Ding
dong ding...
Suatu
siang di masa lalu. Pulang sekolah, ada rutinitas yang kerap dilakukan.
Menjemput adik dan memastikan dia sudah makan siang. Usainya, adik biasa pamit
bermain di tetangga sebelah. Beruntungnya, Ibu pulang jualan lebih cepat
daripada biasanya. Tak lama kemudian, kakak pun sampai di rumah dari
sekolahnya.
Ketika
tiba saat makan siang setelah menuntaskan kewajiban, terjadilah pertengkaran
kakak beradik. Permasalahan sepele.
Ibu kemudian turun tangan memberi nasihat.
“Berantem
terus. Sampai kapan mau berantem terus?”
“Bukan
salah aku, dia duluan yang mulai. Gak pernah
mau kalah”
“Apa
bedanya sama kamu. Sampai kapan mau berantem terus?”
(diam)
“Kalau
Ibu sama Bapak gak ada. Kamu masih
mau berantem? Kakak dan adik itu harus saling menyayangi. Gak pareng di lihat dan di dengar. Kalau mbak gak ngalah, ya kamu yang ngalah.
Kalau kalian akur, kan senang Ibu
liatnya.”
“Kok
Ibu begitu ngomongnya?”
“Ya
Ibu mau ngomong apalagi. Kamu kan sudah
tau, kalau semuanya itu pasti meninggal, lah
kalau pas gilirannya Ibu sama
Bapak, kalian masih mau sering berantem?”
(diam)
“Udah
makan dulu, besok minta maaf sama mbakmu”
Nasihat
itu mengendap di salah satu ruang hati. Pemahaman tentang hidup lagi-lagi hadir
dari nasihat-nasihat Ibu. Bukan hanya kakak yang harus sering ngalah sama adiknya. Itu pasti dilakukan
oleh seorang kakak, untuk adiknya. Tanpa adiknya pernah menuntut. Tapi,
adakalanya adik pun harus mengalah, harus mengerti bagaimana kondisi hati
kakaknya. Semuanya “saling”. Tidak sepihak.
Kepada
para kakak, kadang adik sering lalai, nakal, tidak bisa di atur, tak acuh dan
banyak tindakan mengesalkan ataupun melukai hati. Maafkan ya. Sebagaimanapun,
adik tidak akan pernah lupa akan teladan, ilmu, kasih sayang, pengorbanan, apapun
itu. Kepada kakak, dimanapun kamu semoga maaf ini tersampaikan. Terima kasih ya
kak.
Komentar
Posting Komentar