Langsung ke konten utama

Pit-pitan


Minggu, 17 November 2013
06.15 WIB

Kaos belang-belang, tas selempang hitam, botol minum, masker. Sepeda! Selamat pagi Semesta :')
Pagi yang cukup belia untuk memulai gowesan pertama menuju Car Free Day (CFD). Niat hati mau ikutan main sama teman-teman Komunitas Anak Bawang sambil nostalgia dengan rutinitas lama. Kayuh, kayuh, kayuh tak peduli lagi dengan lelahnya. 

Rute keberangkatan melewati ISI-masuk ke daerah petoran-Mesen-Ps.Gede-Balaikota-Gladak-terus sampai Loji Gandrung. Empat puluh lima menit memanjakan mata dengan nuansa Solo yang pagi tadi sedikit murung. Mengamati orang-orang yang bergegas mengendarai sepeda motornya. Menikmati serunya "berbalapan" dengan bus kota. Membersamai anak-anak kecil dan remaja yang tertawa sambil menggowes sepedanya beramai-ramai. Melongok mbok-mbok pasar dengan dagangannya. Nostalgia bundaran Gladak dengan beberapa aksi yang pernah dilakukan disana. Menahan senyum saat melihat bapak-bapak, ibu-ibu bahkan anak kecil sedang senam. Riuh suara musik, aksi beberapa mahasiswa, pedagang kaki lima dan berpuluh aktivitas ratusan manusia yang saya lihat pagi ini. Sungguh, semuanya teramat memanjakan hati.

Sepeda berhenti di Sriwedari saat melihat pawai Milad (ulang tahun) Muhammadiyah serta pertunjukkan teman-teman keren dari Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Surakarta kemudian sampailah kepada tujuan terakhir stand komunitas anak bawang di seberang Loji Gandrung. Setelah menarik nafas sejenak. Saya mainan Surakarta dengan mbak Rysta dan Bundo Shofia yang hasilnya selalu kalah. Kemudian main lompat tali dan dilanjutkan dengan egrang. Senangnya! Saya jadi ingat tulisan di bannernya teman-teman anak bawang "Aku bermain, maka aku senang". Bukan hanya mainannya aja sih yang bikin senang, tapi karena ada banyak anak-anak, keluarga, sekelompok anak remaja yang ikut bermain dan melihat raut wajah mereka yang gembira maka jadilah sebuah tawa yang menular.

Well, bersenang-senang itu bisa dengan banyak cara dan salah satunya dengan naik sepeda. Selamat hari minggu dan terima kasih semesta untuk suguhan perjalanan "menggowes" yang amat berpeluh tapi memanjakan hati :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...