Nom-noman dalam bahasa Jawa sama artinya dengan anak-anak
muda dalam bahasa Indonesia. Istilah tersebut pertama kali saya kenal di
Klaten, kota tempat saya dilahirkan. Adik sepupu perempuan saya sering berkata
pada saya “Mbak, aku nyinom sek ya” (mbak aku nyinom dulu ya) kemudian dia
berganti pakaian khusus dan berangkat menuju tempat nyinom. Sering, saat adik
saya berangkat nyinom saya merasakan kebosanan luar biasa di rumah Lik saya karena
saya jadi tidak punya teman. Sampai pada sebuah kesempatan saya mengeksplor
lebih jauh mengenai rutinitas nyinom adik saya tersebut dan saya terkagum-kagum
dibuatnya.
Eksplorasi
bermula pada suatu hari saat mbah (nenek sepupu saya) meninggal dunia. Saya di
telpon untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, saya melihat ada banyak
sekali bapak, ibu, dan anak-anak remaja putra ataupun putri membantu proses
pemakaman mbah saya. Semua tetangga, bahkan sampai yang berbeda desa datang ke
rumah Lik saya kemudian membantu segala jenis proses mulai dari pemasangan
tenda, pemandian jenazah, menggali kubur, dan banyak lagi. Saya takjub melihat
semangat bahu-membahu yang berlipat di rumah Lik saya. Kami jadi merasa tidak
sendiri. Sesekali tamu yang datang menanyakan nama saya, ibu, dan bapak saya
dengan ramah. Biasanya saat saya menyebutkan nama beliau berdua, mereka
langsung mengangguk-angguk, tersenyum, memeluk, bahkan ada yang menangis dan
mencium. Beberapa bahkan menceritakan pengalaman mereka dengan saya saat saya
masih kecil, ya walaupun beberapa kenangannya tidak dapat saya ingat dengan
baik. Saya jadi sadar, saudara saya banyak (pake) banget :’)
Eksplorasi
selanjutnya saat sepupu saya menikah dan acara halal bihalal trah H. Muh Ali
(alm. Mbah buyut). Fenomena yang sama saya temukan di rumah Lik saya. Bapak-bapak
dan remaja putra biasanya memasang tenda, mengangkat kursi, piring, sendok,
gelas dan banyak hal lainnya yang memerlukan kekuatan otot. Ibu-ibu dan remaja
putri seperti biasa di dapur. Mengelap piring dan gelas, membuat kue, memasak
nasi, dan banyak hal lainnya. Rutinitas tersebut dilakukan sedari pagi sampai
malam. Beberapa kali kami makan bersama di dapur. Makanannya sederhana tapi
karena di makan setelah bekerja dan sambil berkumpul bersama, rasa makannya
jadi nikmat sekali.
Sebagai
anak yang terdidik di kota besar. Nuansa sinoman membuat saya takjub. Di daerah
sekitar rumah saya, Ibu selalu mendidik saya untuk datang ke rumah tetangga
yang sedang memiliki hajat. Beberapa kali saya datang tapi nuansanya berbeda
sekali. Kalau di kota hanya tetangga-tetangga dekat saja yang ikut membantu,
tapi kalau di desa, beda desa pun tidak menjadi pantangan untuk sedia membantu.
Saat nyinom, ada pakaian khususnya. Apalagi
kalau acara pernikahan. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda batiknya bermotif
beda-beda. Pembagian tugasnya juga beda. Bapak-bapak dan para jejaka biasanya
memasang tenda, sound system, menata
kursi, mengangkat piring, gelas, sendok. Sedangkan ibu-ibu dan para gadis tentu
saja di dapur. Memasak, mengelap piring, sendok, gelas, menata makanan. Apabila
acara dimulai, nanti para jejaka akan membawa nampan dan membagikan pada para
tamu sedangkan para gadis tentu saja menyiapkan hidangan di atas nampan.
Selesai acara pun masih harus membersihkan tempat acara serta beragam
peralatan. Semua dilakukan dengan cepat dan taktis. Bila seseorang sudah
selesai dengan pekerjaannya maka ia akan langsung membantu menyelesaikan
pekerjaan lainnya. Wow! Sinergi yang keren, ya =)
Di balik
itu semua sejujurnya saya sedih ketika kembali ke desa. Sebagian besar yang saya
lihat adalah karang taruna mati suri. TPA sedikit pengajar, dan anak-anak muda
lebih memilih merantau ke kota daripada bertahan dengan budaya sinoman di desanya
dan saya belum banyak memberi apa-apa disana. Kegelisahan ini pun sering saya
sampaikan kepada Ibu bahwa dalam tradisi sinoman yang mengagumkan tersebut, jumlah
pemuda/i-nya sedikit dibandingkan para tetua desa. Padahal menurut saya, tradisi
sinoman tersebut dapat jadi fasilitas memenuhi tugas perkembangan remaja sampai
dengan dewasa awal. Lik saya saja ketemu jodohnya gegara acara nyinom di
rumah tetangganya.
Salute!
Untuk muda-mudi Desa Ngablak, Klaten. Dari beberapa tempat yang saya amati.
Muda-mudi disana masih sering kumpul bareng. Arisan juga rutin. Kalau ada yang
punya hajat muda-mudinya masih banyak yang membantu. Diakhir, saya cukup
bangga. Setidaknya saya pernah terlibat kegiatan nyinom di desa saya tersebut. Rasanya sih capek tapi seru.
Komentar
Posting Komentar