Langsung ke konten utama

Jingga Pertama Pulau Jawa – [end]

Allah memberi kita dua jingga. Satu sebagai Fajar dan satu lagi sebagai Senja. Diantara keduanya, ada banyak hikmah yang terserak.

Setelah dua hari di Banyuwangi. Akhirnya, langit bersahabat kepada kami. Warna jingga sore itu indah sekali. Padahal sebelumnya sempat turun gerimis. Memori saya merekam dengan baik beberapa puncak bukit di kejauhan sana. Entah kenapa, warna jingga selalu menyisakan perasaan spesial di benak saya. Suguhan Allah yang nikmatNya tidak pernah terdustakan. Telusup harap sesekali muncul agar senantiasa bisa menikmati jingga dengan orang-orang terbaik dalam hidup dan mati saya kelak.  
 
Jingga di Kawah Ijen
Well, ba’da Isya dan makan malam, kami melekaskan diri untuk rehat. Sebelumnya saya sempat mencuri dengar perbincangan salah satu rekan perjalanan dengan seorang penambang belerang. Di Kawah Ijen ada banyak sekali penambang belerang. Hampir semua yang saya temui berjenis kelamin laki-laki. Seorang pendaki pemula membutuhkan waktu 2 – 2,5 jam untuk sampai di kawah. Bapak-bapak tersebut setiap hari, bisa 2 sampai 3 kali naik ke kawah kemudian turun memikul berkilo-kilo belerang. Tak jarang pundak mereka terlihat bungkuk. Belum lagi resiko gangguan pernapasan karena menghirup banyak belerang walaupun mereka memiliki alat bantu pernapasan untuk mengurangi bau menyengat belerang.

Bapak penambang pasir bercerita banyak hal soal profesi yang digelutinya. Ah, bapak. Kerja-kerja keras itu saya yakin dipersembahkannya untuk mereka yang selalu setia menanti di rumah. Siapa lagi kalau bukan istri dan anak-anaknya. Insya Allah penuh berkah ya, Pak. Tak heran, kalau banyak negarawan di Indonesia yang justru lahir dari mereka yang Ayah dan Ibunya teramat sederhana, tapi gigih mendidik, keras bekerjanya untuk anak-anaknya. Hipotesis saya, mereka belajar kesungguhan mencintai Indonesia dari nilai-nilai yang diteladankan orang tua mereka. Mendengar cerita seorang Bapak atau Ibu tentang anak-anaknya dalam berbagai perjalanan yang saya lakukan membuat saya teringat Bapak dan Ibu di rumah. Sebelum mata saya terpejam, saya sempat mengintip si Bapak memberikan alat bantu pernapasan yang dimilikinya untuk mengurangi bau belerang kepada rekan pendakian saya. Adegan itu benar-benar membuat saya rindu dengan Bapak. Cinta seorang Ayah memang selalu sempurna pada anaknya, bahkan yang bukan darah dagingnya sendiri. Setidaknya itu kesimpulan saya kepada mereka yang memang benar-benar paham dengan label Ayah.

Pukul 01.00 alarm berbunyi. Setelah proses bangun yang cukup “berat” akhirnya kami siap muncak. Track menuju kawah Ijen cukup lebar di awal-awal perjalanan. Sesekali kami istirahat melemaskan kaki. Ini adalah pendakian terenak buat saya. Sebab, isi ransel saya ringan dan track perjalanan yang bersahabat. Dua jam sekian menit kami akhirnya sampai di kawah Ijen yang sesungguhnya. Blue fire sudah terlihat. Keistimewaan kawah Ijen adalah suguhan blue fire pada waktu-waktu menjelang terbitnya matahari. Keren!

Dini hari di Kawah Ijen, bulan masih berpendar
Kawah Ijen
Alhamdulilah. Dulu, saya hanya bisa melihat kawah Ijen di film King dan dini hari itu saya berada di atas kawahnya sambil menanti fajar pertama pulau Jawa. Warna langit yang khas dari beberapa gunung yang pernah saya daki.

Menanti Matahari Terbit Pertama Pulau Jawa
Tim Kawah Ijen
Puas berfoto-foto, kami pun turun dan bergegas pulang. Tim kawah Ijen berpisah. Rombongan FISIP UNS dan UGM pulang sore itu sedangkan kami pulang esok harinya. Sepulang dari kawah Ijen kami sempat di ajak ke sebuah pantai untuk makan ikan bakar bersama. Keesokan harinya pukul 06.00 kami menuju stasiun. Saat perjalanan menuju stasiun, lagi-lagi semesta bersahabat. Saya bisa melihat pemandangan gunung Raung di kejauhan, bukit-bukit yang mengelilingi, sawah hijau dengan segenap perasaan norak yang saya miliki. 

Tuuuuut...kereta Sri Tanjung menuju Solo melaju. Saya ingat pesan teman saya saat berangkat bahwa kalau ada matahari kita bisa melihat sebuah pemandangan keren dari dalam kereta. Saya sempat terjerat kantuk beberapa menit, namun ketika bangun saya benar-benar melihat tebing-tebing itu. Saya langsung menyetel lagu Bryan Adams – This is where i belong untuk menambah kesyahduan saya “and wherever i wander the one thing i’ve learn it’s to here i’ll always return”. Here ­untuk Indonesia, jika kelak Allah mengizinkan saya menjemput mimpi untuk menuntut ilmu ke Jepang, Turki, ataupun Malaysia, Indonesia adalah sebaik-baik tempat kembali.

***


Pisang goreng, sayup-sayup angin dari jendela kereta, dan lagu-lagu Bryan Adams adalah perpaduan yang pas untuk melepat penat alias tidur dalam perjalanan menuju Solo. Terima kasih Pemilik Semesta, semoga masih ada kesempatan untuk menjelajah bumi Indonesia lainnya, sendiri, denganmu, mereka, siapapun ;)

Semua foto di ambil oleh Fanyo Yoga Satriya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...