Langsung ke konten utama

Hari Minggu Osyi



Kecipak...kecipak...
Perahu mungil itu melaju membawa Osyi dan ayah kembali menuju dermaga kayu.
“Kanan...kiri...kanan...kiri...semangat” suara ayah sambil menggerakkan dayung dengan kedua tangannya secara bergantian di sebelah kanan dan kiri perahu.

Minggu pagi adalah waktu paling menyenangkan dalam hidup Osyi. Alasannya sederhana karena Osyi selalu melihat ada ayah yang bersemangat di minggu pagi. Setiap satu minggu sekali, ayah selalu menyempatkan waktu sejenak untuk bermain bersama Osyi. Permainan buatan ayah adalah permainan terkeren di dunia. Ayah pandai membuat perhiasan seperti kalung, gelang, dan anting-anting dari batang daun singkong, mainan dari botol atau kaleng bekas bahkan sedotan serta kardus sekaligus. Selain bermain, ayah juga sering mengajak Osyi pergi berkeliling ke hutan sekitar rumah. Mengenalkan Osyi tentang ayam hutan, pohon karet, kumbang, tanaman rambat, daun putri malu dan pagi ini giliran Osyi dan ayah bermain dengan perahu mungil di Danau Suaka. Osyi bersemangat sekali untuk bertanya banyak hal pada ayah

“Ayah, perahu ini hebat bisa mengapung tanpa pelampung ya, Yah?”
“Ayah, di dalam danau ada ikannya tidak?”
“Ayah, ikannya banyak tidak, Yah?”

Atau berseru riang

“Ayah, aku mau mendayung”
“Whoaaaa airnya dingin ayah”
“Ayooo ayah semangat mendayung”
Dan ayah pun hanya tersenyum simpul melihat ulah Osyi.
“Osyi, kalau sudah besar mau jadi apa, nak? “ tanya ayah tiba-tiba sambil mendayung.
“Osyi mau jadi ayah” jawab Osyi terkekeh
“Menjadi ayah? Osyi kan anak perempuan. Anak perempuan itu lebih mulia menjadi seorang ibu, nak” ayah kaget sekaligus takjub mendengar jawaban Osyi.
“Tapi jadi ayah itu seru, Yah. Osyi akan ajak anak Osyi jalan-jalan seperti ayah mengajak Osyi jalan-jalan”.
“Hahaha. Dengan Osyi menjadi ibu pun, Osyi akan tetap bisa mengajak anak Osyi nanti jalan-jalan seperti sekarang ini, nak”
“Yeeee, ayah percaya saja sih. Cita-cita Osyi sebenarnya itu, Osyi mau jadi bu Guru, Yah” ucap Osyi dengan mata berbinar-binar.
“Mulia sekali cita-cita anak Ayah yang satu ini, kalau begitu Osyi harus menjadi perempuan yang tidak pernah bosan berhenti belajar, nak. Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun Osyi harus mau belajar.”
Kemudian Osyi mengangguk-angguk mendengarkan nasihat ayah.
“Baiklah, kita sudah sampai di dermaga, ayo lekas turun pasti Ibu sudah menyipkan nasi dan sambal goreng spesial untuk kita berdua”
Ayah dan Osyi pun bergegas pulang sambil berlari siapa yang lebih dahulu sampai ke rumah.

Sesampainya di rumah, Osyi bersorak karena berhasil mengalahkan Ayah berlomba lari menuju rumah. Osyi masuk ke dalam rumah kemudian mengucapkan salam dan mengecup tangan Ibu dengan santun. 
“Selamat pagi Ibu Osyi yang paling cantik” sapa Osyi riang
“Selamat pagi juga anak Ibu tersayang” balas Ibu penuh kasih sayang
“Ayo makan, tapi Osyi cuci tangan dulu ya” kata Ibu.
“Siap, laksanakan!” kata Osyi sambil mengangkat tangan memberi hormat pada Ibu kemudian pergi ke kamar mandi.
Di meja makan Osyi bercerita kepada Ibu mengenai pengalamannya mendayung perahu bersama Ayah di Danau Suaka. Osyi menceritakan dengan bersemangat. Osyi mengatakan bahwa Osyi selalu senang berjalan-jalan bersama Ayah dan Osyi berjanji pada Ibu untuk membagikan cerita serta pengalamannya pada teman-teman bermainnya.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sampai bilangan 24 bulan, rutinitas setiap minggu pagi Osyi bersama Ayah terus berlanjut. Permainan yang diciptakan Ayah juga semakin bermacam-macam hingga pada suatu hari Ayah jatuh sakit. Ibu bilang bahwa Ayah tidak bisa seperti dulu lagi untuk setiap minggu mengajak Osyi berjalan-jalan karena Ayah butuh banyak waktu untuk beristirahat. Osyi sedih sekali. Osyi sedih melihat Ayah yang tidak sebersemangat biasanya. “Kemana Ayah Osyi yang ceria, ya Tuhan? Osyi rindu” keluh Osyi dalam hatinya. Setiap kali melihat Ayah berbaring di tempat tidur Osyi ingin menangis, Osyi ingin Ayah sehat seperti dulu lagi”.

Suatu hari, saat Osyi sedang duduk sambil memijat-mijat kaki Ayah di tempat tidur Ayah meminta Osyi memeluknya.
“Sini nak, peluk ayah” kata Ayah sambil menjulurkan kedua tangannya.
Osyi pun mengahambur ke pelukan Ayah kemudian menangis terisak.
“Menangislah, nak. Tapi berjanjilah pada Ayah bahwa setelah kau menangis kau akan tersenyum lebih lama daripada waktu menangismu. Anak perempuan Ayah itu hebat. Selalu begitu. Ya, kan?” kata Ayah sambil menahan tangis.
Osyi tidak membalas perkataan Ayah. Ia hanya mengencangkan pelukannya dan terus terisak. Ayah membalas pelukan Osyi dan mengecup dahi Osyi sambil berbisik “Anak Ayah selalu hebat”.

Minggu pagi, orang-orang ramai berkunjung ke rumah Osyi memberikan ucapan turut berduka cita akan kematian Ayah Osyi. Osyi duduk termangu di samping tempat Ayah berbaring. Menatap lamat-lamat wajah Ayah dengan matanya yang kini terpejam selamanya. Wajah yang mendamaikan hati. Ibu duduk di samping Osyi sambil mengusap-usap jemari Osyi dan berbisik “Anak Ayah dan Ibu selalu hebat”.

Sepulangnya dari pemakaman jenazah Ayah, Osyi meminta Ibu menemaninya pergi ke Danau Suaka.
“Bu, antarkan Osyi pergi ke Danau Suaka ya? Ada yang ingin Osyi lakukan disana. Disana tempat paling membahagiakan Osyi bersama Ayah” pinta Osyi
Kemudian bersama-sama mereka pergi ke Danau Suaka.

Di Danau Suaka Osyi mengeluarkan sebuah benda. Benda itu berbentuk perahu. Perahu kertas.
“Apa itu, nak?” tanya Ibu.
“Ini perahu, Bu. Perahu saat Osyi dan Ayah mendayung bersama dulu” jawab Osyi
“Apakah Osyi yang membuat sendiri perahu ini?” tanya Ibu lagi sambil menunjuk perahu kertas buatan Osyi. 
“Iya. Perahu ini perahu spesial, Bu. Walaupun sudah tidak ada lagi Ayah, tapi Osyi mau mengulang kenangan Osyi dulu bersama Ayah lewat perahu ini” kata Osyi sambil menahan tangis
Kemudian Osyi meletakkan perahu kertas itu di atas permukaan air danau dan membiarkan perahu hanyut terbawa arus air. Perahu itu bukan perahu biasa, karena di dalamnya ada ungkapan hati Osyi untuk Ayah. Isinya :
Ayah suatu hari nanti, Osyi akan menjadi Ibu. Mengajak berjalan-jalan anak-anak Osyi seperti ayah mengajak Osyi berjalan-jalan. Osyi juga akan menjadi Guru dan yang pasti Osyi tidak akan banyak menangis lagi. Osyi akan tersenyum dan terus tersenyum. Osyi akan menjadi anak perempuan yang hebat. Osyi sayang Ayah. Selalu menyanyangi Ayah.

Ini hari minggu. Selamat tinggal Ayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...