Allah memberi kita dua
jingga. Satu sebagai Fajar dan satu lagi sebagai Senja. Diantara keduanya, ada
banyak hikmah yang terserak.
Setelah
dua hari di Banyuwangi. Akhirnya, langit bersahabat kepada kami. Warna jingga
sore itu indah sekali. Padahal sebelumnya sempat turun gerimis. Memori saya
merekam dengan baik beberapa puncak bukit di kejauhan sana. Entah kenapa, warna
jingga selalu menyisakan perasaan spesial di benak saya. Suguhan Allah yang
nikmatNya tidak pernah terdustakan. Telusup harap sesekali muncul agar senantiasa
bisa menikmati jingga dengan orang-orang terbaik dalam hidup dan mati saya
kelak.
Well, ba’da Isya dan makan
malam, kami melekaskan diri untuk rehat. Sebelumnya saya sempat mencuri dengar
perbincangan salah satu rekan perjalanan dengan seorang
penambang belerang.
Di Kawah Ijen ada banyak sekali penambang belerang. Hampir
semua yang saya temui berjenis kelamin laki-laki. Seorang pendaki pemula membutuhkan
waktu 2 – 2,5 jam untuk sampai di kawah. Bapak-bapak tersebut setiap hari, bisa
2 sampai 3 kali naik ke kawah kemudian turun memikul berkilo-kilo belerang. Tak
jarang pundak mereka terlihat bungkuk. Belum lagi resiko gangguan pernapasan
karena menghirup banyak belerang walaupun mereka memiliki alat bantu pernapasan
untuk mengurangi bau menyengat belerang.
Bapak
penambang pasir bercerita banyak hal soal profesi yang digelutinya. Ah, bapak. Kerja-kerja keras itu saya
yakin dipersembahkannya untuk mereka yang selalu setia menanti di rumah. Siapa
lagi kalau bukan istri dan anak-anaknya. Insya Allah penuh berkah ya, Pak. Tak
heran, kalau banyak negarawan di Indonesia yang justru lahir dari mereka yang
Ayah dan Ibunya teramat sederhana, tapi gigih mendidik, keras bekerjanya untuk
anak-anaknya. Hipotesis saya, mereka
belajar kesungguhan mencintai Indonesia dari nilai-nilai yang diteladankan
orang tua mereka. Mendengar cerita seorang Bapak atau Ibu tentang anak-anaknya
dalam berbagai perjalanan yang saya lakukan membuat saya teringat Bapak dan Ibu
di rumah. Sebelum mata saya terpejam, saya sempat mengintip si Bapak memberikan
alat bantu pernapasan yang dimilikinya untuk mengurangi bau belerang kepada
rekan pendakian saya. Adegan itu benar-benar membuat saya rindu dengan Bapak.
Cinta seorang Ayah memang selalu sempurna pada anaknya, bahkan yang bukan darah
dagingnya sendiri. Setidaknya itu kesimpulan saya kepada mereka yang memang
benar-benar paham dengan label Ayah.
Pukul
01.00 alarm berbunyi. Setelah proses bangun yang cukup “berat” akhirnya kami
siap muncak. Track menuju kawah Ijen cukup lebar di awal-awal perjalanan.
Sesekali kami istirahat melemaskan kaki. Ini adalah pendakian terenak buat saya. Sebab, isi ransel
saya ringan dan track perjalanan yang
bersahabat. Dua jam sekian menit kami akhirnya sampai di kawah Ijen yang
sesungguhnya. Blue fire sudah terlihat.
Keistimewaan kawah Ijen adalah suguhan blue
fire pada waktu-waktu menjelang terbitnya matahari. Keren!
| Dini hari di Kawah Ijen, bulan masih berpendar |
| Kawah Ijen |
Alhamdulilah.
Dulu, saya hanya bisa melihat kawah Ijen di film King dan dini hari itu saya
berada di atas kawahnya sambil menanti fajar pertama pulau Jawa. Warna langit
yang khas dari beberapa gunung yang pernah saya daki.
| Menanti Matahari Terbit Pertama Pulau Jawa |
| Tim Kawah Ijen |
Puas
berfoto-foto, kami pun turun dan bergegas pulang. Tim kawah Ijen berpisah.
Rombongan FISIP UNS dan UGM pulang sore itu sedangkan kami pulang esok harinya.
Sepulang dari kawah Ijen kami sempat di ajak ke sebuah pantai untuk makan ikan
bakar bersama. Keesokan harinya pukul 06.00 kami menuju stasiun. Saat
perjalanan menuju stasiun, lagi-lagi semesta bersahabat. Saya bisa melihat
pemandangan gunung Raung di kejauhan, bukit-bukit yang mengelilingi, sawah
hijau dengan segenap perasaan norak yang
saya miliki.
Tuuuuut...kereta
Sri Tanjung menuju Solo melaju. Saya ingat pesan teman saya saat berangkat
bahwa kalau ada matahari kita bisa melihat sebuah pemandangan keren dari dalam
kereta. Saya sempat terjerat kantuk beberapa menit, namun ketika bangun saya
benar-benar melihat tebing-tebing itu. Saya langsung menyetel lagu Bryan Adams
– This is where i belong untuk menambah kesyahduan saya “and wherever i wander the one thing i’ve learn it’s to here i’ll always
return”. Here untuk Indonesia,
jika kelak Allah mengizinkan saya menjemput mimpi untuk menuntut ilmu ke Jepang,
Turki, ataupun Malaysia, Indonesia adalah sebaik-baik tempat kembali.
***
Pisang
goreng, sayup-sayup angin dari jendela kereta, dan lagu-lagu Bryan Adams adalah
perpaduan yang pas untuk melepat penat alias tidur dalam perjalanan menuju
Solo. Terima kasih Pemilik Semesta, semoga masih ada kesempatan untuk
menjelajah bumi Indonesia lainnya, sendiri, denganmu, mereka, siapapun ;)
Semua foto di ambil oleh Fanyo Yoga Satriya.
Komentar
Posting Komentar