Langsung ke konten utama

Dedicated for my best bolang friend

Dear, Arianne Kresandini

Better late than never, ya...

Anne, ingat gak waktu kita pertama kali ketemu di tower climbing Bumi Perkemahan Cibubur tahun 2007? Alhamdulilah ya Ne, ternyata sudah tujuh tahun persahabatan kita. Walaupun selalu berjarak, tapi gak pernah menghalangi upaya-upaya kita untuk terus merawat komunikasi. Dulu kamu sekolah di Jakarta Timur, aku di Jakarta Selatan. Sekarang kamu kuliah di Yogyakarta dan aku di Solo.

Tulisan ini semoga bisa menyampaikan apa-apa yang tidak sempat lisan utarakan langsung ya, Ne. Insya Allah tanpa mengurangi rasa syukur pada hari saat kamu diberikan kesempatan lahir di dunia, ya. Oh, iya... Aku punya sedikit karya buatmu, Ne. Tidak sebagus karya buatanmu sih. Semoga bisa membuat senyum di wajahmu ya.

Ada buku catatan, ada sendal track, ada bis.
Itu semua cukup untuk mengingat banyak tempat yang kita kunjungi
Kalau pada hari kemarin sudah banyak yang membanjirimu dengan selamat, maka aku menggantinya dengan doa saja ya, Ne. Semoga Anne semakin bermanfaat untuk orang-orang disekelilingnya. Menjadi kebanggaan keluarga, teman-teman TNB, sahabat-sahabat Retno, Arri, Aziz, dan semua orang-orang terbaiknya. Suatu hari nanti semoga kita bisa karya bareng ya, Ne. Dibilangan usia yang semakin berkurang ini, semoga kita senantiasa bisa menjemput hikmah dalam setiap perjalanan dan pembelajaran. Waktu kita tidak banyak Ne di dunia. Ada sebuah kata yang membayangi di setiap detik waktu berputar. Kematian. Kita tak pernah tahu kapan datangnya. Semoga saat tiba masanya, kita benar-benar siap ya, Ne :’)

Terus berkarya ya wahai sahabat ngebolang. Ada banyak orang yang menanti karya kita, Ne. Bergegas mengentaskan setiap malas yang kian ganas. Semoga kebaikan selalu mengiringi hari-hari, Anne. Sampai jumpa lagi, Ne. Insya Allah.

Kos Candra Dewi 3
Solo, 25 Maret 2014
Titis S. Wijayanti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...