Uichol Kim (2006) dalam
bukunya Indigenous and Cultural
Psychology menerangkan bahwa di setiap masyarakat kultural, manusia
membentuk keluarga, membesarkan anak-anaknya dalam rangka mendukung
kelangsungan hidup dan kesuksesan mereka serta orang lain di kemudian hari. Beatrice
Whiting (dalam Uichol Kim, 2006) melontarkan sebuah istilah cultural learning environment (lingkungan
belajar kultural) untuk menyebut semua dimensi (makro dan mikro) dalam
kehidupan sehari-hari yang menjadi tempat perkembangan dan sosialisasi anak. Kaum
fungsionalis berasumsi bahwa lingkungan belajar kultural akan terus-menerus
berkembang dari waktu ke waktu untuk mendukung proses penyesuaian diri dari
berbagai faktor-faktor eksternal.
Dalam membentuk suatu lingkungan
belajar yang ideal tentunya membutuhkan sebuah pengalaman rutin bagi anak-anak
untuk belajar dan berkembang melalui modelling
(meniru) dan berinteraksi dengan orang lain. Lingkungan belajar ini akan terpola
dengan baik apabila memiliki model-model yang juga baik dalam menjembatani atau
mentransfer nilai-nilai dalam interaksi sosial atau kegiatan belajar anak. Model-model
inilah yang kita sebut sebagai teladan. Bukankah setiap orang adalah teladan?
Seorang teladan harus memiliki pemahaman yang matang dan menyeluruh. Pemahaman
tersebutlah yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perilaku yang
ditunjukkan dalam keseharian untuk selanjutnya ditiru dan digugu oleh orang
lain.
Rumah Bebas Asap Rokok
Dalam masa
perkembangan anak-anak, lingkungan yang menjadi model utama bagi mereka adalah
keluarga. Orang tua menjadi pemegang kendali. Selayaknya seorang nahkoda kapal
yang menentukan muara kapal berlabuh, maka seperti itulah tanggung jawab orang
tua dalam mengarahkan hidup anggota keluarga khususnya anak-anak mereka. Sebuah
jurnal penelitian menuliskan bahwa sebanyak 21,33% subjek yang diteliti memulai
perilaku merokok ketika masih SD. Dalam jurnal penelitian lain disebutkan bahwa
ada banyak sekali faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku merokok di
tempat umum sebesar 95,7% diantaranya adalah sikap dan kepercayaan, pengaruh
proses sosial seperti pengaruh kebiasaan orang tua atau kelompok, dan konsep
diri (Brigham, 1991). Dijelaskan pula bahwa sikap keluarga penting bagi
seseorang untuk melakukan coping.
Dalam ilmu psikologi, personality terbentuk karena sebuah habit (kebiasaan) yang dilakukan
terus-menerus sehingga tanpa disadari hal tersebut menjadi suatu nilai yang
termanifestasikan dalam bentuk perilaku. Berdasar pada fakta-fakta kehidupan di
atas rumah bebas asap rokok tentunya menjadi salah satu model rumah inspirasi yang
dalam hal ini berperan penting dalam menjaga nilai-nilai kesehatan. “Di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula” begitu kata pepatah. Rumah
bebas asap rokok adalah sebuah rumah yang tidak mengijinkan setiap orang baik
anggota keluarga ataupun orang-orang lain yang memasuki kawasan rumah tersebut
untuk membuat kepul asap rokok. Di dalam rumah ini, setiap orang belajar untuk
memiliki empati antar satu dengan yang lainnya karena kita tahu bersama bahwa
hal tersebut sejatinya terangkum dalam pasal 28H UUD 1945/Perubahan II Ayat
yang berbunyi “setiap orang berhak hidup
sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup
yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Rumah
model ini tentunya akan menjadi sebuah rumah impian yang kelak akan mencetak
generasi-generasi Indonesia yang memiliki pemahaman yang baik akan kesehatan
dan kelak mereka akan menjadi pendiri rumah “inspirasi” lainnya dalam upaya
menciptakan generasi yang jauh lebih baik lagi.
Kampus
Bebas Asap Rokok
Dalam tahap
perkembangan selanjutnya. Setelah keluarga, ketika anak mulai mengenal sekolah
maka model yang menjadi panutan mereka selanjutnya adalah guru. Interaksi sosial
atau hubungan pertemanan yang melekat juga ikut andil dalam membentuk perilaku
anak. Tidak jauh berbeda dengan model rumah bebas asap rokok maka kampus
sebagai fasilitas formal yang menjadi tempat bertebarannya ilmu pengetahuan
sudah selayaknya menyediakan lingkungan belajar yang mendukung proses transfer
ilmu pengetahuan berjalan dengan kondusif. Ada banyak sekali nilai-nilai yang
bisa ditanamkan dari sebuah universitas. Banyak yang mengatakan bahwa kampus
adalah pusat kaum-kaum intelektual. Mahasiswanya disebut sebagai agent of change, iron stock, dan masih
banyak sebutan lainnya. Ada banyak sekali guru besar. Orang-orang hebat lahir
dan besar di dalamnya. Pantaskan ketika kampus yang kata orang adalah pusat
lahirnya orang-orang hebat namun hanya menghebatkan ilmu pengetahuan tanpa
mensejajarkannya dengan adab yang juga baik? Maka sungguh sejatinya tidak akan
pernah berarti apa-apa sebuah ilmu tersebut tanpa adab.
Kampus
bebas rokok adalah kampus hijau. Ya, sebuah kampus yang sebenar-benarnya menghijaukan
sebab orang-orang yang berada di dalamnya hidup dengan pasokan oksigen maksimal
tanpa harus khawatir bercampur dengan gas yang dikeluarkan asap rokok. Jika
orang-orang besar memang benar lahir dari sebuah tempat bernama kampus maka
sudah selayaknya kalau orang-orang itu juga yang membesarkan bangsa ini dengan
teladan yang baik.
Di
akhir tulisan ini saya berharap bahwa model-model itu akan lahir di ruang-ruang
tersebut (rumah dan kampus). Semoga kita semua paham. Mencoba memahamkan diri
bahwa kita semua sejatinya adalah model, teladan untuk siapapun. Hingga pada
akhirnya kita tahu bersama bahwa semua ini dilakukan untuk kecintaan yang besar
terhadap diri sendiri terlebih lagi terhadap bangsa ini. Semoga, itu aku, kamu,
kita menjadi sebaik-baiknya teladan.
Titis
Sekti Wijayanti
Komentar
Posting Komentar