Ramadhan...Ramadhan...Ramadhan....
“Hayoo berapa hari lagi bulan Ramadhan?”
kataku saat mendongeng di depan adik-adik Ar-Rohmah.
“Dua puluh satu hari lagi” jawab mereka
serempak.
Saya hanya tersenyum simpul, sambil
terheran-heran kok mereka bisa tahu
kalau Ramadhan kurang 21 hari lagi? Eh,
ternyata, sebelum kedatanganku mbak Citra sudah memberitahu adik-adik manis itu
kalau Ramadhan tinggal 21 hari lagi.
Minggu, 16 Juni 2013
Sehari setelah Seminar Psikologi Islam,
saya diculik oleh kedua kakak guru saya (mbak Citra dan mbak Dyah) untuk acara
semarak sambut Ramadhan di TPA Ar-Rohmah. Pada awalnya sih saya ditawarin mendongeng, tapi akhirnya saya sekaligus menjadi
pemeriah outbond kecil-kecilan mereka. Lagi-lagi terjebak dalam kebaikan.
Permainan kami hari itu sederhana saja,
kami membuat lingkaran cukup besar kemudian kami menari hoki poki, menyanyi
lima jari, bermain donal bebek, tembak-tembakan, memasukkan pensil ke dalam
botol secara berkelompok, dan mengambil kertas di dalam tepung. Alhasil,
adik-adiknya pada muntah karena mabuk terigu, tapi merekanya senang, jadi
yaudahlah yaa...hehe
Setelah makan snack kami melanjutkan sesi untuk mewarnai bagi yang TK sampai SD
kelas 2 dan yang lainnya membuat kartu Ramadhan. Wah, hasil kartu Ramadhan adik-adik Ar Rohmah itu cling-cling sekali alias KEREN. Di dalam
kartu Ramadhan, kami menuliskan nama kami serta target-target kami selama bulan
Ramadhan nanti. Saya juga ikut membuat kartu Ramadhan di tengah adik-adik
(sebenarnya saya hanya membantu mencontohkan).
Ini
tampilan depan Kartu Ramadhan saya
Secara menakjubkan
mereka menulis target-target mereka selama bulan Ramadhan, ada yang :
*Rajin berangkat TPA
*Sholat lima waktu
*Berkata jujur
Dan kalimat-kalimat menakjubkan
yang lainnya. Bagus-bagus pula kartunya dan gambarnya : ) (Iya doong, siapa
dulu yang contohin).hehe
*****
Kartu Ramadhan? Saya
rasa kartu tersebut bukanlah kartu yang asing dimata teman-teman semua. Sejak
kita duduk di bangku sekolah dasar, seringkali kita bahkan dibawakan bekal buku
Ramadhan oleh bapak atau ibu guru kita. Buku tersebut berisi amalan-amalan yang
secara tidak langsung harus kita upayakan untuk menjalankannya dengan baik.
Ingatkah ketika kita berbondong-bondong meminta tanda tangan wak Haji setelah
menjadi imam shalat tarawih? Atau mencatat ceramah di TV saat menjelang waktu
berbuka puasa. Sadar atau tidak, proses mengisi buku Ramadhan adalah proses
membiasakan perilaku baik pada saat bulan Ramadhan.
Tidak jauh berbeda
dengan buku Ramadhan, kartu Ramadhan sebenarnya juga media membiasakan perilaku
yang baik pada saat bulan Ramadhan. Hanya saja bentuknya jauh lebih sederhana
dan berisi target-target selama bulan Ramadhan mulai dari menjalankan ibadah
puasa 30 hari full, shalat lima waktu
tepat waktu dan berjamaah, tilawah Al Quran bahkan sampai khatam atau beberapa
kali khatam, dan banyak target lainnya. Menyesuaikan dengan kemampuan kita
dalam melaksanakan dengan sebaik-baiknya target-target yang telah ditulis
tersebut.
Pernah dengar penggalan
surat cintaNya At-Taubah (9) : 111
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka
berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu
telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al
Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu,
dan Itulah kemenangan yang besar".
Coba deh liat,
bagaimana bisa kita melakukan perdagangan dengan Allah tanpa merugi? Dengan
kartu Ramadhan, sebenarnya kita sedang bertekad agar amalan-amalan tersebut
dapat kita ‘jual’ untuk kemudian di berikan ‘harga’ oleh Allah dengan
berkali-kali lipat pahala saat bulan Ramadhan. Nikmat bukan? Prosesnya
sederhana, hanya menuliskan saja target-target yang kita inginkan, berkomitmen,
dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Maka, suatu hari nanti bisa jadi
kartu Ramadhan yang minimalis tersebut menjadi pengingat bagi kita di dunia
ataupun di akhirat bahwa kita pernah melakukan sebuah ‘bisnis’ yang tidak
pernah mendapatkan kerugian sedikitpun.
Akhirnya Selamat
Ramadhan semuanya. Entah kenapa saya begitu
excited sekali dengan Ramadhan kali ini. Mohon maaf lahir dan batin ya,
kalau selama ini belum menjadi sahabat, teman, kakak, ataupun adik yang
memberikan teladan yang baik buat semuanya. Selamat menjalankan bisnis yang
tiada merugi *senyum*


Komentar
Posting Komentar