“Aku
introvert banget nih kata orang-orang, pengen deh bisa terbuka juga dengan yang
lainnya”
“Aku
aslinya introvert loh, tis”
“Aku
ekstrovert banget”
Dan beragam label diri yang lainnya.
Kaptenss, taukah? Kalau sebenarnya kitalah
yang seringkali memberi label pada diri
sendiri.
Aku
begini
Aku
begitu
Aku
adalah
Aku
tuh orangnya
dan seringkali ketika orang lain melihat
perilaku kita kemudian memberikan komentar pada diri kita, kita tidak terima? atau
tidak mau mengaku lebih tepatnya? entahlah… Padahal yang memutuskan secara
logika untuk berpenampilan ataupun berperilaku (yang sekarang kita tampilkan
dalam keseharian) kita sendiri, kan?
Kadang syukur memang tidak melulu soal materi berlimpah ataupun jabatan yang
baik, tapi syukur bisa jadi menyoal beginilah adanya diri saya setelah sekian
lama belajar, bertahun-tahun menuntut ilmu. Bukankah hasil dari belajar itulah
yang sekarang mencerminkan siapa diri kita dan bagaimana kita berperilaku? Sudahkah
kita belajar?
Tapi, yang lebih penting dari itu, kamu
harus tau, kalau Introvert dan Ekstrovert adalah sebuah kontinum, mereka
bersejajaran, bukan berkebalikan (walaupun secara bahasa kita lihat, kedua kata
tersebut adalah lawan kata).
![]() |
| gambar dari sini |
Sekarang
coba kamu bayangkan sebuah garis lurus horizontal berwarna hitam, ada dua titik
di masing-masing ujungnya. Dua titik tersebut adalah sisi ekstrovert dan
introvert dalam diri kita. Posisi kita berada ditengah diantara keduanya. Ingat!
Bersejajaran!
Adakalanya titik tengah bergerak ke kiri
dan kanan. Tergantung suasana hati, tergantung bagaimana Allah mendidik kita,
bagaimana Allah mempertemukan kita dengan orang-orang lain, dan BAGAIMANA KITA
MEMAKNAI SEMUANYA ITU.
Sebagaimanapun kamu dibilang atau bilang
sendiri kalau kamu Ekstrovert. Kamu punya banyak jaringan karena mudah bergaul
dengan siapa saja, kamu pandai menempatkan diri, kamu yang cenderung impulsif,
membuka diri pada orang lain. Tapi pada satu saat kamu juga pasti pernah merasa
GUE MAU SENDIRI tinggalin gue, lo
gak ada yang ngerti gue, disitulah kamu yang Ekstrovert seketika jadi Introvert.
Semua manusia pasti butuh waktu untuk dia berpikir sejenak menyoal dirinya,
sejenak menghilang dari hiruk pikuk, berkontemplasi. Namun, adakalanya sangat
butuh perhatian dari lingkungan sosialnya. Kedua hal tersebut hanyalah sebuah
kecenderungan, kadang posisi kita yang ditengah lebih sering mengarah kepada
titik Introvert atau pada hari yang lain kita mengarah pada titik Ekstrovert.
Itulah mengapa ada istilah mengadaptasikan diri, yang mana hal tersebut
berfungsi sebagai jembatan antara
diri kita dan lingkungan kita. Selalu begitu.
Jadi, kalau ada kamu yang pernah bilang
bahwa aku mau berubah jadi seorang yang Ekstrovert, bisa atau gak? Jawabannya
adalah BISA. Sebab, sebenarnya, setiap orang punya keduanya, kadang kitanya aja
yang gak sadar kalau titik kita sedang bergerak menuju ke arah yang mana. Begitulah
akhirnya kegalauan muncul, kita jadi gak percaya diri, sama kaya hidup kan?
Kalau kita gak tau posisi kita berada, kita juga yang bingung jadinya mau
ngapain kan?
Yaudahlahya…sekarang tugasnya adalah
menempatkan diri dengan sebaik-baiknya pada peran-peran yang menanti. Kalau
sekarang kecenderungannya penyendiri, gak mudah percaya sama orang, saatnya kita
bergeser titik sedikit, kalau orang lain adakalanya berbeda dengan apa yang
kita pikirkan meskipun adakalanya kita boleh kok suatu ketika tidak mudah
percaya dengan orang lain, bukankah terlalu bersikap terbuka dengan orang lain
juga bisa bikin “jatuh” juga?
Yuhuuu, belajar mengenal diri kita,
berdamai dengan diri kita itu selalu jadi proses yang menyenangkan, kan?
*senyum*
Titis Sekti Wijayanti

Komentar
Posting Komentar