Langsung ke konten utama

Numero Uno



Suatu sore, tepatnya pukul 18.00 lewat sekian menit tanggal 23 November 2013. Hari bersejarah bagi saya karena lengser sebagai pengemban amanah di HIMAPSI. Alhamdulilahirobil’alamin. Handphone saya bergetar. Ada tulisan “kakak”, kemudian saya angkat dan...

“Halo? Assalamualaikum. Kenapa mbak?”
(suara diseberang sana) Hee Halo. Wa’alaikumsalam (suaranya halus banget)
Waa Ibu hehe (senyum-senyum nyengir seneng). Iya, Bu?
Ibu : kamu dimana?
Saya : Di kampus bu.
Ibu : Belum pulang?
Saya : Belum. Lagi mubes Himapsi nih bu. Pemilihan ketua. Ibu mau ngobrol? Nanti tis keluar ruangan dulu.
Ibu : Hoo...yaudah di tutup dulu, diselesaikan acaranya dulu.
Saya : Eh? Ibu gak papa. Nanti telpon lagi gitu ya bu. Jam 7an ya bu.
Ibu : Iya. Titis acara dulu sana.
Saya : Maaf ya bu. Nanti tis kabari lagi. Makasi ya Bu. Maaf ya Bu
Ibu : Ya. Ibu tutup ya.
Saya : Iya. Dah, Bu. Assalamualaikum
Ibu :Ya. Wa’laikumsalam

(kemudian saya menyelesaikan mubes). Sesampainya di kosan

[ketik sms] mbak tadi Ibu telpon gue (sending) pukul 21.00 lewat sekian menit. 

Kemudian...Telpon masuk “kakak”
Halo Assalamualaikum Ibu. Apa kabar?
Ibu : Ya alhamdulilah. Kamu dimana? Masih di kampus?
Saya : Enggak. Udah pulang. Aku pulang sebelum jam 9 bu.
Ibu : Udah makan
Saya : umm hehe udah tadi sore
Saya : Bu, bla bla bla (nyeritain Mubes, cita-cita, kegiatan, dan lainnya)

Tiba-tiba tuuuut. Pulsanya abis T_T
Entah kenapa. Ibu adalah orang yang jarang banget telpon. Tapi, beberapa kali menelpon selalu diwaktu yang tepat dan suasana yang memang pas untuk Ibu hadir disana. Selalu. Dan saya selalu gak ngerti mekanisme radar Ibu yang bekerja sangat cerdas.
Yeah. Ibu. You’re always my numero uno. “Radarnya” selalu sampai diwaktu yang tepat =)
Tentu, cita-cita ini semakin mengakar. Selalu ingin jadi Ibu, sebaik dirimu bahkan lebih baik lagi.

Selamat hari Guru nomer satu sedunia, Ibu :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...