Langsung ke konten utama

Obrolan Meja Makan [3]

Ding dong ding...
Suatu siang di masa lalu. Pulang sekolah, ada rutinitas yang kerap dilakukan. Menjemput adik dan memastikan dia sudah makan siang. Usainya, adik biasa pamit bermain di tetangga sebelah. Beruntungnya, Ibu pulang jualan lebih cepat daripada biasanya. Tak lama kemudian, kakak pun sampai di rumah dari sekolahnya.

Ketika tiba saat makan siang setelah menuntaskan kewajiban, terjadilah pertengkaran kakak beradik. Permasalahan sepele. Ibu kemudian turun tangan memberi nasihat.  

“Berantem terus. Sampai kapan mau berantem terus?”
“Bukan salah aku, dia duluan yang mulai. Gak pernah mau kalah”
“Apa bedanya sama kamu. Sampai kapan mau berantem terus?”
(diam)
“Kalau Ibu sama Bapak gak ada. Kamu masih mau berantem? Kakak dan adik itu harus saling menyayangi. Gak pareng di lihat dan di dengar. Kalau mbak gak ngalah, ya kamu yang ngalah. Kalau kalian akur, kan senang Ibu liatnya.”
“Kok Ibu begitu ngomongnya?”
“Ya Ibu mau ngomong apalagi. Kamu kan sudah tau, kalau semuanya itu pasti meninggal, lah kalau pas gilirannya Ibu sama Bapak, kalian masih mau sering berantem?”
(diam)
“Udah makan dulu, besok minta maaf sama mbakmu”

Nasihat itu mengendap di salah satu ruang hati. Pemahaman tentang hidup lagi-lagi hadir dari nasihat-nasihat Ibu. Bukan hanya kakak yang harus sering ngalah sama adiknya. Itu pasti dilakukan oleh seorang kakak, untuk adiknya. Tanpa adiknya pernah menuntut. Tapi, adakalanya adik pun harus mengalah, harus mengerti bagaimana kondisi hati kakaknya. Semuanya “saling”. Tidak sepihak.


Kepada para kakak, kadang adik sering lalai, nakal, tidak bisa di atur, tak acuh dan banyak tindakan mengesalkan ataupun melukai hati. Maafkan ya. Sebagaimanapun, adik tidak akan pernah lupa akan teladan, ilmu, kasih sayang, pengorbanan, apapun itu. Kepada kakak, dimanapun kamu semoga maaf ini tersampaikan. Terima kasih ya kak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...