Semua bermasa. Setiap zaman memiliki sejarah
sekaligus pengukirnya. Disadur dalam salah satu surat kabar elektronik Isma
Mesir bahwa pemuda adalah tiang kekuatan suatu negara. Mahasiswa keseluruhan
adalah pemuda. Siapa yang mampu mengawal mahasiswa, dia telah mengawal hampir
seluruh pemuda di sebuah negara. Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa mengambil
langkah cerdas dengan program Beasiswa Aktivis Nusantara-sebagai investasi
sumber daya manusia yang mengelola biaya untuk pendidikan, pembinaan dan
pelatihan, serta pendampingan bagi aktivis mahasiswa.
Sepuluh orang mahasiswa UNS dihimpun, kemudian
dipahamkan untuk belajar merawat Indonesia. 30 Maret 2013 di Lantai merah,
Fakultas Kedokteran UNS merupakan awal pertemuan yang canggung. Berlanjut pada
foto bersama dan pembuatan video untuk Temu Nasional yang mengundang tawa
setiap kali di ingat-ingat. Kemudian temu pekanan, pembahasan ACBI yang cukup
pelik di Danau Pertanian, training value,
training jurnalistik, pembuatan
majalah ACBI, kunjungan tokoh, aksi ACBI di Car
Free Day, Bakti Sosial, Kongres Negarawan Muda Indonesia di Bogor,
perjalanan Solo-Jogja, deadline laporan bulanan, penulisan buku Presiden
Negarawan, bedah buku, dan akhirnya kemarin seleksi Bakti Nusa angkatan 4. Tantangan
mengumpulkan aktivis-aktivis kampus adalah manajemen diri yang baik.
Menyeimbangkan urusan akademik, organisasi, dan lain-lainnya. Semua menuntut
porsi yang sama. Belum lagi, karakter khas aktivis “ngeyelan” satu sama lain.
Mendewasakan diri untuk belajar berbesar hati dan mau menerima pendapat orang
lain.
| Foto Perdana sebelum Temu Nasional |
![]() |
| Bedah Buku Belajar Merawat Indonesia bersama Mas Romy |
![]() |
| Bakti Nusa UNS bersama Amar dan Ayu BA UI |
![]() |
| Yogyakarta sore-sore |
Setahun berlalu. Bukan seberapa cepat waktu
bergulir, namun apa-apa yang sempat kita lakukan dan perjuangkan sebelum waktu
kita habis. Dalam kumpulan hari yang tidak sedikit itu, kami saling belajar.
Ada yang dengan kedewasaan mengajari arti kesabaran. Ada pula yang karena
semangatnya memahamkan arti lelah, bukan melalui perkataan tapi tindakan. Dia
yang diam namun penuh kepedulian serta ikhlas bekerja. Yang keras kepala
sekaligus bijaksana, mengajarkan berlaku hikmah. Ada yang karena
ketidakhadirannya mengajarkan arti kesungguhan pun ada yang dari prestasi-prestasi yang dimiliki
mengajarkan kebersahajaan dan kesederhanaan.
Mas Budianto, Direktur Beastudi Indonesia
kemarin berpesan bahwa ada ataupun tidak kita dalam program beasiswa ini,
jangan pernah berhenti untuk memberdayakan masyarakat. Masih banyak sekali
ruang untuk berkontribusi sekalipun tidak di dalam suatu lembaga. Semoga bekal
satu tahun dalam masa-masa pembinaan dalam “lingkaran cahaya” ini kelak berbuah
kehangatan bagi masyarakat di manapun kita berada.
Di akhir. Terima kasih teman-teman sudah
menginspirasi. Pegang terus “kunci”nya ya. Jangan pernah takut jika nanti di
tempat lain, ada mata-mata yang menganggap kerja-kerja ini tiada berarti. Biar
saja, arti memang tidak untuk dipamerkan. Jika itu tidak sampai kepada orang
lain, sesungguhnya itu berbuah dalam diri. Selamat menularkan “cahaya” lebih
banyak lagi kepada yang lainnya ya. Tetap dinamis, produktif, jaya.
Kepada mas Krisna Dwipayana, terima kasih atas bimbingannya, sabarnya, semuanya ya (y)
Titis S. Wijayanti



Komentar
Posting Komentar