahasa Indonesiakan maka artinya terpercaya, dapat di percaya. “Jujur, diandalkan, komitmen. Kita adalah model!” begitu bu Nur mengungkapkan di awal penyajian materi. Selintas pikir muncullah sebuah gelar agung bagi teladan seluruh umat manusiaNabi Muhammad SAW. Al-Amin.
Kepercayaan selalu mengingatkan diri dengan hal yang sering disebut sebagai  amanah. La yukallifullahu nafsan illa wus’aha, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Tidak ada beban tanpa pundak. Maka, selama masih memiliki ‘pundak’ selama itulah amanah akan selalu ada dalam setiap jengkal hidup kita. Bukankah Allah juga pernah bersabda kalau kita sebagai manusia dilahirkan di dunia sejatinya diamanahkan untuk menjadi sebaik-baiknya ciptaanNya, menjadi sebaik-baiknya pemimpin. Seketika itu juga tersadar lewat kalimat bu Nur “amanah itu bukan soal besar atau kecilnya”. Kemudian, seolah tersihir dengan kata-kata bu Nur saya merenungi kalimat tersebut.
Pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki amanah. Tidak peduli sebagaimanpun dia mata manusia yang lainnya. Amanah tidak melulu soal hirarki jabatan dalam sebuah organisasi. Bisa jadi amanah adalah dengan kita di berikan harta melimpah, memiliki banyak teman, IPK cumlaude, dan begitu banyak capaian hidup lainnya. Semuanya hanya bonus, semuanya hanya titipan sesaat dalam upaya menaikkan derajat kita di mata Allah, insya Allah. Jadi, memang bukan kuantitas tolak ukurnya, tapi kualitas menjalankan amanah tersebut. Itulah sebabnya, amanah tidak untuk diminta tapi diberikan. Yup, diberikan kepada yang pantas mengemban. Hophop mari berlomba memantaskan diri! Bahkan kemudian saya jadi berpikir, sudahkah saya pantas mengemban amanah ini? Amanah menjadi sebaik-baiknya khalifah di bumi Allah.
Kamu tahu? Ada hal menarik dari penyajian materi training value yang dibawakan oleh bu Nur. SLIDE PPTNYA SEDIKIT. Tapi makna dari setiap kata atau kalimat di dalamnya bisa dikemas dengan pemahaman yang baik dan mudah kami pahami. Hal ini menjadikan saya pribadi tidak mengantuk dan menangkap sebuah kalimat ajaib lagi dari bu Nur “kebangkrutan akan terjadi pada pemberian amanah yang salah”. Refleksi negeri. Semoga bukan kebangkrutan itu yang kelak akan terjadi pada bangsa ini.
Poin selanjutnya dibahas mengenai OPTIMALISASI POTENSI bukan EKPLOITASI KELEMAHAN. Membangun keindonesiaan dengan optimisme maksimal. Saya jadi ingat e-booknya kang bukik, mantan dosen bidang psikologi industri dan organisasi Universitas Airlangga pernah menulis tentang Aprreciative Inquiry yang diberikan judul “Kado Tolol untuk Indonesia”. Dalam buku tersebut saya belajar mengevaluasi sebuah kepanitiaan dalam event maupun organisasi dengan positif thinking. Misalnya : biasanya kalau evaluasi itu kan isinya mencari kekurangan dari masing-masing sie atau menyalahkan orang lain bahkan keadaan. Lewat buku itu evaluasi jadi menyenangkan karena yang dibahas adalah hal bermanfaat apa saja yang kita dapatkan dalam sebuah kepanitiaan atau organisasi sebagaimanapun panjang dan menyebalkan prosesnya. Buku tersebut mengajarkan bagaimana memaknai segala sesuatu menjadi baik dan positif. Jadi ingat waktu kuliah pernah membahas bahwa hal terpenting dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita memaknai segala sesuatunya. Bisa jadi seseorang terkena gangguan mental karena dia salah memaknai. Be positif, be happy. Akhirnya, tidak ada lagi keluh kesah menjalankan amanah-amanah ini yang konon katanya semakin banyak jumlahnya daripada waktu yang tersedia.
Dalam sesi ‘berbaginya’ bu Nur juga selalu menekankan bahwa segala sesuatu itu harus kembali kepada masyarakat. Mulai dari kita yang harus berdekatan dengan yang berkekurangan. Disana kita pasti belajar rasa syukur. Kemudian selalu berusaha menyisihkan untuk masyarakat, karena masalah masyarakat itu tidak akan pernah selesai. Yup dalam ilmu sosial 1 orang + 1 orang bisa jadi sama dengan 10 masalah. Oleh karenanya saya jadi benar-benar tersadar bahwa ada yang patut disadarkan dalam gerakan sosial. Biasanya gerakan sosial itu diadakan sekali saja bahkan tanpa follow up. Terlebih lagi ada yang membuat desa binaan (katanya) tapi setelah tidak di organisasi lagi maka berhenti juga desa binaannya. Konsep islam memang paling keren deh pokoknya, cukup satu orang tapi dia memperhatikan 40 orang tetangganya maka alangkah bahagianya negeri ini.  
Di akhir, ada cerita dari bu Nur yang membuat saya berbinar-binar yaitu ketika beliau bercerita tentang dunianya di bidang pendidikan. Bu Nur bilang “bukan mereka yang belajar, tapi kita yang belajar”. Betul sekali, Ibu. Bersepakat! Anak-anak dan adik-adik keren itu adalah pengingat terbaik bagi kakak-kakak dan orang tua manapun. Saya yang merasakan itu berulang-ulang kali. Semenjak mengenal kata kaderisasi sejak SMP saya begitu menikmati ketika melihat mereka (anak-anak atau adik-adik junior saya) tumbuh dan berkembang. Apalagi berkembang lebih daripada kakaknya ini. Saya bangga sekali! Terlebih kesempatan untuk mendongeng beberapa weekend lalu saat memerankan menjadi putri kelinci dan melihat mata-mata kecil itu berbinar menatap tingkah polah saat dongeng sekaligus roleplay berlangsung. Terima kasih BAKTI NUSA. Terima kasih DD untuk segala inspirasinya. Kemarin itu saya benar-benar belajar. Bukan hanya soal pengertian dan aspek-aspek trustworthy tapi mencoba memaknai dengan lebih tentang amanah dan rasa percaya itu sendiri. Yeah feel the trust, captain <^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...