Pahlawan
Tanpa Sebut Jasa
Oleh : Titis Sekti Wijayanti
Keteladanan itu bukan tujuan namun
teman perjalanan
-Slide PPT Yoga-
Ilmu selalu berbicara
soal kompetensi yang kelak akan dimiliki oleh seorang manusia, padahal
kompetensi memiliki batas. Ilmu tanpa adab, tidak berarti apapun. Dibutuhkan
sebuah sinergi antara kata (ilmu) dan perbuatan. Disanalah ilmu tertantang oleh
kemajuan zaman bahwa menjadi seseorang yang berilmu dengan adab yang baik untuk
kemudian dapat menjadi model yang baik pula untuk masyarakat membutuhkan proses
pembelajaran yang tiada habisnya. Terlebih lagi hidup di Indonesia sudah
sepantasnya bagi anak bangsa untuk belajar menjadi seorang negarawan yang lebih
baik dari hari ke hari.
Negarawan Muda, Belajar
Merawat Indonesia! Begitulah sebuah tema yang membangkitkan euforia bagi setiap
jiwa yang ikut tergetar hatinya acap kali melihat penggalan kata yang
dicetuskan oleh Manajemen Pusat Baktinusa Dompet Dhuafa.
Selintas pikir,
orang-orang akan membangun paradigma bahwa negarawan muda adalah orang-orang
yang memiliki pemahaman level tinggi soal politik, ekonomi dan segala aspek
pemerintahan. Padahal, prinsip seorang negarawan muda adalah jiwa-jiwa yang
merasa ‘terpanggil’ untuk mendedikasikan dirinya dalam upaya mewujudkan
cita-cita bangsa lewat kebersahajaan diri bertahan dalam ruang-ruang sunyi. Siapapun!
Seorang negarawan muda tidak mengenal batas akan masa lalunya ataupun latar
belakang sosialnya sekalipun. Semua berhak dan wajib menjadi negarawan muda.
“Negarawan itu
teladan”, begitu mas Romy mengungkapkan. Bila dikatakan semua orang berhak
menjadi negarawan, maka sudah seharusnya pula setiap orang bertanggung jawab memainkan
perannya sebagai model. Model selalu berbicara tentang diri sendiri mengenai
cara kita memanifestasikan segala ilmu pengetahuan yang kita miliki lewat
perilaku kita sehari-hari. Menjadi seorang model membutuhkan penghayatan dalam
mengenal diri sendiri. Lebih jauh lagi, menjadi seorang model yang baik,
membutuhkan model-model lainnya yang tentu saja kita contoh kepiawaiannya dalam
bertingkah laku. Sebut saja Nabi Muhammad SAW, Buya Hamka, Hatta, Jenderal
Sudirman, dan lainnya. Semua tokoh tersebut dapat dikatakan memiliki level
kepemimpinan yang tinggi. Mereka memiliki kedudukan karena mendapatkan
kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya, menghasilkan sebuah pencapaian bagi
bangsanya, mengembangkan manusia yang lain dan mampu memberikan pengaruh bagi
pribadi yang lainnya. Kepemimpinan mereka ‘abadi’, sebab kebersahajaan hidup
mereka terekam dalam goresan-goresan pena dalam coretan pengabdian mereka terhadap
masyarakat disekitarnya.
Begitulah seorang
negarawan muda bekerja. Ia akan terus ditantang membangun reputasi dirinya
menjadi lebih baik. Mengupgrade diri, terus haus akan ilmu untuk menjadikan
keteladanan sebagai teman perjalanannya. Dalam tekadnya, ia akan membuat sebuah
pola tatanan masyarakat yang baik. Sebuah siklus keteladanan yang akan menjadi
jembatan kaderisasi kepemimpinan dengan kualitas-kualitas yang baik dan
nilai-nilai kebersahajaan hidup merekalah yang akan terus menyebar ke bentang
pulau manapun hingga akhirnya tanpa menyebutkan siapa yang mempelopori atau
bahkan siapa yang berjasa dalam menyemai benih kebaikan ini mereka akan menjadi
pahlawan bagi bangsanya. Maka, tentu negeri ini tidak lagi hanya sekedar
bermimpi. Sedikit lagi, ketika semua orang sadar akan kewajibannya menjadi
seorang negarawan muda, tanggung jawab bersama ini akan di jalankan
bersama-sama pula.
Komentar
Posting Komentar