Hidup di perantauan itu mendewasakan. Umm
semacam jadi gemar merangkai cerita lalu, kemudian mengambil benang merahnya.
Ujungnya, inilah cara Allah mendidik kita. Pendidikan melalui sekolah-sekolah
seru dari TK sampai kuliah sekarang, teman-teman yang kita temui, sahabat yang
masih setia mendampingi, dan tentu saja orang tua. Ibu dan Bapak.
Suatu hari, seorang teman perempuan bercerita
mengenai teman laki-lakinya. Katanya, teman laki-lakinya itu sudah kepalang
sayang dengannya. Laki-laki itu pun sering berjanji akan membawa hubungan
mereka ke langkah yang sangat serius. Tapi, namanya Allah Yang Maha
Membolak-balikkan Hati, kandaslah kedekatan mereka. Kalau sudah begitu,
biasanya pihak perempuan akan sulit sekali untuk move on. Kemudian, merenunglah saya. Merenung tentang Bapak.
Alkisah. Dulu sekali. Ketika saya masih SD.
Barangkali kelas 3 atau 4. Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Nurul Aulia tempat
saya belajar mengaji sering mengadakan acara tahunan. Biasanya kami akan
dilatih menari kemudian dipentaskan disuatu tempat. Misalnya di Taman Mini
Indonesia Indah (TMII), Mall Depok, dan lain-lain. Selayaknya anak perempuan
lainnya, saya semangat sekali datang ke TPA untuk berlatih menari. Rencananya
tahun ini kami akan pentas di Kebun Binatang Ragunan. Semangat ngaji, semangat nari.
Menjelang H-3 sebelum pentas di Ragunan. Saya
menyerahkan surat izin kepada bapak dan Ibu. Ibu bilang “minta tanda tangan,
Bapak” padahal biasanya Ibu selalu mengizinkan kegiatan saya selama itu berada
dalam koridor kebaikan dan pengembangan diri. Ketika saya datang ke Bapak,
dengan tegas Bapak bilang “sudah, jangan berangkat dulu kali ini”. Saat itu
juga, air mata saya menggenang. Belum pernah Bapak bilang ‘tidak’ ketika saya
meminta izin pergi pentas. Saya hanya diam, menghampiri ibu (ceritanya nge-lobby pake nangis). Saya marah saat itu
dengan Bapak. Marah sekali walaupun pada akhirnya saya menurut untuk tidak
pergi pentas.
Namanya anak kecil, kalau marah biasanya sok-sokkan mogok makan (padahal kelaparan)
nanti makannya ngumpet-ngumpet. Di
sela-sela ngambek saya, Bapak datang menghampiri. “Besok ke Ragunannya sama
Bapak aja ya, kan dulu sudah sering Bapak ajak kesana”. Tapi saya bodo amat waktu itu. Pokoknya saya sebel gak bisa pentas.
Singkat cerita saya sudah berdamai dengan Bapak.
Saya sudah lupa dengan gagal pentas tari di Ragunan. Tiba-tiba hari minggu
pagi, setelah rutinitas pekerjaan Bapak dan Ibu selesai, beliau menyuruh saya
mandi dan berganti pakaian. Beliau menyuruh adik saya juga. Saat itu adik saya
masih sangat kecil, sekitar usia 5 tahunan. Setelah mandi dan wangi, pergilah
kami bertiga. Ketika saya tanya “kita mau kemana pak”. Bapak saya hanya bilang
“ya nanti juga tahu”. Rasa penasaran saya terjawab saat saya melihat dengan
jelas loket masuk tiket Kebun Binatang Ragunan.
Hari itu menjadi hari Bapak dan Anak yang tidak
terlupakan dalam hidup saya. Kami berkeliling seantero Ragunan. Karena adik
saya masih sangat kecil, kalau dia capek, bapak akan menggendong di atas
bahunya (sama seperti yang beliau lakukan kepada saya saat seusia adik). Kalau
saya capek, biasanya kami berhenti sejenak, menikmati pemandangan. Sore hari
menjelang tutup, kami mengakhiri jalan-jalan kami.
Mengingat itu saya tersenyum. Saya sampai kepada
pemahaman bahwa lelaki yang baik adalah ia yang akan mengusahakan yang terbaik
pula bagi orang yang disayanginya. Barangkali dulu saya memang masih terlalu
kecil ketika diberikan pemahaman bahwa bapak Ibu sedang ada urusan pada hari pentas
sehingga tidak ada yang menemani saya pentas dan itu menjadikan mereka khawatir,
atau mungkin kendala ekonomi dan mungkin alasan-alasan lainnya. Barangkali
untuk anak seusia saya dulu, bisa saja Bapak hanya mencoba membesarkan hati
saya supaya tidak marah lagi. Tapi, bagi seorang Bapak. Janji kesatria adalah
dengan menepatinya.
Saya menyadari bahwa waktu-waktu berdua dengan
Bapak dan cara pendidikan Bapaklah yang menjadikan saya seperti ini. Bapak yang
sering membawa oleh-oleh mainan atau makanan untuk Ibu, saya, dan kakak ketika
masih bekerja di proyek. Bapak yang sering mengajak kami jalan-jalan ke Pantai
Baron, TMII, Dufan, Taman Safari, Kebun Raya dan lain-lainnya. Bapak yang tidak
marah kalau saya jahil sama adik. Bapak yang mengunci pintu gerbang kalau saya
main dan saat adzan magrib belum sampai rumah. Bapak yang mengantar sekolah.
Bapak yang selalu duduk disamping tempat tidur kalau anaknya sakit. Bapak yang
marah kalau pukul 7 pagi anaknya belum bangun tidur. Bapak yang datang
jauh-jauh naik motor untuk menengok anaknya di kosan dan banyak hal lainnya.
Begitulah... Bapak mendidik saya, memahamkan
saya akan tanggung jawab seorang kesatria. Tanggung jawab seorang laki-laki.
Tidak
akan ada Ayah yang sempurna di dunia ini, tapi kasih sayang seorang Ayah itu
selalu sempurna
<= calon bapak *insyaallah*
BalasHapus